Cerita Yaqdzan & Faiha,  Kesehatan

Cacar Air di Negeri Kincir Angin

 

DSCF7653
1 minggu pasca cacar

 

Liburan musim panas tahun ini kami merencanakan beberapa kegiatan untuk Yaqdzan, entah berkunjung ke museum, park ataupun ke perpustakaan. Termasuk rencana liburan keluarga. Suamipun segera menyelesaikan tugasnya disaat summer holiday ini agar bisa mengikuti kegiatan liburan. Tampaknya dengan seringnya begadang akhir-akhir ini daya tahan tubuhnya drop. Tiba-tiba suami meriang, sakit kepala dan badannya pegal-pegal. Mungkin hal yang biasa dirasa karena kecapean pikir saya. Bermula muncul bentol besar (semacam bisul) di wajahnya, kami masih beranggapan bisul biasa karena udara panas dan kotor. Jeda 1 hari keluarlah bintik merah diseluruh badan. Kamipun segera menghubungi spoedpost (semacam IGD) karena sabtu minggu dokter keluarga tutup. Di Belanda untuk berkunjung ke dokter keluarga tidaklah mudah, biasanya harus bikin appointment dahulu. Dan  weeked dokter keluarga libur, sehingga untuk kondisi tertentu yang darurat akan diarahkan ke spoedpost (semacam IGD). Melalui telepon suami dianamnesa bagaimana kondisinya saat itu, termasuk sudah berapa hari sakit. Alhamdulillah 2 jam kemudian dianjurkan untuk langsung datang ke IGD.

Qadarullah suami dinyatakan kena cacar air (orang Belanda menyebutnya waterpokken )dan infeksi kulit. Untuk infeksi kulit dokter memberi resep antibiotik dan untuk cacar air sama sekali tidak dikasih obat. Tunggu saja sampai keluar, sarannya. Untuk konsultasi dengan dokter sekitar 15 menit kami mendapat tagihan 200 euro (3 juta) yang ditanggung sepenuhnya oleh pihak asuransi dan antibiotik 37 euro (555.00 rupiah) sebanyak 30 tablet dibayar sendiri. Wow mahal banget hehe..
Seperti pada umumnya penyakit yang disebabkan oleh virus, lebih banyak menyerang orang yang memiliki daya tahan yang lemah. Oleh karena itu penyakit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster ini lebih banyak menyerang anak-anak, namun ada juga beberapa orang dewasa. Termasuk suami yang belum pernah kena cacar.
Karena cacar air ini akan cepat sekali menular maka saya dan anak-anak segera mengungsi ke rumah teman yang kebetulan beliau dan keluarga pulang ke Indonesia, walaupun dokter tidak menyarankan bayi dan balita untuk berpisah ruangan. Satu minggu kemudian saya kembali membawa anak-anak pulang ke rumah karena sudah 3 hari Yaqdzan muncul bentol dikepalq dan dada. Akhirnya anak-anak keduanya terkena cacar.

Beberapa info yang saya dapat musim panas ini sedang banyak penyakit cacar dimana-mana dan budaya Belanda terhadap cacar ini cukuplah mengagetkan bagi saya, terutama dokter tidak menerima pemeriksaan karena penyakit yang biasa dan bisa dikelola di rumah. Jika cacar menyerang anak-anak justru lebih baik karena penyembuhan akan lebih cepat dan komplikasi minim sekali. Anak-anak yang terkena cacarpun akan tetap datang ke sekolah, daycare dan keluar rumah. Disaat bayi 6 bulan dan balita 5 tahun terkena cacar bersamaanpun kami sempat menelpon dokter keluarga, sama sekali tidak dianjurkan untuk datang ke klinik dan ini hal yang biasa” jelas dokter keluarga.

Bagaimana treatment cacar di Belanda:
1. Sekali lagi cacar adalah penyakit biasa dengan beberapa keluhan demam, pegal-pegal dan radang tenggorokan. Siapapun yang mengalami dokter tidak menerima kunjungan kecuali ibu hamil. Baik ibu hamil yang terkena cacar ataupun dalam satu rumah yang ada ibu hamilnya segera hubungi dokter keluarga.
2. Tidak ada larangan untuk keluar rumah dan jaga kebersihan badan, mandi tetap dilakukan.
3. Jaga asupan nutrisi untuk pemulihan lebih cepat dan tidak ada pantangan makanan.
4. Obat-obatan yang dipakai, biasanya kami memberi paracetamol jika demam diatas 39 derajat, lotion/sprei cacar untuk mengurangi gatal bisa beli di kruitvart atau etos. Ini semua dapat recomendasi dari teman-teman disini.

 

waterpokken
Berbentuk busa beli dikruitvart sekitar 10 euro (foto by google)
VSM-Kind-Calendulan-kinderemulsie
Berbentuk lotion beli di Etos sekitar 16 euro an (foto by google)

 

Tahap penyembuhan cacar:

Suami sebelum keluar cacar diawali 3 hari sebelumnya demam tinggi, meriang, pegal-pegal dan radang tenggorokan. Selama 3 hari setelahnya keluar bintik-bintik merah dan bisul. Tiga hari berikutnya menunggu cacar kering dan mengelupas dan badan sudah enak beraktivitas.

Yaqdzan dan Faiha hampir sama tapi tidak mengalami demam yang tinggi. Yaqdzan mengalami cacar yang paling sedikit dan Faiha penuh dari kepala sampai kaki :(. Faiha yang sebelumnya mandi 2x seminggu semenjak cacar saya mandikan setiap hari dan Mpasinya yang baru saja masuk hari k-7 tetap mendapatkan asupan nutrisi seperti biasa dan Alhamdulillah makannya tetap lahap.

So, 2 minggu yang bersambung merawat anggota keluarga yang terkena cacar. Bolak-balik dari tempat menumpang dan rumah yang tidaklah mudah. Apapun kondisinya, benarlah janjiNya selalu ada kemudahan bersama kesulitan. Mengajarkan saya tentang syukur dan sabar tentang keikhlasan dalam beramal.

Dan cukup mendebarkan karena hitungan hari kami akan travelling.

Ah..Terimakasih ibu-ibu Eindhoven yang sudah direpotkan, menumpang bermalam-malam dan yang mengantarkan makanan.
Eindhoven, summer 2017

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *