Hamil dan Melahirkan

Giving Birth in the Netherlands

Minggu ini cukup hectic dan menegangkan. Yaqdzan kembali drop setelah 1 pekan awal sekolah demam tinggi dan sekarangpun kembali radang tenggorok, ayahnya lagi pekan exam yang padat dibanding quartil lalu. Sebagai keluarga mahasiswa saya begitu faham bagaimana berjuangnya para master & PhD disini. Dan sayapun menanti hari-hari persalinan yang sebenarnya lebih santai. Berharap melahirkan setelah exam berakhir. Perjalanan saya sepulang dari RS (jadwal kontrol mingguan) dengan kontraksi yang masih ringan, meskipun setiap kontraksi datang saya harus jeda dulu. Terkadang break di tengah keramaian menuju halte bus ataupun distasiun disaat turun dari bus harus jeda sebentar dan ternyata “mengundang” sorotan banyak orang. Betapa care dan bersabarnya mereka melihat kondisi saya seperti ini. Lagi-lagi suatu energi positif bagi saya, ditengah perantauan yang jauh dari keluarga besar. Merasakan kontraksi yang masih ringanpun saya masih punya keyakinan untuk melahirkan mungkin minggu depan.

Packing ke RS

  1. Pakaian bayi berupa jumper, atasan, celana panjang, topi, kaos kaki semuanya ukuran 50/56 (newborn) sekitar 3 set. Jaket over all yang tebal untuk persiapan pulang diutamakan lagi winter. Diapers disediakan di RS.
  2. Selimut bayi.
  3. Maxi cosi/car seat untuk membawa bayi pulang di mobil.
  4. Pakaian ibu + ayah berupa baju ganti, pakaian dalam, kaos kaki hangat. Pembalut & CD disediakan di RS.
  5. Toilet set.
  6. Kamera.
  7. Uang koin untuk kursi roda di RS.
  8. Makanan selama di RS terutama makanan berat ala indonesia untuk energi melahirkan. Karena pilihan makanan di RS terbatas seperti roti, buah, yogurth, craker, kopi, teh, telor, ikan.

Fase kontraksi di rumah

Semenjak pukul 3 pagi sampai pukul 15.00 sepulang dari RS saya masih merasakan kontraksi yang sama 10 detik setiap 15 menit dan teratur. Blood show (kemerahan) keluar pukul 15.00 dan kontraksi mulai bertambah sekitar 15-20 detik setiap 7-10 menit dan teratur. Apa yang saya lakukan selama kontraksi di rumah? Istirahat sebisanya sebelum kontraksi datang berulang, makan untuk menambah energi, minta doa orang tua dan orang sekitar. Berjalan selama kontraksi tidak saya lakukan karena dari pagi sudah mobile, tubuh sepertinya butuh istirahat sejenak. Suami memantau kondisi kontraksi disela-sela papernya hanya berharap banyak kemudahan untuknya dan pukul 18.00-19.00 kontraksi semakin bertambah 25-30 detik setiap 5 menit dan teratur dalam 1 jam terakhir. Sebagaimana halnya prosedur RS, kami tidak boleh tiba-tiba datang tapi harus menelepon dahulu dan mereka akan menanyakan tentang kondisi kontraksi, alasan melahirkan di RS dll *masih sempatnya nanya2 begini 😅 & mempersiapkan semuanya untuk menuju ke Chatarina hospital.

Fase kontraksi di RS

Menuju lantai 11 dengan kursi roda saya merasakan kontraksi semakin kuat. Setiap kontraksi datang adalah suatu kebahagiaan pertanda jalan lahir akan terbuka. Setiap sakit yang dirasa,  berharap jadi pengugur dosa & ladang pahala. Beginilah sounding positif yang saya tanamkan. Sekitar jam 20 saya memasuki ruangan bersalin, disambut oleh Verpleegkundige/nurse dengan ramah sekali. “Mau minum teh atau kopi? Tradisi orang Belanda yang selalu melekat 😅”. Kami menuju kamar bersalin yang mirip dengan kamar perawatan. Ternyata ruangan ini merupakan kamar bersalin sekaligus perawatan. Single room termasuk bed untuk pendamping juga disediakan, dapur, kulkas dll. Tentu saja ini bukan request kami karena disini tidak bisa memilih ruangan, memilih bidan/dokter. Jadi semua pelayanan relatif sama.

Apa yang dilakukan verpleegkundige/nurse? Saya berbaring di bed, diawali dengan pemeriksaan tanda-tanda vital, observasi kesejahteraan janin dengan CTJ. Sekitar jam 20.30 dengan kontraksi yang semakin kuat saya merasakan ada yang mengalir, amnion pecah spontan warna jernih! Alhamdulillah menikmati kontraksi yang berulang & bertambah. Jam 21.20 ada dorongan mengedan lalu bidan memeriksa saya dan sudah opening 10 cm. Ini pertama kalinya saya diperiksa dalam. Masya allah, kamipun kaget karena begitu cepat! Dan waktunya pushing, jam 21.50 bayi lahir menangis per vaginam dengan episiotomi berat 2300 gram. Bayi ditempelkan pada dada tanpa disuction dan dikeringkan. Apgar score 1 menit pertama 9, 5 menit kemudian 9 dan 10 menit kemudian 10. Sekaligus saya diinjeksi oksitosin by intravena yang sebelumnya dilakukan pemasangan infus karena sebelumnya ada riwayat C-section.  Selang beberapa menit plasenta lahir spontan dengan kondisi lengkap dan bidan tidak melakukan explore. Step selanjutnya penjahitan perinium menggunakan anestesi dan pemberian vitamin K pada bayi.

Siapakah penolong persalinan? 

Saya bersama 3 orang yang berkolaborasi dengan baik yaitu nurse, bidan dan dokter umum/huitsar. Yang berperan utama adalah bidan, dokter/huitsar lebih banyak observasi dan mensupport karena di sini huitsar juga mempunyai peranan penolong persalinan walaupun persentasenya sedikit sekali. Selama proses pushing mereka memberikan support yang luar biasa, setiap ada kemajuan persalinan mereka sangat menghargai. Bidan pun mengatakan saya begitu tenang menghadapi kontraksi dan kooperatif sekali disaat pushing. Berkali-kali mereka mengatakan proses yang luar biasa. Support yang sangat berharga sekali. Ditengah-tengah pushingpun saya mengalami kram kaki dan mereka membantu memijit sampai saya nyaman. Lalu disaat pemotongan tali pusat suami ikut terlibat  bahkan dokter inisiatif untuk mengabadikan moment ini 😁 lalu menanyakan apakah plasenta akan dibawa pulang atau dikelola di RS. Saya melihat hubungan antara sesama tenaga kesehatan sejajar begitupun kedekatan dengan keluarga. Kamipun sempat ngobrol-ngobrol bagaimana maternity care di sini dan di indonesia.

Postnatal care di RS

Sebagaimana prosedur di Rs 2 jam postpartum (setelah melahirkan) jika ibu dan bayi baik-baik saja maka dipersilahkan untuk pulang. Dan pelayanan selanjutnya akan dihandle oleh kraamzorg, bidan, zuidzorg (semacam posyandu). Kami harus menginap di RS untuk observasi glukosa darah bayi 1×24 jam karena bayi lahir 36 minggu 5 hari (menurut usg), lebih cepat 2 hari dari normalnya dan BB bayi hanya 2300 gram tidak masalah bagi mereka karena gen Indonesia yang tidak setinggi Belanda. Selama di RS saya banyak dibantu oleh nurse, terutama 2 jam postpartum untuk pemantauan tanda-tanda vital, pendarahan, breastfeeding, menjaga suhu bayi agar tetap hangat dengan bantuan hot water bottle, memastikan bayi sudah mulai menyusui dan reflek hisappun bagus, bak/bab, menimbang BB, termasuk membersihkan seluruh badan, menuntun ke kamar mandi dan mandi. Bidan hanya datang sesekali saja untuk memastikan kondisi saya baik2 saja begitupun ginekolog. Dokter perinatologi terus memantau kondisi bayi, alhamdulillah semuanya baik2 saja. Tidak ada perlakuan khusus untuk perawatan bayi selanjutnya. Selama di RS banyak sekali petugas yang mondar mandir ke ruangan, entah nurse, ginekolog, bidan yang hanya sekedar menanyakan kabar, bagian gizi 3-4×/hari yang menawarkan mau makan apa dan apa saja mereka sediakan, tapi request nasi mereka ga punya 😅😂. Akhirnya kamipun pulang ke rumah dan pihak RS sudah berkoordinasi dengan kraamzorg (maternity nurse) yang akan menyambut kami di rumah.

dscf3020

Birth certificate 

Salah satu kemudahan dalam mengurus akte kelahiran disini, disaat di RS kami dikunjungi oleh gemeente (walikota). Semuanya sudah diurus oleh gemeente dengan syarat menyerahkan kartu BSN dan nama bayi. Jadi nama bayi sebaiknya sudah dipersiapkan, karena begitu lahir pihak RS akan menanyakan nama lengkap. Keesokan harinya akte kelahiran sudah dikirim ke rumah.

Mengkondisikan anak balita 

Salah satu kebimbangan disaat melahirkan adalah punya anak balita yang tidak diperbolehkan ikut ke RS. Sayapun mempersiapkan dari awal kemana Yaqdzan harus dititip dan tampaknya hari-hari menjelang melahirkan si bocah cukup galau. “Kalau bunda lahiran aku sama siapa? Yaqdzan sama bu ina ya, ada kakak mariyah & kakak marsis ditariq. Tapi bisa bahasa indonesia ga? Pertanyaan bocah kalau diperkenalkan dengan orang baru 😂 aku mau sama tante ririn aja yang bikin pesawat itu”. Dua malam si bocah dihandle sama ibu-ibu Eindhoven, katanya ga rewel cuma suka request nonton kartun yang membingungkan hehe… Terimakasih ya ibu2 semua yang udah mondar mandir ngajak Yaqdzan ngebesuk ke RS. Buat tante iin, om ricki, talitha, tante ina, tante ririn,tante weny, om arya, kakak maryah, kakak marsis semoga kemudahan menyertai semuanya, maafkan banyak direpotkan.

Ya seperti inilah persaudaraan kami dirantau, banyak sekali kemudahan yang Allah suguhkan. Belanda sendiri yang terkenal dengan proses “natural birth” merupakan suatu ketenangan sendiri bagi saya. Beberapa penatalaksaan yang agak berbeda dengan Indonesia karena perbedaan akan beberapa faktor diantaranya kondisi kesehatan, ekonomi, budaya dll. Proses persalinan yang saya alami begitu cepat dan banyak kelancaran tentunya bukan karena canggihnya sistem suatu negara, kehebatan para tenaga kesehatan. Semua ini hanya murni kemudahan dari Allah dan doa ibu. Kami yang terpisahkan puluhan kilometer dari tanah eropa dengan berbagai kekhawatiran beliau dan dengan doa-doanyalah kemudahan ini turun. Begitupun suami yang disela-sela menuntut ilmu, doa-doanya akan keberkahan semua ini. Tingkat VBAC disini yang cukup tinggi, sayapun ditakdirkan atas izinNya. Dari awal alhamdulillah memang tidak ada indikasi untuk SC dan selama persalinanpun lancar. Konon katanya SC disini tidak bisa dilakukan sembarangan karena termasuk merugikan negara. Bagi ibu-ibu yang pernah mengalami SC jangan menyerah dan merasa bersalah akan semua ini, percayalah apapun jalannya adalah yang terbaik dariNya dan tugas kita hanya ikhtiar untuk sehat dan enjoy selama hamil. SC diindonesia dan persalinan pervaginam disini bagi saya keduanya suatu kenangan yang indah dan menyenangkan. Bagaimana maternity care disini semoga suatu saat bisa diaplikasikan di tanah air.

#next blog bagaimana maternity care selama di rumah, hari-hari bersama kraamzorg (maternity nurse)
Eindhoven, 11 Februari 2017

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *