Buku Anak,  Spiritual Journey

​Membersamai Tumbuh Kembangnya, Sungguh Fase Ini Tak Kan Lama..

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah.” (QS. an-Nisa’: 9)

Rasanya baru kemaren saya mengalami ketidaknyamanan fase kehamilan, memberikan asupan terbaiknya, menghadapi GTM, proses penyapihan dan partner tumbuh kembangnya Yaqdzan. Kini anak ini sudah mandiri, punya pola pikir sendiri, banyak menanyakan segala hal dan diskusi – diskusi sederhana yang senang dilakukannya. Flaskback 1 tahun lalu pun begitu banyak anugrah yang Allah suguhkan, fase hidup yang berubah – ubah hingga mengantarkan kami ke negeri minoritas. Syukur yang tak terhingga bagaimana Allah mentakdirkan kami ke negeri kincir angin, belahan bumi terbaiknya saat ini untuk  terus belajar akan kesabaran dan syukur sebagai orang tua dalam membersamai tumbuh kembang anak. Dan sungguh fase ini tak akan lama..

Entah kenapa, akhir-akhir ini saya selalu diingatkan tentang hari akhirat, generasi akhir zaman, dan bekal apa yang sudah saya persiapkan untuk “menyambutnya”. Terutama terkait tugas saya sebagai ibu, madrasah pertama dan utama bagi anak-anak. Lagi – lagi sebuah anugerah dan nikmat besar dariNya, Yaqdzan bersekolah di Islamic basisschool yang merupakan satu-satunya sekolah Islam di kota ini. Dan sekolah punya kurikulum dan budaya yang menurut kami unik, sejalan dengan apa yang akan kami capai di rumah. Untuk beberapa poinpun mungkin pihak sekolah lebih unggul karena budaya dan lingkungan yang sudah melekat. Alhamdulillah..nikmatNya yang manakah yang kau dustakan?

Namun dengan segala kemudahan ini tidak menjadi kepuasan sampai disini, sungguh masih banyak PR bagi kami sebagai orang tua. Waktu terus bergulir dan kebersamaan dengan anakpun semakin terbatas, apa yang sudah saya lakukan? Apa yang sudah Yaqdzan peroleh? Kegalauan saya ini Allah pertemukan dengan seorang ibu keren (thanks to ibu Zaffa) melalui media sosial dan berdiskusi dengan suami tentang lesson plan Yaqdzan ke depannya dan bagaimana kami harus mengatur peran. Bermula dari evaluasi setahun ke belakang yang mencakup tentang beberapa point aktivitas Yaqdzan di rumah. Alhamdulillah walau tak banyak pencapaian tahun lalu, bersyukur atas segala ikhtiar ini.

Berikut evaluasi beberapa aktivitas Yaqdzan dari usia 3-4tahun an:
1. Practical life skill, sudah mandiri dan selalu punya keinginan untuk melakukan hal sendiri. Dan orang tua harus bersabar untuk tidak membantu. Sudah faham dengan tanggung jawab dan disupport untuk bisa membantu orang lain.

2. Outdoor activity, dengan stimulasi seadanya,  sekarang mengalami kemajuan pesat karena terbantu dengan pihak sekolah dan lingkungan disini.

3. Science, art, craft, engineering, teknologi mengalami progress yang cukup baik, faham dengan instruksi, berimajinasi dan melakukan aktivitas yang lebih variatif.

4. Math, mengerti dengan konsep berhitung dan mulai mengenal simbol meskipun baru 1-10, tertarik akan penjumlahan, mulai mengenal konsep hari dan waktu, mata uang, hari dan bulan. Cukup komitmen terhadap waktu salah satunya komitmen dalam durasi menonton TV yang sudah disepakati bersama.

5. Writing skill aktivitas yang banyak dilakukan selama ini adalah prewriting skill, menstimulasi motorik halus dan otot-otot jari untuk mempersiapkan skill menulis. Hobi coret – coret dan menggambar apapun dan memegang alat tulis sudah benar. Belum belajar menulis huruf dan angka karena Yaqdzan masih lebih tertarik ke bentuk lain.

6. Linguistik sesuai usia meskipun semua vokal belum jelas, masih disupport dalam hal keberanian dan ada progress selama sekolah. Mulai tumbuh kecintaan terhadap buku.

7. Alquran untuk hafalan & learning Iqra alhamdulillah banyak kemudahan melalui proses talaqi dan memperdengarkan. Terlihat mulai punya kecintaan terhadap alquran. Namun PR terbesarnya kami  harus mulai sedikit belajar mengenai tafsir Al qur’an dan bisa diaplikasikan dalam keseharian anak.

7. Islam, banyak mempertanyakan mengapa..mengapa dan mengapa tentang sholat, makanan halal & haram, berwudhu dan perlahan mulai mempraktekkan.

8. Adab & akhlak, sebagian sudah faham salah satunya Yaqdzan mengerti tentang batasan aurat yang boleh dilihat atau tidak. Saat di tempat umum atau selingan iklan di youtube yang menampilkan aurat, biasanya otomatis Yaqdzan menutup matanya. Kemudian PR terbesarnya adalah bagaimana membiasakan praktek adab dan akhlak dalam keseharian dan anak faham bagaimana perintah Allah dan sunnah.

9. Tauhid, sebagian sudah faham siapakah sang pencipta dan apa peran manusia sebagai hambanya dan harus terus diingatkan di rumah.

10. Sirah & tarikh tentang rasulullah, 25 nabi & rasul, sahabat nabi, kisah dalam al quran & hadist masih minim, perlu ditingkatkan lagi ikhtiar kami untuk memperkenalkan point ini ke Yaqdzan.

Apa yang kami lakukan sebelumnya tidaklah mudah dan instan, banyak sekali hambatan baik dari luar ataupun dari diri sendiri. Bagaimana memanage emosi dan menjaga semangat karena aktivitas yang disajikan ke anak terlihat percuma atau malah diacuhkan, manajemen waktu, dan proses berfikir kreatif. Percayalah cepat atau lambat, sedikit atau banyak yang kita lakukan akan terlihat hasilnya kelak melalui progress tumbuh kembang anak dan surprise2 kecil yang mereka tunjukkan.

Dari beberapa poin lesson plan tersebut kami menyadari masih banyak hal yang harus dipelajari, khususnya mengenai sirah, tarikh, tafsir alquran yang sesungguhnya saya sebagai orang tua juga minim akan ilmu ini. Untuk mensiasati kekurangan ini saya dan suami berbagi peran dalam keseharian. Saling mensupport, mengingatkan dan fokus dengan visi misi keluarga. So, apapun hasilnya itulah yang terbaik dan bersungguh-sungguhlah. Karena sebaik-baik metode mendidik anak, doa orang tualah senjata utamanya.

Eindhoven, 4 Januari 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *