DIY Toys

Engineering sederhana (sterofoam + tusuk gigi)

Persiapan engineering project hari ini, diawali dengan proses memotong sterofoam. Tentunya saya yang akan mengerjakan, mengingat si bocah yang masih beresiko tinggi dan saya ga akan menyuruh Yaqdzan untuk mencobanya. Melihat bundanya memotong – motong si bocah tiba-tiba bilang ” yaqdzan aja”. Whaaat?? Sayapun bengong bercampur khawatir.

Sebelumnya Yaqdzan sudah saya perkenalkan beberapa benda berbahaya dan tajam. Salah satunya gunting dia sudah lihai menggunakannya walaupun tetap harus dipantau dan pisau cake yang lumayan tajam yang pernah Yaqdzan gunakan. Baiklah akhirnya saya mengijinkan Yaqdzan menggunakan cutter dibawah pantauan extra ketat dan “hati-hati ini pisau tajam..hati-hati kena tangan ya..hati-hati” berkali-kali saya mengungkap ini (*emak super bawel).

Si bocah ternyata terlihat asik dan santai, emaknya yang tegang :D. Tentunya masih dibantu mengarahkan posisi cutter dan jarak tangan, sesekali posisi cutter benar dan banyakny terbalik haha..

Untuk usianya yang 4 tahun dan sudah mengerti banyak hal, saya yakin Yaqdzan cukup faham dan hati-hati  dengan pesan yang saya sampaikan. Tugas sayapun memberikan kepercayaan kepada anak dan mendampinginya.
Urusan cutter beres!! Lanjut step berikutnya..
Ini merupakan ide bermain sendiri, meretelin (*bahasa apa sih?) sterofoam sampai diam tak bergeming 😀 Permainan ini menstimulasi sensory anak, melibatkan banyak indera serta menstimulasi otot-otot jari. Si bocah menyebutkan nasi (*laaah 😂), dimasukkan kedalam cup tusuk gigi lalu dimasak celotehnya.

Baiklah..sampai pada tujuan utama permainan ini, belajar engineering sederhana. Membentuk suatu bangun ruang menggunakan potongan sterofoam dan tusuk gigi. Emak yang memulai lalu si bocah mengikuti. Cuma beberapa kali tusukan bocahnya melipir ngurusin printilan sterofoam balik lagi meretelin (ya ampun :D).


Seperti inilah proses bermain yang sering kami alami, terkadang kita punya tujuan yang saklek padahal anak belajar banyak hal secara alami. Menumbuhkan ide kreatifitas sendiri, proses belajar sendiri dan tugas utama kita adalah mendampingi. Pada akhirnya saya banyak belajar dari bos kecil ini 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *