Eindhoven,  Spiritual Journey

Bermula Kebiasaan, Kecintaan hingga Budaya Membaca!

 

DSCF0707

Seneng deh! Melihat banyaknya event seru anak-anak ditanah air, taman-taman baca yang sudah mulai ramah anak, para author yang menghadirkan buku yang kontennya luar biasa, pun para psikolog yang memperhatikan bagaimana step-step membaca bagi anak. Spesial untuk para orangtua yang tak lelah membersamai tumbuh kembang anak-anak. Semoga menghantarkan generasi akan cinta ilmu dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya.

Saya jadi tergelitik ingin berbagi bagaimana minat baca di Belanda, bagaimana orangtua mengantarkan anak-anak untuk cinta ilmu, pun dukungan dari negara untuk menjaga anak-anak penyambung generasi terbaik.

Pre reading for baby

Suatu ketika saya sempat mengobrol dengan seseorang yang pernah bekerja dengan keluarga Dutch. Menjaga 2 orang anaknya yang berusia 3 bulan dan 3 tahun. Tampak berbeda pola asuh kita di timur dengan gaya barat, mungkin orang timur mengatakan kok tega sekali. Namun inilah budaya mereka. Bahwa anak-anak dibesarkan dengan kemandirian dan disiplin mulai dari pola tidur, makan dan jadwal menyusuipun harus sesuai dengan waktunya. Tapi yang paling menarik adalah suatu kebiasaan mereka bersama buku, bahwa kedua anaknya mempunyai waktu bersama buku termasuk yang masih bayi. Iya! Membacakan buku bagi anak-anaknya suatu keharusan.

Lalu beberapa bulan lalu saat kunjungan kami ke posyandu untuk mengecek tumbuh kembang Faiha, kami mendapatkan selembaran kertas orange dari perpustakaan kota.  Seputar posyandu saya ulas disini. Sepaket baby book kami dapatkan secara gratis yang ditujukan khusus berusia 0-2 tahun dan sekaligus beberapa lembar panduan untuk orangtua bagaimana membersamai anak-anak dengan buku. Bukan! Bukan karena gratisnya, tapi menariknya begitu besarnya perhatian negara terhadap anak-anak. Kalau majunya suatu bangsa bermula dari minat bacanya, inilah generasi penerus yang amat dijaga dengan baik.

Cinta itu utama

Biasanya Yaqdzan paling senang diajak ke perpustakaan, meminjam dan mengembalikan buku dengan selft service sepertinya ini kebahagiaan bagi anak-anak.
Anak-anak usia 0-18 tahun mendapatkan member card secara gratis yaitu meminjam maximal 10 buku selama 4 minggu. Faiha yang masih bayipun punya member card, jadilah kalau kami sepulang dari perpustakaan memboyong setumpuk buku yang lumayan berat 😆 Perpustakaan juga menyediakan mainan seperti puzzle loh, softbook ataupun buku-buku plastik yang dikhususkan untuk bayi.

Memang Yaqdzan sudah bisa baca? Belum kok! Sering kali “bunda/ayah bacain buku” padahal ayahnya baru saja pulang tetapi beberapa buku sudah digenggamnya. Memang kamilah orangtua yang harus bersabar mendampinginya. Kalau hakikatnya anak-anak sangatlah mudah untuk belajar, bermula dari kebiasaan hingga menjadi kecintaan. Mungkin inilah mula dari suatu kebudayaan baik ini, budaya membaca!

Sudah suasana umum kalau arena khusus anak di perpustakaan ini rame sekali dikunjungi oleh anak-anak dari lintas usia. Mulai dari bayi, anak-anak yang baru bisa berjalan, ada yang berlarian maupun anak-anak yang sudah bisa membaca. Orangtuanya me time? No!pemandangan yang luar biasa mereka duduk bersama anaknya membacakan buku ataupun sedang membaca.

Perpustakaan punya program apa saja sih?

Program dari perpustakaan selain mengadakan workshop ke sekolah-sekolah juga mengadakan reading & craft bagi anak-anak setiap minggunya, belajar programming untuk usia 7-17 tahun, Art Watch for Children untuk usia 8-18 tahun, engineering for kids, making treasuries untuk usia 6-9 tahun dan lainnya. Program ini diadakan diberbagai tempat, ada yang free dan berbayar. Semua agenda sudah tercantum di website sampai beberapa bulan ke depan. Selain itu pihak perpustakaan juga mencari volunteer yang bertugas sebagai public services, catering cafe, reading expresss, library sekolah-sekolah, dan workshop. Bagus sekali bagi yang ingin practical dutch.

Perpustakaan kota ini juga memiliki 70 perpustakaan cabang di sekolah-sekolah diantaranya bekerja sama dengan sekolah Yaqdzan. Sekitar 2 bulan lalu sebuah workshop juga diadakan di sekolah Yaqdzan tentang kecintaan anak terhadap buku. Selain itu ruangan pojok anakpun didesain sedemikian rupa yang benar-benar nyaman bagi anak. Terdapat toilet khusus anak dan changing room untuk bayi, cafe, wifi dan toilet berbayar bagi dewasa.

Lima belas menit saja per hari!

Himbauan dari pihak sekolah ditujukan kepada orangtua, terutama anak-anak yang berusia 4-6 tahun agar kami orangtua meluangkan waktu 15 menit saja per hari untuk membacakan buku kepada anak. Pun seminar parenting yang digerakkan oleh sekolah dikhususkan untuk orangtua untuk membentuk minat baca anak sejak dini. Ataupun children’s book week ajakan bagi anak-anak untuk datang ke perpustakaan dengan diadakan berbagai kegiatan seperti story telling, painting dan aneka craft. Semua event ini untuk membahagiakan anak-anak akan cinta ilmu. Review buku anak Islam berbahasa Inggris disini. 

Kalaulah buku jendela dunia, dari bukulah anak-anak mengenal segalanya, menambah kosakata, melatih konsentrasi, menstimulasi indera pendengaran dan membuat anak-anak bahagia. Orangtua? hanya butuh konsistensi saja. Saya jadi teringat seorang teman yang setiap harinya melewati alur macet jakarta dari rumah ke kantor, dan rumah suatu yang dirindukannya bersama duo batitanya bersama buku. “Kok bisa sih?” Melalui buku saya dan anak-anak bisa bersama, ujarnya. Barakallah makcan 💜

Eindhoven, Autumn 2017

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *