DIY Toys

Yaqdzan 1st Day School

“Kertas ikan aku mana? Nanti liatin ayah ya”

Yes! Alhamdulillah Yaqdzan’s 1st day school..

Kegalauan saya selama ini mulai dari pola tidurnya Yaqdzan, kemandirian dan sosialisasinya. Alhamdulillah bisa dijalankan satu persatu. Si bocah yang sering begadang karena ngikut ritme orang tuanya juga sih, nemenin ayah belajar jadi bangun kesiangan. Dan parahnya lagi kami sebagai orang tua malas membangunkan anak dipagi hari. Membangunkan anak disaat azan subuh berkumandang, ya yang saya fikirkan hanya repot. Padahal saya tau betul teori parenting, bagaimana membiasakan anak untuk mengajarkan waktu sholat sejak dini bahkan dari bayipun anak sudah memiliki alarm bangun sendiri entah sekedar mengolet atau bergerak merengek lalu disusui dan ditidurkan kembali.

Berkolaborasi dengan ayahnya saling mensupport kami sepakat untuk membangunkan Yaqdzan disaat azan subuh lalu mengajaknya ke mesjid. Awalnya saya berfikir lagi pules-pulesnya tidur jika dibangunkan kasian dan mungkin susah dibangunkan *tepokjidat. Waah dugaan saya salah besar, membangunkan 2-3 kali Yaqdzan sudah bangun, kadang masih ngantuk dan sempoyongan ngambil sarung dia bilang “aku mau ke mesjid sama ayah” 😢

Yang awalnya berat membangunkannya alhamdulillah Allah ringankan, walaupun kadang terbesit ah ga usah dibangunkan. Sekitar 2 minggu untuk memaksakan diri melawan bisikan syetan, perlu pembiasaan Alhamdulillah si bocah sekarang sudah bisa bangun pagi. Semoga Allah menjaga kami dalam kebaikan.

Next..
Tantangan berikutnya adalah tentang kemandirian dan sosialisasi, medianya adalah sekolah. Banyak dari teman-teman yang mempertanyakan “Yaqdzan full homeschooling?” Heuheu

Usianya yang kini 3.5 tahun memang belum pernah bersekolah bahkan planning kami adalah full dirumah dulu minimal menjelang sekolah dasar. Di rumah kami memang punya agenda bermain setiap hari, entah hanya membuat prakarya sederhana, engineering project ala balita, bermain sains dll. Tak lupa kami selalu mengajak Yaqdzan untuk aktivitas diluar entah bertemu teman sebaya dimesjid, ikutan outing dari Tk dan ikut bundanya berkegiatan diluar. Bersosialisasi dengan teman makin hari makin baik, punya inisiatif untuk menyapa teman baru walau dengan cara memelet, observasi dan akhirnya ketawa bareng it’s oke.

Dari planning awal seperti ini, ternyata Allah punya rencana lain. Di usia 4 tahun nanti insya allah kami akan menemani ayahnya yang melanjutkan master dinegeri kincir angin. Sesuai dengan aturan negara tersebut mewajibkan anak usia 4 tahun basis school. Kalau diindonesia setara dengan SD karena sekolah dasar dibelanda selama 8 tahun. Hanya untuk kelas 1, 2 basis school kurikulumnya masih setara dengan playgroup di indonesia.

Woow wajib sekolah! Senang, haru, bercampur sedih. Si bocah yang biasanya selalu ngikutin emaknya nanti bakal berpisah disaat jam sekolah. Mulailah kami untuk sounding,

B: “eh yaqdzan mau sekolah ga?”
Y: “Ga mau”
B: “disekolah banyak teman dan mainan loh!”
Y: “tapi bunda ikut ga?”
B: ” nanti bunda antar dan jemput lagi”
Y: “nanti kalau aku malu gimana ga ada bunda”
B: “hahaha”

Kaget juga ternyata dari dialog kami, terlihat kalau si bocah sudah bisa menganalisa, berpikir ke arah sana. Baiklah..

Palembang, april 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *