Hamil dan Melahirkan

Pengalaman Hamil di Negeri Kincir Angin (Part 1)

Bagaimana step-step hamil di Belanda (disini). Berikut pengalaman saya tentang pemeriksaan hamil dan berinteraksi dengan tenaga kesehatan (verloskundige/bidan, petugas Diagnostic Voor U untuk keperluan USG & cek laboratorium) di Eindhoven.

#Riwayat kehamilan sebelumnya, hamil ke -1 dengan C-section tahun 2012 karena oligohidramnion ( cairan ketuban sedikit), denyut jantung janin makin menurun meskipun masih batas normal, fase pembukaan jalan lahir tidak ada kemajuan & memutuskan untuk C-section cito (direncanakan).

Pemeriksaan kehamilan pertama saya tepat saat berusia 28 minggu, kami datang ke 040verloskunde yang tidak begitu jauh dari rumah. Kesan pertamanya,  suasana hening dan cukup sepi. Terlihat pojok buku, foto dan kartu ucapan yang digantung, meja ruang tunggu dan pojok bermain anak. Kami disambut oleh bagian resepsionis yang ramah sekali dan mereka sudah tau kalau kami ada appoinment hari ini. Membawa apa saja? Kartu asuransi dan catatan kehamilan sebelumnya. Saya membawa 3 lembar hasil USG karena riwayat pemeriksaan sebelumnya ditangani oleh Obgyn. Selang beberapa menit menunggu, kamipun disapa oleh verloskundige (bidan) dan beliau memperkenalkan diri lalu mempersilahkan kami masuk.

Pojok bermain anak di 040verloskude

Apa yang dilakukan verloskundige?

Pertama, beliau melakukan anamnesa seputar bagaimana riwayat kehamilan &persalinan saya sebelumnya, menanyakan bagaimana dengan kehamilan sekarang, apakah punya penyakit tertentu dll. Semua data base sudah tercatat pada layar komputer. Lalu saya menyerahkan 3 lembar hasil usg pemeriksaan di Indonesia, dan verloskundige tampak begitu takjub melihat beberapa lembar hasil USG dan menanyakan ini prosedur di Indonesiakah? Hehe..karena perbedaan prosedur pemeriksaan kehamilan di Indonesia dan Belanda. Selanjutnya pemeriksaan tekanan darah lalu pemeriksaan abdomen yang dimulai dari palpasi dan pengecekan DJJ menggunakan doppler, sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh bidan di Indonesia. Awalnya saya sempat berfikir akan dilakukan USG diruangan ini karena disebelah bed terdapat alat USG, ternyata tidak sama sekali.

Bagaimana komunikasi verloskundige?

Selama berinteraksi baik disaat melakukan anamnesa ataupun pemeriksaan, bidan informatif, welcome dan ramah sekali. Beliau tidak sekedar mengatakan kalau semuanya sehat dan baik-baik saja tapi saya pribadi merasakan energi positif bagaimana perjuangan para ibu hamil dengan kepayahannya yang bertambah dari hari ke hari. Dan apa yang para ibu perjuangkan adalah luar biasa dan support inilah yang  begitu berharga. Termasuk menawarkan bantuan disaat bangun setelah pemeriksaan.

Selanjutnya beliau menginformasikan bagaimana prosedur kehamilan dan persalinan disini diantaranya kami harus menghubungi kraamzog, menyiapkan list perlengkapan persalinan yang sudah diatur negara yang sebelumnya kami sudah dapat email dari 040verloskunde (*dibahas di tulisan berikutnya), beberapa informasi seputar kehamilan dan persalinan yang bisa diakses melalui web, nomor kontak bidan yang bisa dihubungi yang ditegaskan berkali-kali jika terjadi kegawatdaruratan atau kekhawatiran selama di rumah dan mereka akan melayani 24 jam termasuk weekend, libur natal, winter break. Karena prosedur disini, setiap keluhan yang dialami yang pertama kali dikontak adalah bidan. Mereka akan melayani by phone dan melakukan pengecekan ke rumah jika diperlukan, termasuk memutuskan kapan kita harus ke RS. Jadi kita tidak boleh tiba-tiba datang ke RS. Saya sendiri  dianjurkan untuk melahirkan di RS karena riwayat C-section sebelumnya. Tentu saja homebirth tidak disarankan. Di saat kehamilan 36 minggu akan dirujuk ke RS dan dilakukan pemeriksaan disana.

Vitamin dan obat-obatan

Sejak kontrol pertama saya tidak mendapatkan resep untuk menebus vitamin kehamilan sebagaimana halnya yang dilakukan di Indonesia. Dan bidanpun tidak menganjurkan, saking penasarannya saya sempat bertanya bagaimana vitamin & pola makan yang baik. Bidan berkali-kali bertanya “apakah kamu merasa sehat?”. Vitamin tidak diperlukan sama sekali dan sudah cukup dengan nutrisi, jelasnya. Mungkin budaya masyarakat disini yang pada umumnya punya pola makan & nutrisi yang baik, aktifitas fisik dan polusi udara yang minim karena budaya bersepeda.

Pemeriksaan laboratorium

Salah satu yang membedakan matenity care di Belanda adalah adanya pengecekan darah selama kehamilan diantaranya golongan darah, glukosa, hemoglobin, rhesus, deteksi penyakit menular seperti HIV, sifilis. Saya dirujuk ke Diagnostic Voor U terdekat dengan syarat tidak boleh membawa anak, maximal dewasa 3 orang dan ditegaskan berkali – kali untuk datang ontime! Telat sedikit maka harus bikin appoinment ulang. Saya datang 1 jam lebih awal karena berharap akan dicek lebih awal, oh ternyata tidak 😀 karena jam nya bentrok mau menjemput Yaqdzan sekolah. Terlihat beberapa orang yang menunggu dan ruangan yang berjejer lebih banyak daripada pasien. Hasil pengecekan darah ini akan langsung di kirim ke verloskunde dan akan dijelaskan hasilnya saat kunjungan berikutnya.

Form pemeriksaan laboratorium
Diagnostic Voor U

Pemeriksaan ultrasonografi (USG)

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya USG bukan pemeriksaan rutinitas di Belanda, jika tidak ada masalah kehamilan hanya dilakukan 2-3x saja. Dan kontrol pertama ini saya mendapatkan jatah USG di Diagnoostic Voor U yang dilakukan oleh petugas khusus. Ini merupakan USG terlama saya dibandingkan sebelumnya, petugas mengkondisikan semuanya mulai dari menggelapkan ruangan dan mengarahkan monitor yang ada didepan.

Menjelaskan satu per satu bagian organ janin, bagaimana perkembangannya, letak dan posisi serta jenis kelamin. Wah detail sekali..Haru banget dengan segala kemudahan hamil sekarang, petugas menginformasikan “perkembangan janin kamu sangat bagus dan aktif sekali”. Mengingat riwayat kehamilan pertama saya selalu IUGR (pertumbuhan kurang). Oh iya pemeriksaan USG ini juga dicover asuransi, tapi hanya pemeriksaan saja. Untuk mendapatkan hasilnya berupa softcopy harus membayar 5 euro.

Menjalani kehamilan dinegeri perantauan tentu punya tantangan tersendiri, terutama banyak berjalan kaki yang paling signifikan saya alami. Suasana seperti ini sekaligus menumbuhkan energi positif tersendiri bahwa kehamilan itu betul-betul sehat, beraktivitas normal, mandiri dan tidak ada perlakuan yang special. Bahkan terapi ketidaknyamanan bagian organ panggul saya adalah berjalan kaki minimal 60 menit/hari yang sudah biasa dan harus bisa 😀

Alhamdulillah atas segala nikmat ini..

Eindhoven, 17 desember 2016

31 week pregnant

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *