Hamil dan Melahirkan,  Hidup di Belanda

7 Hal “Unik” Maternity Care di Belanda

Awal mula sampai di daratan Eropa saya galau juga. Yaqdzan mulai sekolah full day, saya sedang hamil trimester 2. Kerjaannya cuma di rumah & jemput anak sekolah. Sempat nyari kesibukan bikin Diy montessori. Dan masih galau aja, kok ga produktif sama sekali. Pengen ngelakuin sesuatu gitu, walau sederhana dan ada manfaatnya.

Saya dihubungi oleh salah satu dosen dari Bandung kampus saya dulu, poltekkes kebidanan. Jadi ceritanya kampus akan membuka jenjang pendidikan D4 profesi. Dan saya dimintain tolong untuk mencari informasi bagaimana pelayanan kebidanan dan sekolah bidan disini. Karena Belanda adalah centralnya ilmu kebidanan. Wah challenge juga nih, walaupun saya bantu seadanya, banyaknya dari pengalaman aja bukan secara ilmiahnya. Jadi semenjak itu saya betul-betul peka terutama soal maternity care disini. Tentunya dengan banyak mencari informasi, bertanya pada midwife dan jadi memperhatikan role kesehatan disini.

Berbekal dari pengalaman hamil, melahirkan disini saya pengen sharing tentang maternity care di Belanda, bagaimana negara mengaturnya dan yang membedakan dengan tanah air. Semoga inspirasi bagi kita semua.

1. Kramzoorg

“My job only available in Netherlands, no other countries in the world have this kind of maternity care” begitu ucapan kramzoorg yang masih melekat sampai saat ini. Jadi kramzoorg adalah maternity assisten yang membantu para ibu setelah melahirkan. Di Belanda kramzoorg ini sifatnya boleh dikatakan wajib. Perpanjangan tangan midwife dan tenaga kesehatan lainnya diawal seorang perempuan berganti peran menjadi ibu. Tugasnya ngapain aja? Membantu ibu & bayi, memastikan kesehatan keduanya baik. Diantaranya menggantikan popok, mengajarkan memandikan, membersihkan rumah, menyiapkan makanan, mencuci pakaian, menyetrika dan beres-beres rumah. Terutama untuk memastikan psikologi ibu apakah mengalami stress, memastikan ibu sudah tidur/belum. Selama 8-14 hari postnatal para ibu di Belanda akan dibantu kramzoorg tergantung kondisi ibu setelah melahirkan (melahirkan per vaginam/Sc). Biaya kramzoorg ini tidak gratis tetapi sebagian besarnya dicover negara. Tidak mahal kok dibandingkan manfaat yang didapat.

Baca juga Kraamzorg (Maternity Assistant in the Netherlands) 

2. Homebirth & natural birth

Di Belanda homebirth masih familiar, konon katanya tertinggi di dunia. Proses persalinan homebirth, Belanda sekitar 30%, UK 2%, US 1%, Belgia 1% (www.expatica.com). Artikel lain mengatakan, di negara-negara Eropa lainnya seperti Jerman, Perancis, Inggris, Belgia dan bahkan Skandinavia angka kejadian homebirth tidak lebih dari dua persen dari semua kelahiran.
Kenapa homebirth? katanya nowhere feels like home, melahirkan di rumah ada kenyamanan tersendiri.

Prosedurnya bidan akan datang ke rumah bersama asisten membawa partus set, resutasi neonatal, oksigen dll. Di rumah biasanya dianjurkan untuk memasang bed raiser dan maternity package yang didapat dari pihak asuransi ataupun membelinya sendiri berguna untuk pemeriksaan fisik di awal persalinan dan selama persalinan bagi yang homebirth ataupun postnatal care disaat bidan home visit 2 hari sekali selama 6 hari postnatal dan maternity assistant/kraamzorg.

Tentunya homebirth dianjurkan jika
kondisi ibu dan janin sehat dan tidak ada masalah. Kalau terjadi gawat darurat bagaimana? Midwife akan merujuk ke rumah sakit yang sudah ada alur rujukannya dengan menggunakan mobil ambulans dan rata-rata jangkauan jarak dari rumah ke rumah sakit terdekat adalah 10 menit perjalanan. Alasan paling umum untuk merujuk seorang wanita saat melahirkan adalah cairan mekonium (21,8%), pemanjangan kala 1 (16,2%) dan pemanjangan kala dua persalinan (10,7%) (’08, PRN).

Namun aktualnya hingga kini walaupun homebirth di Belanda paling tinggi dibandingkan negara lain, para ibu banyak memilih melahirkan di rumah sakit. Jika tidak ada indikasi medis maka melahirkan di rumah sakit akan dikenakan tambahan biaya yang tidak dicover asuransi.

Natural birth, obat pengurang sakit saat melahirkan adalah pilihan terakhir yang diberikan jika sangat diperlukan.

3. Peran Midwife

Midwife adalah tenaga kesehatan utama yang berperan dalam melayani kehamilan, persalinan dan 6 hari postnatal. Di Belanda pemeriksaan hamil, persalinan yang fisiologis seluruhnya dihandle oleh midwife. Obgyn hanya menangani kasus patologis. Pengalaman saya dengan riwayat persalinan SC anak pertama, pemeriksaan kehamilan sampai 36 minggu diperiksa oleh midwife. Setelahnya ditransfer ke rumah sakit untuk dicek keseluruhan oleh obgyn, karena kehamilan saya tidak ada masalah maka pemeriksaan selanjutnya kembali dikelola oleh midwife di rumah sakit. USG hanya 2x dilakukan. Dan saya wajib melahirkan di rumah sakit, alhamdulilah atas segala kemudahan melahirkan pervaginam yang dibantu oleh midwife di rumah sakit.

4. Standar perlengkapan bayi yang harus dilengkapi

Standart perlengkapan bayi ini unik menurut saya. Disaat trimester 3 saya mendapat list dari midwife, semuanya soal perlengkapan ibu & bayi yang harus kami persiapkan. Terlihat remeh sih, tetapi begitu detail dan semuanya untuk keamanan & memudahkan segala pihak. Sebut saja pakaian bayi, kami dianjurkan untuk menyiapkan 6 lembar size 50/56 (size terkecil newborn). Bak mandi + stand, meja ganti popok, baby box semuanya untuk kenyamanan ibu dan tenaga kesehatan agar tidak membungkuk. Hal-hal sepele dan bikin ribet tetapi banyak manfaat. Karena ini standart kebijakan disini maka untuk mendapatkan barang perlengkapan ini mudah & murah kok.

5. Cost/biaya

Asuransi adalah wajib bagi setiap orang yang menetap di Belanda. Termasuk maternity care. Meskipun 5 bulan diawal kedatangan kita belum membayar asuransi, namun disaat sudah ada kontrak dengan asuransi maka akan terhitung bayaran dari awal datang. Asuransi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan apakah membutuhkan maternity care atau tidak misalnya. Dari pengalaman saya, datang ke Belanda dalam kondisi hamil saya membayar asuransi 103 euro/bulan hingga sekarang. Jadi pelayanan kehamilan dan persalinan yang saya dapat disini tidaklah gratis, kami membayar asuransi setiap bulan. Dan jika tidak ada asuransi maka biaya pemeriksaan hamil dan yang melahirkan kami keluarkan sangatlah besar. Namun keuntungannya pelayanan kesehatan merata didapat.

6. Vitamin & obat-obatan

Saya tidak pernah mengkonsumsi vitamin apapun selama hamil di Belanda. Karena midwife mengatakan asupan nutrisi saya dan janin sudah cukup dari makanan. Kecuali disaat trimester 1 dianjurkan mengkonsumsi asam folat. Dan vitamin D karena asupan cahaya matahari yang kurang didapat.

7. Langsung pulang

Di Belanda bagi para ibu yang melahirkan di rumah sakit tanpa indikasi medis, 2-3 jam habis melahirkan pulang. Dan datang ke rumah sakit dibolehkan disaat kontraksi setiap 5 menit konsisten dalam 1 jam. Menelepon pihak rumah sakit dahulu. Pengalaman saya datang ke rumah sakit udah pembukaan lengkap (10 cm). Karena bayi lahir dibawah 2500 gram jadi diobservasi 1×24 jam. Kami juga meminta tambahan untuk menginap 1 hari di rumah sakit, tapi tidak diperbolehkan hehe..

Inilah gambaran umum maternity care di Belanda. Namun setiap negara punya nilai lebih dan minusnya. Bagaimana negara lain? Saya tidak belum punya pengalaman dinegara lain. Namun ada yang menarik bagi saya, walaupun Belanda punya banyak kenyamanan seputar maternitynya namun jika membahas soal cuti melahirkan bagi ibu & ayah. Belanda termasuk negara yang “minim cuti”.

Ibu yang bekerja memiliki waktu cuti bekerja minimal 16 minggu. Sekitar 4-6 minggu sebelum due date dan minimal 10 minggu setelah persalinan. Untuk kasus melahirkan yang diluar taksiran persalinan, cuti hamil sekitar 17/18 minggu. Dan pemerintah membayar gaji minimum selama cuti tersebut. Setiap ibu yang bekerja berhak untuk memberikan Asi pada bayinya, menggunakan 1/4 jam kerjanya digunakan untuk menyusui bayi selama 9 bulan pertama dan pihak instansi kerja memfasilitasi ruangan untuk menyusui. Seorang ayah dapat cuti bekerja 5 hari (2 hari tetap digaji dan 3 hari tidak digaji).

Baca juga Giving Birth in the Netherlands

Bagaimana negara lain?

1. Finland

Cuti melahirkan didapat para ibu yang bekerja 7 minggu sebelum due date dan 16 minggu pasca melahirkan. Hal ini berlaku bagi student mom ataupun ibu yang bekerja. Bagi para ayah negara juga menawarkan cuti selama 8 minggu loh until membantu keperluan istri dan anak. Dan anak berusia 3 tahun, negara memberikan cuti partial bagi para ibu untuk urusan kantor dan rumah hingga anak berusia sekitar 9 tahun.

2. Denmark

Cuti kehamilan total didapat para ibu sekitar 18 minggu. Empat minggu sebelum melahirkan & 14 minggu setelah melahirkan. Suami juga mendapat cuti 2 minggu berturut2 dan gaji diberikan utuh.

3. Sweden

Ibu baru mendapat cuti 480 hari & gaji yang diterima 80%. Uniknya di Sweden, ayah juga mendapat cuti selama 90 hari, ide ini bermula agar para ayah dapat membantu mengasuh anak-anak lainnya. Mengikat bonding antara ayah & anak, agar tidak ada kecemburuan karena hadirnya sang adik.

4. Belgia

Para ibu mendapat cuti hamil selama 15 minggu, 30 hari pertama dibayar 85% dan sisanya 75%.

5. Serbia

Ibu cuti melahirkan selama 20 minggu. Setelahnya dapat cuti selama 1 tahun dengan kompensasi gaji 100% untuk 26 minggu pertama, 27-39 minggu 60%, 40-52 minggu 30%. Sedangkan ayah mendapat cuti 1 minggu dengan gaji full.

Melihat kecanggihan dan keunikan maternity setiap negara. Namun jangan lupa kemuliaan dan ganjaran pahala kebaikan, Allah berikan pada setiap ibu karena kelelahan dan kepayahannya yang bertambah.

Eindhoven, Mei 2018

34 Comments

  • lita chan lai

    wah, saya jadi tahu maternity care di Belanda. meskipun belum paham sama kraamzorg dengan segala tugasnya yang terlihat penting itu kalau di Indonesia itu seperti apa ya. btw, terima kasih informasinya. menambah wawasan ku.

  • Yoanna Fayza

    Di serbia cutinya lama banget yaa.. tetap digaji pula.. tapi kalau di Indonesia jelas gak bisa diterapkan yg model begini, bisa beranak pinak terus nanti, gagal deh program KB :)))

  • ZILQIAH

    wah mbak aku masihh tertarik banget sama kramzoorg ini
    mereka kayak care banet gitu ya
    peduli banget
    padahal bukan keluarga
    ahjhh pasti ada sesi curhat juga
    biar gak depresi si ibu barunya
    semoga di Indonesia ada juga yang kayak gini

  • Jiah

    Di negara luar ada juga ya yg bantu Ibu2 pas hamil dan melahirkan. Kalau di sini kan bidan, dukun bayi. Belum pengalaman hamil/melahirkan, tapi yakin deh pasti ada bantuan dan kebijakan buat buibu

  • Ainhy Edelweiss

    wah Swden dan Denmark keren tuh kak, paling ngerti banget ayah dan ibu, hahah. Alhamdulillah udah lahiran, sepertinya gak mudah jika lahirn bukan di tanah kelahiran yah kak. I m so proud to you, you are a strong woman. Btw di bandingkan maternity care dalam dan luar negeri, di luar negeri mereka sistemnya terarah deh, cba yah Indo juga gitu,eh apa aku aja ayng kudet yah

  • Keke Naima

    Semoga Indonesia cepat atau lambat bisa meniru program maternity care seperti Belanda, ya. Asli keren banget programnya. Tentang asupan, dokter kandungan saya juga dulu berpendapat sama. Makanya selama hamil, saya hanya dikasih asam folat aja

  • Hidayah Sulistyowati

    Finlandia tetap ya yang paling menyejahterakan rakyatnya, cuti nya paling lama. Gimana pun juga yang penting sih ibu hamil dan melahirkan ini bisa tetap bahagia dalam kondisi apapun, karena bayinya membutuhkan dekapan hangat ibu ya

  • Ujame Gaja

    Halooooo kak Ismi weheheh
    Seperti biasa, diriku selalu suka baca tulisanmu yang informatif. Keep inspiring ya, Kak :*
    Jadi tau serba serbi lahiran di Belanda hahaha
    Dan jadi kepo buat tau kramzoorg lebih banyak lagi kak hihi
    TFS kak Ismi ^^

  • Siti hairul

    Kalo di Indonesia kebanyakan keluarga besar jadi paska lahiran banyak juga yang bantuin hehehehe. Di kampungku banyak tukang pijat bayi yg bantuin ibu habis lahiran. Memandikan bayi, mijat ibu dan bayi, ngajari pasang stagen juga popok bayi dan mbedong hehehe

  • Ida Tahmidah

    Wah jd banyak belajar ttg hamil di negeri org nih. Siapa tau nanti hrs nengok cucu.yg lahir di negeri.org..jd engga kaget hehe.. *menghayal. Punya anak gadil skul di.LN kemungkinan itubselalu ada ya..hahaha

  • indah nuria

    Sistem di negara maju memang berbeda dan seringkali terasa lebih ringkas ya mba. AKu ngga pernah melahirkan di Indonesia, jadi kurang lebih pengalaman melahirkan di Australia dan Swiss mirin seperti di Belanda. One thing for sure, ibu-ibu diajar untuk Mandiri sejak awal

  • cari angin

    di Indonesia hal seperti ini tidak bisa diterapkan menurutku karena kondisi di belanda reward and support sistem diberikan full karnea orang jarang mau punya banyak anak. di indonesia malah pada suka banyak anak. bisa nggak terkendali kalo diberi seenak ini

  • Hidayah Sulistyowati

    Finlandia tetap ya yang paling menyejahterakan rakyatnya, cuti nya paling lama. Gimana pun juga yang penting sih ibu hamil dan melahirkan ini bisa tetap bahagia dalam kondisi apapun, karena bayinya membutuhkan dekapan hangat ibu

  • Leyla

    Zaman dulu di Indonesia juga ada homebirth yaa.. sekarang jarang banget. Gak masalah deh bayar asuransi kalau mudah dipakai untuk melahirkan dan dapat penanganan maksimal.

  • Echi mustika

    Sangat inofatif bangrt infonya mba, tapi di kampungku kebetulan saudara ku bidan beberapa tempat sudah bidan yang mengunjungi ibu hamil dan m ef lahirkan, katanya agar ibu hamil tidak lelah menempur perjalanan saat persalinan

  • Sekar

    Maa syaa Allah pelayanannya betul-betul memanusiakan manusia, khususnya seorang Ibu. Melahirkan ini bukan perkara gampang. Kalo dicompare sama Indonesia, sedih banget :”( miris, malu, seringkali yang udah kritis kondisinya dibiarin aja di UGD kalau belum ngurus administrasi. Alhamdulillah ya mbak bisa merasakan kehidupan yang berbeda di LN meski tentu dengan serangkaian ujian yang nggak enak juga hehe.

  • Diah

    Di Belanda orang habis melahirkan harus strong yaah Mbak, ckckckk..

    Yg tentang cuti itu, asyik banget ya yg tinggal di Swedia itu, cutinya panjaaang, apalagi ada Paternal leave jg utk Ayah yaaa. Asyiknyaaa 🙂

    • admin

      Bisa kebayang ya mba, aku hamil dan lahiran disana Betul2 ga kaya hamil pertama. Sehari jalan kaki 6km antar jemput anak sekolah hajar aja, terpaksa karena keadaan wkwkwk

  • Diyanika

    Aku salut sama Belanda, justru dianjurkan berasuransi ya. Meskipun berasuransi pun pelayanannya tetap oke. Kemudian yang melahirkan di rumah, uhhh…memang benar, tempat ternyaman itu ya di rumah ya.

  • Isti Adzah Rohyati

    itu Kramzoorg kok enak banget yaaaa.. Coba kalau di Indo ada, beuh betah deh. Hhihih. Btw, soal pulang 2-3 jam setelah melahirkan di RS, sama juga kayak di Irak. Dulu aku lahiran anak ketiga di sana, normal, max 10 jam setelah melahirkan harus pulang. Kalau mau menginap lagi boleh tapi kena charge. Charge buatku dan buat yg nemenin (dalam hal ini suami), hahaha. Jadi lah waktu itu nggak nginep, mending pulang 😀

  • Uniek Kaswarganti

    Lumayan lama juga ya cuti melahirkan di Belanda. Kalau di sini sih kadang sebulan udah dipaksa-paksa disuruh masuk ya. Jahitan belum kering kalau yang melahiran SC kaaan…tapi perusahaan sudah ada yang meminta untuk masuk kerja.
    Wah, ternyata kalau di Belanda melahirkan di rumah sakit tanpa indikasi medis tertentu tuh kena biaya tambahan ya. Baru tau loh klo angka homebirth nya tinggi di sana

  • citra

    seru ya sistem di luar negeri dalam peranan menjaga dan mengajarkan ibu baru dalam mengajarkan ibu untuk memandikan anak. Ini luar biasa lho jika bisa diterapkan di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *