Cerita Yaqdzan & Faiha,  Eindhoven,  Hidup di Belanda,  Sekolah Anak

Cara Yaqdzan Belajar Bahasa Belanda di Negeri Tulip

Kami membawa Yaqdzan ke Belanda tidak menyiapkan apapun. Yang saya tahu anak 4 tahun di Belanda sudah wajib sekolah. Kami hanya mengkomunikasikan kalau nanti Yaqdzan akan sekolah. Sekolah apa? Pilihannya international school atau public school. Tentu bahasa yang digunakan berbahasa Inggris atau bahasa Belanda. Setelah mempertimbangkan beberapa hal salah satunya biaya, kami akhirnya memilih public school. International school dengan biaya 5000-7000 euro/ tahun tidak memungkinkan dengan keluarga mahasiswa seperti kami. Public school yang free menjadi pilihan dan
rencana Allah pasti lebih baik, tak disangka digantikan dengan Islamic school yang rasanya sampai hari ini saya hampir tidak percaya. Tarieq Ibnoe Ziyad, Islamic basisschool yang dikelola pemerintah jaraknya cukup dekat dengan rumah sewaan kami. Sayapun semakin yakin, kalaulah ada sekolah Islam kenapa harus memilih sekolah lain di lingkungan muslim yang tidak banyak ditemukan. Inilah yang membuat kami bersyukur tiada henti atas takdirNya.

Jadi awal sekolah Yaqdzan belum bisa dan mengerti bahasa. Bahasa Inggris ga bisa, Dutch apalagi. Kalau anak-anak punya skill bahasa Inggris lebih mudah untuk berkomunikasi di sekolah karena pada umumnya di Belanda fasih berbahasa Inggris. Jadi ingat awal sekolah, bundanya deg-degan gimana kalau Yaqdzan pengen ke toilet. Saya khawatir sekali, sebelumnya Yaqdzan belum pernah sekolah, berpisah dengan bundanya dalam waktu lama hampir tidak pernah, anaknya pemalu. Kalau ditinggal Yaqdzan menangis sejadi-jadinya dan orangtua disuruh pulang dan menjauh dari lingkungan sekolah. Kami “diusir” dari sekolah, jadi ingat betul ketika itu Saya betul-betul galau.

Eits, anak-anak ternyata beradaptasi lebih cepat & cool loh. Jadi setiap anak baru, dipasangkan dengan anak senior, tugasnya membantu teman baru untuk beradaptasi. Mengajak bermain, bagaimana role harian di sekolah, bagaimana cara ke toilet dll. Jadi anak punya teman akrab di sekolah. Yaqdzan ketika itu dipasangkan dengan temannya yang berasal dari Turki. Betul-betul totalitas membantunya, kemanapun Yaqdzan pergi diawasin 😂

Oh iya, saya mau cerita soal toilet disini. Menurut saya unik. Jadi di kelas Yaqdzan ada 2 kalung yang digantung yaitu kalung merah & biru. Biru untuk anak laki-laki & merah untuk perempuan. Kalau anak-anak ingin ke toilet mereka akan mengambil kalung ini. Toiletnya? Persis disebelah kelas dan terpisah antara toilet laki-laki & perempuan. Toiletnya juga didesain setinggi anak-anak. Dan dibagian luarnya ada kran washtafel yang mini juga. Tentunya metode ini sangat membantu guru dan kemandirian anak-anak. Anak-anak 4 tahun tidak pernah ditemenin ke toilet oleh gurunya.

Lalu gimana perkembangan bahasa Yaqdzan di kelas? Sedikit-sedikit paham, mulai hafal lagu-lagu yang memang dirutinkan setiap hari di sekolah. Dan 2x terima rapport (6 bulan sekolah) kami mendapat saran dari gurunya agar Yaqdzan ikut logopedie.

Logopedie apa?

Logopedie adalah lembaga bahasa yang membantu anak-anak yang mengalami problema seperti speech delay, berbicara gagap, gangguan komunikasi, masalah dalam menulis, membaca, dan juga anak-anak bilingual. Logopedie akan membantu soal permasalahan speaking, reading, listening or writing.

Setelah dapat recommendasi dari guru di sekolah kami disarankan berkunjung ke dokter keluarga. Dokter akan memeriksa dan menanyakan lebih detail alasan kami ke logopedie. Pertama dokter akan cek apakah ada masalah kesehatan pada anak seperti gangguan pendengaran misalnya. Yaqdzan didiagnosa tidak ada gangguan kesehatan, ke logopedie untuk belajar bahasa baru.

Biaya logopedie

Biaya ini seluruhnya ditanggung oleh asuransi. Dimana anak-anak ikut asuransi orangtuanya. Biayanya sekitar 60 euro/pertemuan. Durasi belajarnya 30 menit. Yaqdzan Belajar ke logopedie biasanya pulang sekolah hanya 1x/minggu. Jika berhalangan untuk hadir harus konfirmasi kepada gurunya. Yaqdzan juga izin tidak hadir kalau sedang sakit atau cuaca tidak mendukung. Kalau tidak hadir tanpa konfirmasi maka akan dikenakan denda sebesar cost per pertemuan, yaitu 60 euro.

Di logopedie ngapain aja?

Anak-anak belajar dari kosakata yang paling familiar, biasanya mengikuti tema bermain di sekolah. Diantaranya ada tema lalu lintas, winter, summer, king’s day dll. Belajar dari per kosakata lalu membuat kalimat.

Biasanya jadwal logopedie Yaqdzan sore, lokasinya tidak jauh dari rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki. Yaqdan biasanya naik sepeda atau diantar ayahnya naik sepeda kalau winter. Meskipun jadwalnya sepulang sekolah, jadwal ke logopedie ini dinantikan Yaqdzan loh.

Gurunya asik mengajarkan biasanya dalam bentuk permainan. Kalau tema yang diajarkan cukup sulit dan membosankan biasanya guru menyajikan game gitu di tabletnya. Dan selesai belajar anak-anak memilih sebuah stiker. Inilah yang menjadi energi besar Yaqdzan untuk senang datang ke logopedie.

Selesai belajar guru selalu mengkomunikasikan dengan orangtua. Sebelumnya bundanya juga ikut serta didalam kelas. Apa yang dipelajari di logopedie, orangtua juga dianjurkan untuk membantu anak-anak mengulangi tema yang dipelajari di rumah. Ini cukup strik karena setiap pekan tema yang dipelajari minggu sebelumnya akan dievaluasi.

Anak-anak juga ada ujiannya, Yaqdzan baru aja melewati ujian setelah 1 tahun di logopedie. Ujiannya sekitar 6x pertemuan dan orangtua/anak sama sekali tidak dikasih tau kalau anak akan ujian.

Oh iya ada saran dari guru Yaqdzan sebelum kami ke logopedie, Yaqdzan dianjurkan untuk menonton tv Dutch 15 menit setiap hari. Namun saran ini hanya beberapa kali kami ikuti karena tidak sesuai dengan kondisi Yaqdzan. Sekarang jadwal menontonnya setiap hari Jumat karena sekolahnya hanya setengah hari dan besoknya libur.

Bagi anak-anak International yang datang ke Belanda diatas 7 tahun biasanya akan disarankan untuk masuk sekolah bahasa 1 tahun pertama karena anak 7 tahun (grup 3) sudah mulai belajar dengan serius.

Bagi para ibu yang akan berencana merantau dan punya tantangan dengan bahasa, tidak usah terlalu khawatir karena anak-anak belajar lebih cepat diluar dugaan orangtua. Kalau sudah senang dan suka apapun tantangannya akan lebih mudah bukan?

Tot zien!

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *