Sekolah Anak,  Spiritual Journey

Parents Meeting- Autumn 2017

“I think the rapport of Yaqdzan is still at your home. Can you bring it to school as soon as possible? I need it to make a new one for next week” sejenak membuka notifikasi email dari gurunya Yaqdzan. Loh rapportnya Yaqdzan kok masih di rumah, harusnya udah diserahkan kepada pihak sekolah sejak summer lalu.

Dingin mulai menyapu, daun-daun usai berguguran, burung-burung summer berganti meninggalkan negeri ini. Sore itu kami menapaki likuan jalan yang sepi, lilitan syal dan sarung tangan. Tarieq Ibnoe Ziyad yang tak jauh dari rumah.

Ini pertemuan kami yang ke-3 memenuhi pangggilan pihak sekolah, setiap pembagian rapport Yaqdzan. Kalau sistem pendidikan basisschool di Belanda pembagian rapportnya 4x dalam setahun. Setiap pembagian rapport kami punya hak untuk bertemu dengan guru kelas, berdiskusi tentang perkembangan anak. Penilaian rapport sebelumnya ada beberapa aspek diantaranya tentang kognitif, matematika, bahasa, sikap dan kemandirian. Kali ini Rapportnya agak berbeda hanya narasi perkembangan anak secara keseluruhan.

Apa kata gurunya tentang Yaqdzan?

 

DSCF1808
Perjalanan pulang sekolah jalan kaki sekitar 15-20 menit

Yaqdzan anak baik dan pemalu suka bermain dengan siapa aja di kelas. Suka dengan matematika, senang berkompetisi, sangat gembira mendapat apresiasi dari gurunya entah pujian ataupun hanya dengan 1 buah sticker. Punya daya konsentrasi yang bagus, fokus dan kemampuan kognitif baik . Mengenal angka 1-20, shape, color. Di kelas sudah mulai berbicara walaupun dengan suara yang pelan dan kadang guru sulit memahaminya.

Eits, saya bercerita demikian bukan menjadikan Yaqdzan paling hebat. Tapi seperti inilah guru memberi feedback terhadap anak-anak. Kemampuan berhitung anak-anak tidaklah utama, bukan menjadikan anak menjadi pertama dan belakang. Bahwa setiap kebaikan sekecil apapun inilah yang menjadi penilaian. Bahwa anak punya skill apiknya masing-masing. Dan apa yang dialami Yaqdzan hari ini, bisa jadi hal positif lain bagi temannya.

Termasuk kami mendiskusikan soal ketidaknyamanan yang dialami Yaqdzan beberapa bulan lalu, kalau teman besarnya sering mengajaknya bermain dengan cara yang kurang menyenangkan. Kemampuan fisik anak-anak Asia mungkin tidaklah sekuat anak-anak Eropa. Kalau dulu saya pernah sharing soal kegiatan outdoor anak-anak di sini, mereka memang lebih. Anak-anak sejak mulai berjalan tidak ada larangan bahkan disupport untuk melakukan motorik kasar yang “ekstrim”.

Hal ini juga yang akhir-akhir ini kami dapatkan dari Yaqdzan. “Bunda aku ga mau sekolah, karena ga mau main sama F tapi F maunya sama Yaqdzan” ujarnya. Di saat sesi outdoor Yaqdzan selalu diajak bermain oleh F tetapi F sering mendorong yang membuat Yaqdzan ga nyaman. Sayapun pernah menyaksikan bagaimana anak itu bersikap.

Namun kami akhirnya melaporkan hal ini pada pihak sekolah. Dan guru sangat terbuka kok. Hal ini akan menjadi perhatian lebih dan catatan sendiri untuk Yaqdzan. Dan disaat parents meeting gurunya juga membahas hal ini. Kalau Yaqdzan sering laporan tidak ingin bermain dengan F. Tetapi suatu ketika Yaqdzan juga sering bertanya pada gurunya, bolehkah aku main sama F. Loh? Hehe.. Mengingat kebaikan setiap orang, sekecil apapun. Tanpa ada dendam yang mengakar mungkin ini pelajaran buat bundanya.

Kamipun sempat menanyakan seputar membaca dan menulis kapan anak-anak akan memulai? Karena sampai hari ini Yaqdzan tidak ada progress untuk mulai membaca atau menulis. Di sekolah diperkenalkan sekedar memperkenalkan huruf dan angka. Bahwa disini untuk membaca dan menulis benar-benar baru dimulai sejak grup 3 usia 7 tahun keatas. Bagaimana dengan belajar hijaiyyah atau membaca Alquran, pun dimulai dari grup 3. Anak-anak dibawah 7 tahun utamanya pada story telling seputar keislaman, mengenal sejarah Islam, belajar shirah nabi dan hafalan surat pendek.

Soal kendala bahasa yang dialami Yaqdzan gimana nih?

Sampai hari ini Yaqdzan terus mendapat bimbingan dari logopedie, lembaga yang mensupport bahasa khusus anak-anak internasional yang diikuti sepekan sekali. Program ini gratis difasilitasi oleh negara, namun harus bersungguh-sungguh mengikutinya. Loh kenapa? Karena progress anak akan akan ada laporan detailnya kepada negara. Suatu ketika kami di rumah tidak mengulang homework dari logopedie karena bertemakan sinterklaas hehe..jadilah waktu evaluasi pertemuan berikutnya mendapat teguran dari guru karena kok Yaqdzan tidak ada kemajuan dari pekan sebelumnya. Namun homeworknya anak-anak menyenangkan kok, ringan disajikan dalam bentuk permainan. Entah bermain kartu, tebak-tebak an, coloring atau menempel. Lalu apa lagi peran kami di rumah? tetap menggunakan bahasa ibu. Dan untuk Dutch language ini biarlah Yaqdzan belajar dengan gurunya. Karena kami sendiri tidak bisa berbahasa Dutch dan seringnya mendapat koreksi dari pemuda kecil ini. Bundanya disuruh nyanyih  Dutch yang diajarkannya berkali-kali namun nativenya selalu tidak benar hehe..

Apalah makna pendidikan kalau hanya sekedar mencapai nilai, bukan “nilai”. Apalah makna pendidikan hanya menjadikan anak-anak yang pintar. Bukankah robohnya generasi karena akhlak yang tidak utama. Apalah makna pendidikan kalau anak terus belajar di kamar sementara ibunya yang meminta bantuan dia acuhkan. Bukankah tinta emas sejarah telah menuliskannya kalau akhlak mulia seorang muslim, puncak tertinggi berukhuwah. Layaknya kaum Anshar saat menyambut kaum muhajirin, berlomba-lomba memberikan apa yang mereka punya, padahal mereka sendiri butuh.

Eindhoven, Autumn 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *