Spiritual Journey

Membangun Rasa dengan Baca dan Menulis Bersama Komunitas

photo_2018-03-09_07-26-12

Sejak kapan ya saya punya cita-cita untuk menulis? Menuliskan sesuatu tentang banyak hal agar saya peka setiap saat, mengurai yang sederhana dan memberi banyak manfaat serta kebaikan, berpacu dengan waktu bahwa hidup di dunia tak kan lama.

Mulanya saya gemar membuat mainan prakarya sendiri (diy toys) bersama Yaqdzan. Dua tahun berjalan ide saya muncul untuk menyalinkan pada sebuah rumah yang bisa diakses dengan mudah. Melihat artikel ide bermain dari web luar negeri misalnya, cukuplah sederhana tetapi menambah apa yang sebelumnya saya tidak ketahui. Blog! Akhirnya saya menghadirkan rumah baru ini untuk menulis. Kontennya tidak jauh berbeda, semuanya seputar bermain anak, entah aktivitas prewriting, bagaimana kami membuat monster untuk mengenalkan tanda baca Al Quran, membuat diorama untuk Yaqdzan dll.

Ah saya senang, bisa menuliskan semuanya walaupun kontennya senada. Tetapi yang membahagiakan saya mendapat support dari suami, beliaulah orang pertama yang selalu mensupport saya, turut berkontribusi baik mengurus blog, menuangkan ide hingga pernah menjadi editor tulisan saya yang banyak typonya :D. Kalau tidak ada pengunjung yang mampir ke blog saya, tenang saja suami saya pengunjung setia hehe. Hingga akhirnya menulis adalah suatu “keseriusan” bagi saya.

Takdirpun membawa kami ke negeri kincir angin ini, saya harus peka pada lingkungan hingga kepekaan, asa dan rasa bisa saya tuangkan pada tulisan. Dari Diy toys kini serba serbi hidup di Belanda saya mengurainya. Bagi saya ini tidak mudah loh. Sebut saja untuk menuangkan maternity care di Belanda, saya harus menuliskan sub temanya dahulu, blog walking ini penting sekali, mensingkronkan antara pengalaman dengan realnya hingga saya mengadakan survey kecil-kecilan pada pihak RS. Belum lagi memulainya, menulis 1 blog itu tidak 1 jam beres. Hingga kini? Iya hehe..

Konsisten itu penting!

Salah satu kunci kesuksesan adalah konsisten. Konsisten dengan sesuatu yang sedang kita jalani. Sekecil apapun itu. Pun Allah juga menyukai amalan yang sedikit tetapi berkelanjutan. Menulis juga begitu, kuncinya menulis lagi, terus menulis dan menulis. Agar terus konsisten? Ikut komunitas! Iya komunitas, bagi saya komunitas menambah banyak teman, selalu diingatkan kalau kita punya tujuan sama, dan bersemangat bersama.

Ikut kelas menulis

Saya tidak menyangka kalau untuk menulis ada ilmunya. Meskipun dahulu kala saya pernah sekilas mengikuti forum lingkar pena (FLP) tapi ga mudeng. Lalu saya memutuskan untuk mengikuti sebuah kelas online namanya jari peniti yang dibimbing oleh seorang mentor. Dari sinilah bermula saya mendapat banyak ilmu dan memperbaiki semangat dan niat kalau saya akan terus menulis.

Januari, 30 hari bercerita

Sahabat sholihah mengajak saya untuk ikut program 30 hari bercerita, 30 hari di bulan Januari kita akan menulis di instagram. Tentang apapun itu dan setiap pekan biasanya ada tema dari admin. Seru! Ribuan orang loh ternyata pengikutnya. Menulis diinstagram ini ibaratnya menulis sebuah cerpen, beda halnya dengan blog pikir saya. Eits, meskipun cerita singkat, program ini betul-betul melatih kepekaan saya. Sebuah cerita yang tak sekedar cerita, ada setitik hikmah yang hadir.

Tuntas mengikuti? Bisa, meskipun ada tulisan ganda yang dipost karena keterlambatan saya. Skip tidak mengikuti tema karena terlalu sulit bagi saya hehe. Kehabisan ide, ingin berhenti saja juga terlintas. Tetapi ini challenge buat diri saya sendiri, terus bergerak dengan ketidaknyamanan, dan terus saja menulis.

Komunitas 1m1c (1 minggu 1 cerita)

Komunitas blogging yang mensupport kita untuk menulis blog minimal 1x sepekan dengan konsisten. “Menulislah walau #1minggu1cerita” begitu slogannya komunitas 1m1c. Komunitas ini seperti menyambut saya dengan bahagia, loh kenapa? Sebelumnya saya juga komitmen untuk bisa menulis 1 blog per pekan. Sahabat saya yang di Amerika, menjadi partner saya untuk saling setor blog mingguan. Beliau pula yang mengajak saya untuk ikut komunitas 1m1c.

Wow, saya bertemu dengan para penulis kece disini mulai dari author buku, teman-teman yang punya sejuta pengalaman menulis. Di sebuah grup WhatsApp kami berkumpul, jika hari senin itu tiba teman-teman 1m1c berlomba-lomba untuk “congkak” menyetorkan tugas masing-masing, setor tulisan diawal minggu hehe..luar biasa. Teman-teman 1m1c juga ramah sekali untuk berdiskusi soal buku, proyek menulis dll.

Gerakan_1week1book

Menurut data statistik dari UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah. Peringkat 59 diisi oleh Thailand dan peringkat terakhir diisi oleh Botswana. Sedangkan Finlandia menduduki peringkat pertama dengan tingkat literasi yang tinggi, hampir mencapai 100% (kumparan.com).

Dan dari data statistik UNESCO ini, saya adalah diantaranya. Iya seseorang yang menjadi bagian dari data literasi rendah itu. Lalu harus bagaimana? Membacakan buku untuk anak sih bolehlah dibilang oke, tetapi untuk diri sendiri sangat minim. Tetapi saya masih punya minat untuk membeli buku, lalu dipajang saja dirak hehe..

Lalu Gerakan_1week1book ini hadir. Kalau saya tidak sendiri disaat membaca, untuk mengupgrade dunia menulispun saya harus banyak membaca, dan banyak mendapat ide buku-buku sumber bacaan.

Bagi saya, komunitas mengubah aktivitas baca dan menulis lebih ringan dan asik. Dengan menulis saya dapat mengikat makna dan manfaat. Dengan membaca saya bisa membuka jendela dunia lebih luas. Bahwa menulis dan membaca paket yang tak bisa dipisahkan.

Eindhoven, 9 Maret 2018

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *