Cerita Yaqdzan & Faiha,  Sekolah Anak

Bagaimana Adaptasi Yaqdzan Bersekolah Di Negeri Asing?

The child’s conquest of independence begins with his first introduction to life.  While he is developing, he perfects himself and overcomes every obstacle that he finds in his path.  A vital force is active within him, and this guides his efforts towards their goal.  It is a force called the ‘horme’, by Sir Percy Nunn.”  (The Absorbent Mind, Chapter 8, p. 83).

Segelintaran pertanyaan disaat mengantarkan anak sekolah di negeri asing adalah bagaimana cara anak beradaptasi terhadap lingkungan  terutama bahasa dan apa yang harus dipersiapkan orang tua. Inipun menjadi pengalaman baru bagi kami di pekan – pekan pertama Yaqdzan sekolah. Sekolah perdana di negeri perantauan dengan banyak perbedaan.

Adaptasi

1. Adaptasi lingkungan

Adaptasi pertama yang kami alami di hari pertama sekolah bukan soal adaptasi bahasa tapi tentang salah satu budaya kemandirian di sekolah yang tidak biasa dan jauh diluar ekspektasi saya. Budaya kemandirian anak di sekolah yang tidak boleh sama sekali ditungguin orang tua. Hari pertama sekolah kami masih diizinkan guru 1 jam di kelas lalu guru menyuruh kami meninggalkan kelas. Baru saja keluar kelas, Yaqdzan mencari keberadaan kami dan teriak menangis. Kamipun masih standby di depan kelas memberi sinyal tentang keberadaan kami kepada guru dan sang guru hanya  tersenyum pertanda semuanya baik – baik saja. Dan saya melihat Yaqdzan digendong oleh gurunya. Beberapa saat kemudian datang staf lain, “anda silakan pulang dan kalau ada apa-apa kami akan hubungi”. Hah? kaget! Perjalanan saya keluar dari gedung sekolah bahkan menjauh dari lingkungan sekolah bercampur aduk dan tidak fokus, suami berusaha menghibur dan mengungkapkan logikanya kalau sekolah pasti punya cara sendiri dan berpengalaman menangani anak dari berbagai negara.

Yang terpikirkan saat itu apakah anak baik-baik saja? dengan cara seperti ini apakah anak tidak kapok untuk sekolah? Apakah anak lain mengalami hal yang sama? Banyak rasa dan praduga di hati dan kembali meyakinkan diri untuk percaya pada pihak sekolah. Berharap banyak kemudahan dengan tantangan baru ini. Peristiwa ini berulang sampai hari k-3 sekolah karena bertemu dengan guru baru dengan keunikan cara mereka pdkt pada anak.

2. Adaptasi orang tua

Beberapa peraturan yang diberlakukan sekolahpun menjadi adaptasi tersendiri bagi kami di rumah. Diantaranya, sekolah yang bersifat wajib dan ontime mengantar dan menjemput anak walaupun berangkat sekolah masih agak gelap menembus dinginnya cuaca. Pagar sekolah yang selalu ontime terbuka dan tertutup meskipun kami kehujanan dan kedinginan di depan pagar saat datang terlalu awal hehe.. Mempersiapkan bekal sekolahnya, roti, dan buah potong yang sebenarnya ini bekal paling simple dibandingkan masakan nusantara tapi butuh proses pembiasaan bagi Yaqdzan. Mengatur jam tidur & bangun anak mengingat sekolahnya yang full day dan awal-awal memang terlihat lelah sekali. Termasuk berkomunikasi di pagi hari disaat mengerjakan standart pagi (sarapan, mandi, mengexplore mainan dll) yang dituntut untuk lebih sigap lagi.

3. Adaptasi rutinitas harian Yaqdzan

Rutinitas harian di Indonesia yang memang belum bersekolah diantaranya, bermain membuat project sederhana, pembiasaan untuk bersama Al quran dan waktu bersama buku. Sampai saat inipun kami masih beradaptasi untuk mengatur jadwal ini terutama membaca iqra yang membutuhkan energi berfikir bagi anak.

4. Adaptasi bahasa

Loh? Ternyata adaptasi bahasa bukan kendala utama meskipun penting tapi anak beradaptasi dengan cepat. Anak – anak yang memang dunianya bermain, dengan bahasa tubuh dan bergembira mereka cepat sekali berteman. Kendalanya hanya hari – hari pertama sekolah, Yaqdzan bercerita kalau di sekolah pengen minum dan pipis tapi teman dan gurunya ga ada yang ngerti. Dari hari ke hari Yaqdzan cukup enjoy dan mengerti banyak hal, terkadang bercerita yang sepotong-potong menggunakan bahasa di sekolah “nee..nee..nee, goed zo, what are you doing” bahasa Inggris dan Belanda yang diserap dari teman-temannya.

Respon Yaqdzan selama sekolah

Berikut rekam jejak Yaqdzan yang saya simak setiap pulang sekolah, sekaligus menjadi evaluasi kami dari hari ke hari. Mensupport dan membesarkan hatinya untuk senang ke sekolah dan mencari solusi yang dihadapinya.

Day 1 dikasih guru kartu dan stiker, aku pengen minum tapi gurunya ga ngerti, tadi nonton dan main sepeda tapi aku ga mau sekolah lagi.
Day 2 ditemanin kak Mentari, emang kak Mentari ga sekolah? Aku mau sekolah tapi bunda di kelas.
Day 3 (masuk setengah hari karena paginya jadwal cek TBC) dikasih stiker, kalau aku nangis digendong ibu guru.
Day 4 (waktu pamitan udah ga nangis walau wajah cemas).
Day 5 ijin ga masuk batuk pilek berat dan badan sumeng karena 2 hari kehujanan.
Day 6 pilih main puzzle di board, dikasih sertifikat sholat, aku nahan pipis ditaman karena temannya ga ngerti, main sepeda, main puzzle.
Day 7 menggambar, main playdough, duduk dikursi hijau, roti dan pisangnya ga habis karena di kelas ga balapan.
Day 8 main lego, menggambar, perosotan, dikasih kartu & stiker, playdough, waktu di taman aku bilang pengen plash (pipis) ke temannya dia baru ngerti, roti isi daging ham habis, pisang 4 potong. Malamnya bilang aku mau sekolah sekarang, main kelereng yang bisa muter.
Day 9 pakai sepatu gym kalau terbalik dibantu teman, diruangan gym melompat, melempar, berlari. Di taman main perosotan, manjat. Roti dagingnya habis tapi pisang ga dimakan karena ga ada garpunya. Pipis sendiri dan di kasih kartu & stiker sama ibu guru. Aku main sama teman trus teman satu lagi narik tangan yaqdzan, dia pengen main juga sama yaqdzan.
Day 10 baca buku, coret2, main puzzle, main perosotan diluar, sekelompok sama alper, Aathif, Beyza dan  sering dibantuin Alper. Kalau buka jaket gini caranya, biar ga kebalik dan biar nanti ga dibantuin temannya lagi.
Day 11 ibu guru bilang “goed zo yaqdzan”. Bunda bilangin sama Beyza kalau aku main puzzle ga usah dibantuin. Alper bawa anggur & apel, Aathif bawa anggur, Beyza bawa apel. Aku bawa pisang tapi dimakan dikit.

Karya di sekolah

Tiga hari pertama dengan penolakannya ke sekolah tentu jadi tantangan sendiri bagi kami. Hari pertama adalah diskusi terlama, saya memberi pemahaman kalau guru di sekolah itu sebagai pengganti orang tua yang sayangnya sama seperti ayah bunda. “Eh katanya kalau Yaqdzan nangis digendong ya sama ibu guru, wah baik banget gurunya”, canda saya membesarkan hatinya. Lalu saya bercerita kalau di sekolah banyak mainan, bisa membantu teman, datang ke sekolah dapat pahala dan disayang Allah. Si bocah tampak mengerti dan matanya berbinar semangat melanjutkan ceritanya. Kemudian kami menemukan kendala kalau kebutuhan pribadinya seperti pipis, minum tidak dimengerti di sekolah. Perlahan memperkenalkan beberapa kosakata baru dan bekerja sama dengan guru. Sounding..sounding..sounding adalah hal yang rutin dilakukan di rumah. Anak-anak terlihat tidak mengerti tapi ternyata sangat faham melebihi dugaan ortu.

Tips untuk senang ke sekolah
1. Orang tua

Banyak mendengar, menyimak dan membesarkan hatinya sepulang sekolah termasuk menyediakan beberapa surprise,  diantaranya membuat cemilan kesukaannya, memberi hadiah bintang, dan termasuk membeli mainan 4 hari bersekolah dengan syarat mainan yang dipilih harus mendapat persetujuan dari ayah/bunda. Tradisi membeli mainan seperti ini bukan hal yang biasa bagi Yaqdzan, kami punya kesepakatan sebelumnya membeli mainan hanya 1 bulan sekali. Dibalik semua ini saya mendapatkan surprice ketika Yaqdzan bertanya kenapa kami membelikannya mainan setiap hari. Dan bilang “besok aku ga beli mainan lagi, nabung dulu dan bunda aja yang bikin”. Masya Allah ternyata anak mengalami proses berfikir hal – hal yang dilakukan diluar kebiasaan.

Reward 3 hari sekolah

2. Guru

Tidak hanya orang tua yang berusaha agar anak senang sekolah tetapi gurupun punya tips tersendiri agar anak cepat beradaptasi. Hari pertama sekolah yang katanya Yaqdzan menangis lama, guru memanggil anak Indonesia di kelas lain dan memperkenalkannya pada Yaqdzan ( makasih kakak mentari ^^). Sepertinya memberi kesan baik dan menyenangkan bagi Yaqdzan. Hari k-2 guru mendatangkan Mentari untuk menemani Yaqdzan di kelas. Ternyata di kelas lain ada anak baru dari Indonesia yang masuknya sama dengan Yaqdzan tapi kelasnya tidak disatukan tujuannya agar anak cepat beradaptasi. Hal lainnya yang membuat anak happy sepulang sekolah karena mendapat stiker atau kartu dari gurunya. Dan bagaimana totalitas dan supelnya guru pada anak – anak, mungkin ini yang membuat anak senang.

Disaat anak berada di lingkungan berbeda yang tidak lagi bersama orang tua, anak akan belajar tentang problem solving sendiri, survive, dan banyak hal-hal diluar dugaan yang ternyata mereka mampu melakukannya. Adaptasi ini membutuhkan kerja sama yang baik antara orang tua, pihak sekolah dan anak. Alhamdulillah tantangan awal terlewati sudah dan masih banyak tantangan lain, bersyukur dengan nikmat yang ada dan semoga kami dimampukan mengukir kebaikan dan teladan bagi anak.

Jam 8 pagi suasana saat mengantar sekolah

Eindhoven, 7 Desember 2016

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *