Hamil dan Melahirkan

Pengalaman Hamil Di Negeri Kincir Angin (part 2)

Chatarina Hospital

Welcome winter! Eindhoven lagi dingin-dinginnya, cuaca tidak menentu. Dingin bukan karena saljunya tapi angin kencang yang tiba-tiba datang. Inilah ciri khas cuaca di Belanda. Aktivitas pun tak terganggu sama sekali, orang-orang menjalankan rutinitas dengan survivenya. Pun halnya dengan kami aktivitas dari rumah ke sekolah/kampus. Dan tak terasa sayapun telah melewati trimester 2 kehamilan dan penghujung trimester 3 dengan energi positif yang luar biasa. Hamil sehat dan banyak berjalan kaki, tantangan di negara 4 musim yang merupakan kebahagiaan tersendiri.

Sekitar 5x pemeriksaan kehamilan yang dilayani oleh verloskundige/bidan, kini 36 minggu kehamilan, saya akan berbagi pengalaman bersama ginekolog di Rumah Sakit. Saya dirujuk ke RS karena riwayat C- section sebelumnya dan jika riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya baik-baik saja pemeriksaan tetap dilakukan oleh bidan praktek bersama dan direncakan untuk homebirth. Chatarina hospital yang tidak jauh dari rumah, hampir sama perjalanan  dari rumah ke basisschool antar jemput Yaqdzan sekolah. Suasana RS yang agak berbeda dari pemandangan RS di Indonesia, suasana lebih ramai, teratur, dan seperti di airport 😅.

Chatarina hospital merupakan RS pendidikan di Eindhoven yang berdiri sejak tahun 1843, merupakan satu dari dua RS lainnya yaitu Máxima Medisch Centrum. Sejak tahun 2000 sampai sekarang Chatarina hospital sudah 4x terakreditasi  RS berstandart internasional. Sejak tahun 2010 merupakan anggota  Santeon, association of 6 Dutch hospitals yaitu Canisius-Wilhelmina Ziekenhuis (Nijmegen), Martini Ziekenhuis (Groningen), Medisch Spectrum Twente (Enschede and Oldenzaal), Onze Lieve Vrouwe Gasthuis (Amsterdam), dan Sint Antonius Ziekenhuis (Nieuwegein). Pada tahun 2013 Catharina hospital memiliki 696 beds, sehingga rumah sakit terbesar di propinsi Noort Brabant. Dengan 3600 karyawan, dari yang 210 dokter spesialis yang memberikan perawatan sekitar 150.000 pasien rawat jalan  dan 27.000 pasien rawat inap.

Pemeriksaan bersama ginekolog

Awal kedatangan kami bertemu ginekolog sama halnya bagaimana pelayanan verloskundige/bidan, dokter di spoedpost/IGD atau pelayanan public lainnya disambut dengan ramah dan welcome sekali. Ginekolog yang kami tuju adalah perempuan dan beliau bersama seorang asisten laki-laki. Yang banyak berperan aktif adalah ginekolog perempuan mulai dari anamnesa bagaimana riwayat persalinan saya sebelumnya yang detail sekali sampai pemeriksaan fisik yang beliau sendiri bekerja secara mandiri bahkan yang menyambut dan membukakan kami pintu adalah sang ginekolog.

Ada satu hal yang agak berbeda disaat pelayanan. Disaat pemeriksaan fisik, ginekolog meminta izin kepada kami “apakah bersedia diperiksa oleh asistennya yang laki-laki?”. Terlepas tawaran ini bermaksud karena saya seorang muslimah atau ginekolog yang dituju memang yang perempuan, namun penawaran ini diluar dugaan saya, bagaimana seorang tenaga kesehatan empati dan menjaga privacy dalam memberikan pelayanan. Tentu saja kami memilih diperiksa oleh nakes perempuan.

Singkat cerita dari data anamnesa ginekolog, beliau mensupport saya untuk VBAC (vaginal birth after C-section) dan alhamdulillah tidak ada indikasi untuk C-section. Dan pemeriksaan fisik yang dilakukan ginekolog sama halnya yang dilakukan oleh bidan. Lalu beliau merujuk saya ke bagian laboratorium untuk pemeriksaan hemoglobin & rhesus dan pemeriksaan USG pada petugas khusus. Jadi USG tidak dilakukan oleh ginekolog. Pemeriksaan bersama ginekolog ini sekitar 20 menitan. Durasi waktu yang cukup lama.

Ultrasound di RS

37 minggu kehamilan ginekolog merujuk saya untuk USG, secara keseluruhan hasilnya normal. Taksiran berat janin sekitar 2400 gram, tidak masalah untuk standart orang Indonesia dan riwayat kelahiran sebelumnya lahir 2500 gram. Letak plasenta normal, cairan amnion bagus.

Vesloskundige/bidan di RS

Saat 36 minggu saya dilayani oleh ginekolog, dengan hasil pemeriksaan semuanya normal maka pelayanan selanjutnya dikembalikan kepada bidan di RS (pelayanan sekunder) maka 37 minggu kehamilan saya dilayani oleh bidan RS. Kondisi saat ini hamil 37 minggu yang tepatnya 36 minggu 5 hari disertai blood show (kecoklatan), kontraksi setiap 15 menit durasi 10 detik. Apa yang dilakukan bidan? Menanyakan keluhan yang saya rasakan, pemeriksaan tekanan darah, palpasi abdomen, dan menjadwalkan kunjungan berikutnya 1 minggu kemudian jika kontraksi tidak adekuat. Bagaimana dengan pemeriksaan dalam? Tidak dilakukan sama sekali! Tanpa intervensi apapun. Informasi terakhir bidan mengatakan jika kontraksi teratur setiap 5 menit dalam 1 jam silakan menelpon verloskamers (VK), ruang bersalin RS. Nanti bidan akan menanyakan kondisi kita dan apakah sudah seharusnya untuk datang ke RS atau tetap di rumah. Jadi untuk rencana persalinan di RS tidak boleh tiba-tiba datang.

#Next blog pengalaman seputar persalinan, pelayanan Rs & tenaga kesehatan 🙂

Eindhoven, 1 februari 2017

2 Comments

  • Laila

    Maaf mau menanyakan sekaligus meminta klarifikasi. Karena sependek pengetahuan saya bahwa istilah yg dipakai di Indonesia adalah sectio caesar atau SC. Atau mungkin mungkin memang kalau diluar tulisannya dirubah menjadi C-saecar?
    Maaf hanya sekedar bertanya karena dikarasa mengganjal. Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *