Travelling

Kota-Kota Cantik Penuh Pesona di Eropa Timur

 

Bagi kami summer tahun ini, summer pertama berkumpul dengan keluarga. Karena summer tahun lalu saya dan Yaqdzan baru saja bersiap-siap menuju tanah Eropa dan adiknya belum lahir. Di Belanda liburan musim panas sekitar 6 minggu dan suami tidak ada libur karena dia memutuskan untuk internship, kalaupun ingin berlibur harus mengerjakan tugasnya lebih awal. Enam minggu libur sekolah, tentulah kami ingin menghadirkan kegiatan untuk Yaqdzan termasuk merencanakan liburan keluarga. Hingga dayungpun bersambut, tawaran liburan dari PPI Enschede cukup membantu mahasiswa yang berkeluarga seperti kami untuk travelling. Tripnya ke-4 negara (Jerman-Vienna-Budapest-Praha) rombongan 1 bus selama 6 hari. Kamipun segera bergabung dengan PPI dan langsung membayar full. Sebenarnya saya agak ragu, disaat suami langsung mengiyakan tawaran travelling tersebut karena 4 hari terakhir memotong awal masuk sekolah Yaqdzan.

Jadilah kami mencari informasi ke pihak sekolah dan teman-teman lainnya, berkesimpulan kalau perizinan travelling kami kemungkinan besar tidak mendapat izin dari sekolah dan kalaupun bolos kami akan dikenakan denda 350 euro/hari (5 juta/hari)! Wow nilai yang tidak sedikit. Karena islamic basisschool ini sudah gratis difasilitasi oleh negara dan setiap akhir tahun akan ada evaluasi dari negara pada pihak sekolah. Well, rencana travelling dengan PPI pun cancel!! Bersyukurnya uang bayaran sebelumnya balik 100% dengan sabar menunggu.

Tidak berhenti disini, kamipun tetap akan merencanakan travelling keluarga. Sudah terbayang bagaimana kalau travelling mandiri, seperti biasa kami harus mempersiapkan semuanya dengan matang karena membawa bayi yang baru saja mulai Mpasi dan balita. Salah satunya membuat intinerary, pekerjaan yang paling mumet dan ribet 😅. Kecewa untuk tidak jadi ikut PPI? Tentu tidak! Saya yakin, kalau ini skenario terbaik untuk kami. Mungkin ada rahasia baikNya dibalik semua ini yang belum Allah tampakkan. Paralel membuat itinerary dan menyiapkan list packingan. Ujian untuk sebuah travelling terus berlanjut, Qadarullah suami dan anak-anak kena cacar air dan kami akan berangkat 15 hari lagi. Cukup mendebarkan, lagi-lagi saya harus totalitas pada ketentuanNya.

Tiga hari menjelang keberangkatan, alhamdulillah semua sudah pulih. So, jadinya kemana nih?

Eindhoven – Praha – Budapest – Vienna – Amsterdam – Eindhoven (9 hari)

Travelling dengan bayi & balita

Utamanya travelling kali ini saya fokus pada Faiha yang baru saja mulai Mpasi. Untuk menggunakan mpasi instan boleh saja, tapi tidaklah mungkin selama 9 hari kedepan saya memberikan makanan instan. Sehingga barang bawaan kami hampir didominasi keperluan anak-anak. Kira-kira bawa apa saja ya? Handblender benda wajib beserta saringan kawat, mangkok, sendok, baby mover,slaber, botol minum plastik ziplok makanan. Mpasi instan? Ya saya pure buah biologis sekitar 6 botol dan 1 botol pure menu lengkap vegetarian. Karena pure halal yang bisa dikonsumsi hanya dengan protein ikan. Lalu saya membuat rencana menu makanan 9 hari kedepan 1x buah, 2x menu lengkap 4 bintang (protein nabati, protein hewani, sayur, karbohidrat). Jadilah bawa stok makanan mentah yang awet disimpan seperti kentang, ubi, wortel,brokoli, kacang merah, pisang, alpukat, apel, pir hanya untuk stok 2 hari. Hari selanjutnya kami akan belanja di supermarket.

Lalu semua bahan-bahan makanan masuk slow cooker? No! Setiap travelling pilihan kami menginap di airbnb yang sudah lengkap dengan dapur dan peratalan masaknya. Kamipun tidak membawa rice cooker/slow cooker karena selain repot juga kami tidak ada space bagasi disaat penerbangan. Memasak Mpasi ataupun nasi manual dengan panci alhamdulillah tidak merepotkan.

 

Praha

DSCF7872

Bagi saya, mengunjungi Praha betul-betul merasakan ditengah Eropa dengan bangunan tuanya bergaya Romanesque, Gotic, Classic yang berjajar di sepanjang jalan. Saat menyelusuri jalanan kami tak hentinya bergumam, woow masya allah! Praha menjadi salah satu yang termasuk dalam ‘must visit cities in Europe’. Keindahannya yang menawan dan kota yang murah dibandingkan negara Eropa lainnya. Disaat menuju penginapan dengan jalanan yang menanjak dan melihat pengendara sepeda saya teringat akan Belanda dengan tanahnya yang datar kalau bersepeda itu mendukung sekali. Disaat kami kebingungan membeli tiket harian dengan beberapa keping koin, warganya agak menutup diri dengan orang asing. Tapi saya percaya, kalau Praha menyimpan sejuta kejutan.

Alun-alun kota Praha, Old Town Square ini sudah menjadi pusat kota Praha sejak abad ke-10. Tidak hanya dipadati wisatawan, namun warga lokal Praha juga sangat senang berkumpul di Old Town Square ini. Semua orang menikmati keindahan arsitektur bangunan ini, bercengkerama sambil menikmati banyak pertunjukan musik dari jazz hingga musik khas Skotlandia.

Astronomical clock menara jam astronomi yang tertua di dunia yang dibangun tahun 1410 dengan desain yang artistik. Sayang sekali, saat berkunjung sedang renovasi.

Keharuan saya terlepas ketika menapaki senja di Charles Bridge. Jembatan ciamik yang menjadi icon kota Praha ini. Keramaian terus memadati dan entah ratusan langkah terlewati membimbing & mendorong anak-anak. Namun, seolah-seolah semangat ini tak ada habisnya.

Budapest

DSCF9028

Praha memang menakjubkan dengan keindahannya, namun semakin berjalan ke arah timur Masya Allah, Budapest! Namun perjalanan kami menuju kota eksotik Hungaria ini, mengukir kenangan. Stasiun Praha sangatlah ramai dipadati oleh turis, dan kami mulai kebingungan mencari kereta tujuan. Jangan aneh, kalau banyak menemukan orang yang tidak berbahasa inggris. Entah berapa banyak kami bertanya tetapi tidak ada yang faham dan petugaspun sangat sibuk. Sangat mendebarkan, tak lama lagi keberangkatan itu akan tiba. Tak usai sampai disini, kamipun mondar mandir menelusuri gerbong kereta, kursi reserved! Sebagian orang punya reservasi online dan kami tidak melakukan itu. Mengangkat barang-barang dan anak-anak yang cukup merepotkan. Hingga akhirnya kami bisa duduk walau terpisah-pisah dan berkenalan baik dengan keluarga asli Budapest yang bisa berbahasa inggris.

Di setiap sudut kota Budapest sangatlah cantik, bahkan kecantikan kota ini menjadikan Budapest diakui UNESCO sebagai World Heritage site sejak tahun 1987. Kamipun menuju airbnb yang tidak jauh dari stasiun yang dikelilingi oleh bangunan tua sepanjang jalan. Penginapan kamipun di bangunan tua, 3 lantai putaran dan tidak ada lift. Jangan heran, kalau semua bangunan tua di Budapest tidak ada lift.

Mau kemana di Budapest? Buda Castle Hill, Matthias Church, Fisherman’s Bastion, Hungarian Parliament, St. Stephen’s Basilica, sampai Heroes Square. Fisherman’s Bastion adalah bangunan bergaya neo-gothic dan neo-roman yang memiliki 7 menara dan terletak di Castle Hill. Ah..Budapest kota yang menawan dan murah, rasanya seolah sedang di tanah air dengan kuliner serba murah.

 

Vienna

DSCF9084

Berlibur ke eropa timur tidak lengkap kalau tidak mengunjungi Vienna. Kota modern yang ngehits dengan musik, sejarah, seni, pop culture dan wisata kuliner bisa kita dapatkan di kota yang terletak di pinggir sungai Danube ini. Atau ada yang teringat film 99 Cahaya Langit Eropa, film yang berdialog tentang jejak-jejak sejarah Islam di benua biru. “Stephenplazt”, bangunan Gereja Stephen’s Cathedral yang begitu cantik. Konon gereja ini mulai dibangun sejak tahun 1200 dan selesai dalam waktu 650 tahun. Bangunan – bangunan tua di Wina ini tampak sangat terawat dan unik sekali. Saat menelusuri pojok-pojok kota rasanya seperti hidup di abad 18 apalagi saat melihat kereta kuda melintas di depan mata.

Mencari makanan halal

Menyinggahi negara-negara di Eropa Barat yang biaya hidupnya pada umumnya tinggi, namun sangat berbeda dengan negara-negara Eropa Timur ini. Khususnya Praha & Budapest sangatlah murah. Jadilah kami sepakat untuk kuliner di 2 negara ini. Mencari makanan halal? Cukup mudah. Restoran thailand, aneka kebab dan restoran India. Sebut saja nasi kari India 3 porsi besar paket lengkap dapat kami nikmati hanya 10 euro (hhmm yummy!). Harga makanan disupermarketpun lebih murah dibandingkan Belanda. Hanya roti yang agak susah menemukannya. Berbeda halnya dengan Vienna ibukota Austria ini. Kami hanya menyinggahi makanan halal kebab yang harganya hampir sama dengan Belanda, membeli bahan makanan dan memasak makanan sendiri tentunya pilihan lebih hemat.

 

Berburu oleh-oleh

Great Market Hall Budapest, pasar cinderamata yang luas dengan gedung arsitekturnya nan cantik. Karena terkenalnya, pasar ini menjadi salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi. Berbagai suvenir dan makanan disediakan disini. Konon katanya untuk berburu oleh-oleh yang murah, makin kebelakang harganya makin miring. Tentu tips ini boleh dicoba hehe..

Di Praha pusat suvenir itu tersebar disepanjang jalan menuju old town. Vienna pun kami menemukan suvenir disekitar lokasi kunjungan turis dengan harga yang lumayan mahal.

 

Oleh-oleh yang dicari? Seperti hal umumnya, pajangan lemari, tempelan kulkas dan postcard. Dan suami koleksi tumbler. Eits, ada oleh-oleh yang lebih ngehit bagi ibu-ibu, berburu buku-buku/mainan di toko bekas 😂 Karena di Belanda sendiri kami sulit menemukan buku berbahasa inggris buat anak, bermula dari iseng dan nekad mengunjungi secondhands shop dari google maps. Yes! Setumpuk buku-buku favorit seperti usborne, eric carle, oxford dll kami boyong pulang. Memang rezekinya hehe..

Kondisi muslim diberbagai negara

Berada di negara minoritas muslim khususnya Belanda, tidaklah menjadi asing. Tolerasi dan keanekaraman budaya tidak jadi persoalan. Namun beda halnya menelusuri kota-kota tua di Praha dan Budapest. Saya jarang sekali berpapasan dengan muslimah, jilbab yang menjadi identitas seorang muslim. Tak jarang uluran jilbab ini menjadi sorotan oranglain. Bahkan ketika kami melewati sebuah katedral besar yang salah satu tujuan turis, saat itu berkumpul warga Budapest yang sedang memperingati hari kematian raja. Cukup mendebarkan banyak sorot mata yang tertuju pada saya yang memakai jilbab.

Budayapun berbeda, Belanda yang terkenal ramah dan suka menolong. Namun, hal berbeda bagi budaya Eropa Timur khususnya Praha & Budapest. Jadi teringat disaat kami menggotong stroller dan menggendong bayi dengan repotnya berdiri di bus dan tidak ada satupun pemuda yang mengorbankan bangkunya. Eit, ga masalah kok! Dari sini saya belajar banyak hal, kalaulah budaya itu tidak ada, apakah kebaikan itu akan terus melekat? Sedangkan Islam mengatur segalanya.

Eindhoven, summer 2017

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *