Eindhoven,  Travelling

Travelling Bersama Bayi dan Balita (Perjalanan Antar Negara/Kota di Eropa)

 

DSCF5359
Plaza De Espana, Sevilla

Kali ini saya akan sharing pengalaman kami seputar travelling bersama bayi dan balita, mengunjungi kota-kota antar Belanda maupun negara tetangganya dengan transportasi kereta api, pesawat, metro, tram ataupun bus. Singkatnya pengalaman saya membawa Faiha saat usia 1 bulan, 3 bulan, 6bulan dan 1tahun. Dan kakaknya berusia 5 tahun an.

Travelling antar kota di Belanda

Sebetulnya bepergian antar kota dalam Belanda cukup nyaman dan menyenangkan bersama bayi. Orang-orang Belanda pada umumnya ramah dan senang membantu. Melihat para ibu yang membawa stroller menuju kereta api misalnya selalu ada saja yang ingin membantu. Pengalaman saya membawa bayi dan kakaknya keluar kota dengan transportasi kereta api sebetulnya selalu bersama suami atau teman, yang ikut membantu mengangkat stroller. Transportasi dalam kota lainnya seperti di Denhaag/Amsterdam ada yang menggunakan tram/bus, yang cukup mudah bagi pembawa stroller sehingga tidak perlu diangkat.

So, apa yang biasa kami persiapkan?

1. Perbekalan makanan

Perbekalan, biasanya ini hal wajib yang kami siapkan kemanapun pergi. Baik makanan berat ataupun cemilan. Sebut saja roti dan apel menjadi makanan simple dan cukup gampang pengganjal lapar. Nasi biasanya saya siapkan menggunakan aluminium foil yang sudah dicampur lauk, lalu tinggal makan. Jadi kemasannya seperti kebab. Dan juga air minum biasanya kami cukup membawa 1-2 botol air minum dan sisanya kami akan mengisi ulang air di public water tap atau toilet. Iya, air di Belanda dimanapun itu sudah siap minum.

Bagi bayi yang sudah memulai Mpasi, hal ini juga menambah list bawaan. Kalau awal Mpasi biasanya saya selalu bekal roti untuk Faiha. Makanan lainnya dengan menu lengkap seperti kentang, wortel, ayam juga dipersiapkan. Saya lebih memilih kentang/ubi sebagai karbohidratnya terutama disaat musim dingin. Karena biasanya nasi dalam kondisi dingin kurang enak dimakan. Jika merencakan makan di restoran biasanya diperbolehkan untuk ikut memanaskan makanan bayi.

2. Stroller dan gendongan

Biasanya kereta antar kota menyediakan space untuk stroller dimana para ibu bisa duduk didepannya. Tetapi jika tidak menemukan ini, kami biasanya menggendong Faiha untuk duduk didalam gerbong. Belanda sendiri sangat stroller friendly bahkan jarang melihat para ibu menggendong bayi. Begitupun kami jika mengunjungi kota-kota di Belanda tidak membawa gendongan.

3. Mainan

Ini juga hal penting untuk menemani si kecil selama perjalanan. Digantung distroller misalnya atau disaat perjalanan dikereta.

4. Pakaian

Diapers, baju ganti, plastik popok, tissue basah, perlak ini perlengkapan yang biasa dibawa. Kalau bayi pup carilah tempat pengganti popok yang sudah disediakan, biasanya toilet-toilet stasiun menyediakan. Saya sebenarnya agak malas mencari tempat untuk sekedar ganti popok, distroller saja sudah cukup hehe..Tetapi norma ini lebih baik diterapkan untuk kenyamanan publik. Juga menyesuaikan dengan cuaca, mungkin disaat musim dingin jaket overall cukup hangat bagi bayi. Tetapi didalam ruangan biasanya agak kegerahan. Jadi saya biasanya saya membawa sweater tambahan untuk Faiha.

5. Mengatur jadwal makan

Perkirakan lama perjalanan dan waktu sampai di kota tujuan, untuk mengatur jadwal makan si kecil. Bagi kami roti dan buah cukup membantu diwaktu-waktu tertentu. Kalau sudah jadwal makannya Faiha misalnya, tetapi beberapa saat lagi akan turun kereta, saya memberikan roti dahulu. Ataupun bagi Yaqdzan, ayah dan bundanya roti dan buah cukup menjadi pengganjal.

Juga jika anak-anak rewel atau bayi menangis sepanjang jalan, hadapi dengan tenang. Apalagi sedang buru-buru akan turun kereta si kecil sedang rewel. Biasanya warga Belanda cukup baik merespon hal ini, terutama para nenek yang sangat sangat ramah pada anak-anak. Tak jarang jika Faiha menangis, disapa dan dihibur nenek-nenek loh.

Travelling antar negara di Eropa

Kalau travelling antar kota di Belanda kami biasanya hanya 1 hari tanpa menginap, beda halnya saat mengunjungi negara-negara tetangga seperti Paris, Jerman, Spanyol, Praha dll. Transportasinya pun berbeda dari bus, kereta hingga pesawat. Persiapannya pun berbeda pula. Dan perjalanan sekitar 3 jam baik bus/kereta/pesawat. Pengalaman trip kami ke Eropa Timur saya ulas disini .

1. Barang bawaan

Bawalah barang sesimple mungkin dan seminim mungkin. Tapi actualnya bepergian dengan anak-anak selalu menambah barang bawaan. Sebut saja untuk travelling selama 8 hari dengan menggunakan pesawat biasanya kami membawa 1 koper cabin, 1 backpack tinggi 50cm , backpack untuk dokumen, 1 tas makanan, stroller, kamera dan tripod.

2. Penginapan

Soal penginapan kami selalu mencari yang low cost dan strategis tetapi nyaman bagi anak-anak. Memilih lebih dekat dengan tempat wisata dan bisa diakses dengan jalan kaki pilihan yang utama sehingga tidak mengeluarkan biaya transportasi tambahan.

Lalu memilih penginapan yang menyediakan dapur dan mesin cuci selalu menjadi pertimbangan, biasanya kami memilih airbnb. Dapur dan mesin cuci ini penting untuk menghemat biaya makan dan meminilisir barang bawaan. Bagaimana dengan hotel? Kami jarang sekali memilih hotel kecuali kalau harga airbnb tinggi sekali. Sebut saja Dusseldorf (Jerman) saat itu sewa airbnb lebih mahal dari hotel. Akhirnya kami memilih hotel dengan harus membawa rice cooker untuk memasak. Ataupun memilih hostel-hostel jika airbnb tidak sesuai budget.

Sekilas perbedaan hotel, hostel dan Airbnb dengan fasilitasnya dari pengalaman kami. Hotel, private room yang sudah include kamar mandi didalam namun tidak ada dapur. Hostel, private room yang tidak ada dapur dan kamar mandinya sharing. Airbnb, private room ada yang include kamar mandi, dapur, dan mesin cuci. Kondisi ini adalah paling ideal. Selain itu airbnb yang pernah kami temui juga menyediakan microwave, kulkas dan segala peralatan masak. Terkadang ada yg menyediakan kipas angin, biasanya kami gunakan untuk mengeringkan pakaian. Namun Airbnb juga ada yang sharing bed, misal 1 kamar terdiri dari 7 bed bergabung dengan penghuni lainnya. Tentu ini sangat tidak memungkinkan bagi kami yang membawa anak-anak. Kami juga pernah menemukan Airbnb yang private room namun dapur dan kamar mandinya sharing. Jika kondisi seperti ini memasaklah paling pagi dan usahakan meminilisir bau-bauan. Misalnya sedang memasak nasi atau mie goreng usahakan membuka jendela. Lalu bersihkan dan rapikan peralatan seperti semula. Biasanya jika penghuni Airbnb non Asia mereka jarang sekali menggunakan dapur. Mungkin sesekali mereka akan mengambil air panas untuk membuat kopi.

Begitupun dengan penggunaan kamar mandi aturlah sedemikian rupa. Bagi yang membawa bayi dibawah 6 bulan, mungkin wastafel bisa menjadi solusi untuk memandikan bayi. Memilih mandi pada malam hari sepulang bepergian seharian juga cara cukup efektif agar paginya tidak buru-buru.

Dan juga fahami terlebih dahulu bagaimana prosedur dengan pihak Airbnb pada saat check in dan check out, bagaimana cara membuka kunci dan mengembalikannya. Dan komunikasi dengan pihak airbnb apakah bisa bahasa inggris atau tidak.

3. Perbekalan makanan

Travelling beberapa hari tentu berbeda dengan satu hari saja. Jika membawa bayi dibawah 6 bulan kondisi ini cukup mudah sebenarnya karena tidak harus menyiapkan makanan. Namun membawa bayi usia 6 bulan keatas agak berbeda. Kami pernah membawa Faiha travelling yang baru saja Mpasi. Pilihannya membawa makanan instan atau memasak dikota tujuan. Saya memilih keduanya, memasak makanan Faiha dengan membawa hand blender, saringan, alat makan beserta umbi-umbian, kacang-kacangan dan sayuran untuk stok diawal kedatangan. Selanjutnya mencari supermarket terdekat untuk menambahkan telur dan ikan-ikanan. Kami juga jarang membeli daging atau ayam karena susah menemukan toko halal.

Pun berbeda kondisinya membawa Faiha disaat usia 1 tahun yang sudah ikut makanan keluarga. Satu hal yang saya usahakan adalah berusaha mencukupi makanannya dengan menu seimbang. Terutama sayur, entah memasak atau mendapatkannya dari makanan instan. Di Belanda sendiri terdapat makanan instan dengan menu lengkap, kami selalu membawa makanan botol ini. Misalnya saja, makanan vegetarian terdiri dari pasta, tomat, wortel, brokoli. Ataupun campuran tuna, tomat, kacang, pasta. Saya juga tidak sungkan memilih makanan ini karena sudah diseleksi dan diatur dengan baik oleh bagian gizi.

Jika ada dapur, ini kondisi sangat ideal untuk bisa memasak apapun baik kebutuhan bayi maupun keluarga. Untuk anggota keluarga lainnya biasanya kami membawa bekal seperti rendang, tempe orek, ayam serundeng, sambel dan juga indomie. Beras biasanya kami sediakan untuk stok diawal kedatangan. Kenapa membawa beras? Karena kami tidak memungkinkan untuk menggantikan nasi dengan roti berhari-hari. Tak lupa cemilan selama perjalanan. Dikota tujuan kita bisa membeli telur, sarden, udang sebagai lauk tambahan. Lalu sesuaikan dengan kondisi negara tersebut. Misalnya Budapest menurut saya harga bahan makanan dan lainnya cukup murah. Selain membeli berbagai cemilan, makan direstoran India juga menjadi pilihan kami. Karena harganya sangat murah hampir sama dengan harga di Indonesia. Ataupun kota-kota Andalusia misalnya, mempunyai banyak seafood yang murah bisa menjadi pilihan untuk bahan masakan. Dan jangan lupa mengecek supermarket terdekat, terutama untuk keberadaan beras. Karena tidak semua toko menyediakan beras biasanya tersedia di toko Asia dan toko Turki.

photo_2018-02-28_12-53-15

Ga ada dapur, lalu gimana?

Rice cooker adalah barang wajib yang harus dibawa. Selain untuk memasak nasi juga biasanya kami gunakan untuk membuat indomie, merebus telor ataupun sayur. Dan juga bawalah sedikit bumbu-bumbu seperti garam, lada bubuk. Pelengkap rasa jika menginginkan memasak sesuatu. Kami juga sudah membuktikan 5 hari tanpa dapur semuanya dimasak oleh rice cooker , mantap sekali 😀

Selain itu biasanya saya selalu berbekal aluminium foil, piring plastik, sendok garpu plastik, dan plastik ziplok. Tidak membawa kotak nasi sama sekali karena untuk meminilisir barang bawaan. Aluminium foil biasanya kami gunakan untuk membungkus nasi untuk makan diluar yang sudah dicampur lauk seperti rendang/serundeng ayam. Diaduk-aduk bungkus dan makan seperti halnya kebab. Cara ini bagi kami cukup praktis, tidak repot membawa kotak nasi, lebih simple makan dimana saja dan tidak sungkan kepada orang luar karena cara makan kita tetap sama hehe..Piring dan sendok kami gunakan untuk makan di tempat penginapan, sekali pakai dan dibuang.

4. Pakaian

Kondisi idealnya adalah mencari penginapan yang lengkap dengan mesin cuci untuk mengurangi pakaian yang dibawa. Biasanya mesin cuci ada yang sudah include semuanya dengan penginapan jadi tidak perlu biaya tambahan dan ada juga dengan biaya tambahan. Misalnya 10 euro per 3 hari.

Kami juga mengalami travelling selama 9 hari (3 negara) semuanya menyediakan mesin cuci. Dan travelling 8 Hari (4 Kota) dengan keberadaan mesin cuci hanya dikota ke-3. Jadi kami harus menyiapkan pakaian ganti untuk 2 kota pertama. Sebetulnya pakaian yang banyak itu pakaian anak-anak. Kalau saya dan suami hanya membawa 2 set pakaian untuk 2 kota pertama selama 4 hari. Karena winter jadi ga keringetan juga.

Lalu pertimbangan selanjutnya jaket, cek dahulu bagaimana cuaca kota tujuan. Seperti halnya pengalaman lalu, winter di Eindhoven dibawah 5°C dan kami memakai jaket winter. Ketika mengunjungi Spanyol, suhunya 15°C-20°C jaket winter yang kami pakai dari Eindhoven tidak cocok. Jadi saya membawa coat spring dan jaket spring bagi anak-anak.

Bagi bayi yang masih memakai diapers juga pertimbangkan akan membawa diapers seluruhnya atau membeli dikota tujuan. Perlu diingat, pada umumnya diapers dikota-kota Eropa jarang menjual satuan.

5. Stroller dan gendongan

Kedua hal ini merupakan barang wajib yang harus dipertimbangkan terutama kenyamanannya. Travelling menggunakan pesawat tentunya menggunakan stroller seringkas mungkin. Apalagi jika tidak membeli bagasi, barang bawaan semuanya akan ditenteng sampai ke gate menjelang naik pesawat. Begitupun dengan stroller. Maka diawal perjalananpun bagi saya gendongan bayi wajib digunakan. Dan juga pada umumnya pesawat murah antar Eropa tidak memberikan bagasi, setiap penumpang diberikan jatah 10kg barang cabin. Menurut saya ini kondisi ideal agar kita betul-betul menyeleksi barang bawaan. Juga gendongan terpakai khususnya negara yang tidak ramah stroller ataupun disaat menggunakan transportasi metro bawah tanah seperti di kota Paris, Madrid dan juga kota-kota Italy. Hampir selalu kami menggendong Faiha dan mengangkat stroller naik turun tangga yang ga terhitung jumlahnya :D. Juga mengunjungi tempat wisata yang bersejarah biasanya ada larangan untuk tidak membawa stroller. Sebut saja istana Versailles Paris, Al Hambra Granada yang sangat luas harus dijelajahi dengan berjalan kaki. Jadi gendongan sangat membantu. Pilihlah gendongan yang simple dan nyaman digunakan. Trip kami ke Paris disini.

DSCF6018
Bukit Alhambra

6. Perlengkapan tambahan

Ini sebetulnya hal-hal kecil tapi sering kali terlupa. Peralatan mandi ataupun kosmetik. Seperti sabun mandi, odol, sikat gigi, facial wash, sunscreen wajah, krim pelembab untuk kulit kering, dan kebutuhan lainnya. Dan juga biasanya saya membawa sabun cuci piring, untuk mencuci tempat makan Faiha. Karena tidak semua Airbnb menyediakan sabun cuci piring, membawa lebih baik dari pada membeli disupermarket setempat yang biasanya tersedia kemasan besar. Jangan lupa cek semua cairan maximal hanya 100 ml/ item atau cairan dimasukin kedalam botol travelling yang sudah dikemas per 100 ml.

Juga makanan dan minuman bayi bawalah secukupnya, tidak usah takut dicek oleh petugas jika memang dibutuhkan oleh bayi nantinya. Dan jangan lupamembawa vitamin D untuk kebutuhan anak-anak terutama disaat winter. Seperti makanan bayi yang cair, air minum, termos, susu cair insya allah tidak ada larangan untuk dibawa.

Saran saya disaat check in selalu pisahkan elekronik dan cairan ke dalam plastik ziplok. Termasuk rice cooker agar memudahkan pengecekan oleh petugas. Kami juga sempat ditanya soal rice cooker, tapi mereka faham dan ketawa gitu 😁

7. Itinerary yang detail

Ini point utama disaat kami travelling terutama di kota-kota diluar Belanda. Jangan malas membuat itinerary yang detail, agar tidak menghabiskan banyak waktu untuk mengecek sesuatunya. Suami saya termasuk tipe pembuat itinerary yang sangat detail, bahkan jam berapa kami berangkat dari rumah sudah jelas semuanya. Pun toko halal, supermarket, rencana kuliner sudah direncanakan. Dan fleksibellah dengan itinerary yang dibuat karena membawa anak-anak.

8. Bahagiakan anak-anak

Travelling bersama anak-anak akan melelahkan dan juga membahagiakan. Berkunjung ketempat-tempat wisata belum tentu membahagiakan bagi anak-anak. Tak jarang kami juga menyinggahi taman bermain, duduk berjam-jam menunggu Yaqdzan berlari-lari mengejar gelembung sabun yang dipertunjukkan disana. Pengalaman trip kami ke Spanyol disini.

DSCF5328
Setia menunggu pertunjukan abang gelembung sabun

9. Carseat

Jika bepergian antar negara di Eropa dengan menggunakan bus sebagian ada yang mewajibkan anak-anak menggunakan carseat. Sebut saja, Flixbus Eindhoven – Paris dengan jarak tempuh 3 jam, anak-anak diwajibkan membawa carseat. Bus Alsa antar kota di Spanyol tidak mewajibkan menggunakan carseat. Selalu cek dan pastikan aturan setiap negara. Jika harus menggunakan carseat tentu akan menambah barang bawaan, mungkin mencari alternatif transportasi lain akan lebih baik. Trip ke Dusseldorf Jerman disini.

10. Keamanan

Siapa duga kalau negara-negara Eropa yang maju tidak semuanya aman. Bahkan beberapa kota seperti Paris, Roma, Barcelona sudah terkenal dengan copetnya. Berhati-hatilah disaat perjalanan. Mungkin yg membawa anak- anak, banyak membawa barang bawaan dan wajah Asia akan diidam para pencopet. Saling menjaga dan tetaplah waspada.

Waktu kedatangan/pulang juga harus dipertimbangkan, biasanya harga pesawat murah rata-rata akan landing malam hari. Cek kembali apakah kota tujuan aman pada malam hari dan bagaimana transportasi menuju penginapan, apakah berjalan kaki, menggunakan bus atau taxi. Di kota Sevilla misalnya ketika kami landing jam 22.00 , mulanya kami akan menggunakan taxi menuju hostel, konon kabarnya karena kami tidak bisa berbahasa Spanyol akan mendapat harga taxi cukup mahal. Jadilah bus dari airport ke hostel menjadi pilihan, perjalanan 30 menit hanya membayar 2 euro an. Dan tidak menyangka jam 12 malam kota Sevilla ini masih ramai, restoran masih buka. Berbeda halnya dengan Budapest, jam 21 berjalan kaki 15 menit menuju airbnb sudah sepi dan gelap.

Seperti inilah pengalaman travelling kami bersama anak-anak. Untuk bepergian beberapa hari saja barang bawaan rasanya repot betul. Tetapi bersyukurnya kalau anak-anak sangat kooperatif. Yaqdzan sesekali naik stroller dan adiknya di gendong karena kami sudah melewati perjalanan berjam-jam dengan berjalan kaki. Terkadang Yaqdzan menagih makan diluar atau ingin membeli mainan tetapi setelah bernegosiasi, Yaqdzanpun mengerti. Faihapun begitu tenangnya ketika dipesawat, melewati perjalanan yang berkelok 3 jam di bus dan sesekali menangis di stroller tetapi ayah bunda tidak bisa menggendong. Ya, perlu hati yang lapang menyimak tangisan bayi 😀

Tak jarang juga kami kepayahan melewati semuanya, begitu sampai di penginapan untuk beristirahat begitu melegakan. Tak jarang juga kami saling mengingatkan untuk melantunkan doa ketika perjalanan dan ketika kegembiraan itu berlebih tergantikan oleh haru dan doa yang terucap “semoga jalan-jalan kita berkah ya”. Juga perbanyak istigfar agar Allah menjaga dari segala keburukan.

Eindhoven, 28 Februari 2018

#kota yang pernah kami kunjungi adalah Paris, Dusseldorf (Jerman), Praha, Budapest, Vienna, Spanyol (Sevilla, Cordoba, Granada, Madrid). Kami berangkat dari Belanda, bagi yang menanyakan itinerary boleh ya 🙂

33 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *