Eindhoven,  Spiritual Journey

Back For Good Senang atau Sedih?

Rasanya baru kemaren datang ke Eindhoven, kok waktu cepat berlalu. Rentang 2 tahun sudah kami lewati disini. Dulu saya datang kondisi hamil, sekarang Faiha sudah 1,5 tahun. Betul, 2 tahun sudah terlewati. Buat yang pernah merantau pasti merasakan hal ini. Perasaannya nano-nano banget, terutama 2,5 bulan terakhir. Menghabiskan waktu yang tersisa buat kunjungan museum, ngenalin anak-anak banyak hal, mengirim barang ke tanah air, beberes rumah hingga bersiap pulang. Berasa mimpi.

Sudah siap back for good? Yang sering dilontarkan teman-teman. Jujur saja kami akan banyak “kehilangan” nantinya. Apa-apa yang tidak kami dapatkan dulu di tanah air, dan menjadi suatu kesyukuran disini. Siapa yang tidak bahagia kalau di negeri kincir angin ini taman bermain anak banyak sekali + free, event untuk anak terbentang luas. Anak-anak tumbuh dan berkembang terfasilitasi oleh negara. Saya akui ini keren sekali. Tinggal disebuah negara yang begitu tertib, transportasi yang nyaman siapa yang tidak betah Masya Allah. Anak-anak Belanda konon katanya anak yang paling bahagia di dunia. Paling happy di sekolah. Memang benar adanya, Yaqdzan senang banget sekolah. Dan bersekolah di sekolah Islam juga rezeki tak terhingga bagi kami.
Mungkin ini yang membuat saya berfikir, “kembali ke tanah air mau menggerutu atau bersyukur?”

Ada yang galau mau back for good? Saya udah merasakan aura ini puncaknya tahun lalu loh. Iya tahun lalu, genap 1 tahun disini. Jadi kerjaannya galau mulu, bentar-bentar curhat, mewek sama bapak suami 🤣. Apakah semata-mata hanya saya merasakan fasilitas tumbuh kembang anak terpenuhi disini?. Siapa yang ga bahagia bisa mendapatkan mainan anak yang murah banget, buku-buku anak dengan harga cuma-cuma. Kami bisa explore museum se Belanda, kegiatan anak-anak banyak sekali, perpustakaannya luar biasa. Meskipun untuk soal agama kami punya PR besar dari rumah. Hidup di negara minoritas muslim, tentu banyak yang berbeda dengan tanah air. Kami juga merindukan suara azan, rindu anak-anak berlomba-lomba ke mesjid, rindu alunan Alquran menggema dimana-mana. Anak-anak beranjak besar, ga cukup hanya belajar sholat & mengaji. Bahkan lebih dari itu soal tauhid dan iman. Ini yang jadi PR besar.

Mempertimbangkan banyak hal jadilah kami memutuskan beberapa hal, kembali ke tanah air berharap anak-anak tumbuh kembangnya tetap luwes. Salah satunya memboyong mainan & buku-buku dari sini. Pun harapannya juga bermanfaat luas bagi sekitar nanti. Jadi kegalauan ini terobati.

Namun hari-hari terberat adalah berpisah dengan teman-teman disini. Sungguh tak akan terbalaskan, tanpa kehadiran mereka. Kami bukan apa-apa hari ini.

Mba Ina & keluarga! Yang sering nyantolin semangkok makanan di pintu. Yang paling banyak direpotkan, tanpa adanya beliau mungkin kerepotan saya tiada henti waktu abis lahiran Faiha. Saya belajar masak dari beliau. Belajar keislaman selama di Belanda. Mba Ina beserta anak-anak yang sudah seperti keluarga kami sendiri. Mba Dwi sosok yang selalu penyemangat saya untuk bersama Alquran. “Kalau kita tak bertemu lagi di dunia, insya Allah berkumpul di surgaNya” begitu kata beliau. Bagaimana saya tidak haru & sedih.

Teman-teman seperjuangan, keluarga mahasiswa Tu/Eindhoven. Teman-teman berjuang bersama, tanpa mereka hari-hari kami akan berat disini.

Mba dessy & keluarga, makasih atas banyak kebaikan bertetangga selama ini. Yang sering diketokin gegara kehabisan minyak goreng, kami sering dikirim makanan.

Mba revi dan keluarga, teman ngobrol banyak hal mulai dari jalan-jalan, main ke taman, belanja. Jalan kaki sampai gempor nyari mainan anak. Terimakasih atas pertemuan & persaudaraan kita selama ini. Baihaqi baik-baik di eindhoven ya, jangan sedih nanti kita video call sama kak Yaqdzan.

Mba fitri dan mas Nugh, tukang nyambel level pedes parah & doyan film horor. Paling “sebel” kalau ditakut-takutin wkwkwk. Ga bisa berkata apa-apa, semoga Allah membalas dengan balasan terbaik atas kebersamaan kita.

Mba aci & keluarga, lagi klopnya Yaqdzan sama Alisha harus berpisah. Terimakasih atas kasih sayangnya selama ini tante Aci, Om Anto & Alisha.

Ririn & keluarga, karena doa-doa mereka banyak kemudahan segala urusan. Semangat terus support mas Bambang hingga finish ya Rin 😘

Mba syntia & keluarga, ibu setrong
yang selalu happy. Sering dicurhatin waktu kami mula sampai di Eindhoven. Mas Aziz semoga lancar buat PhDnya.

Nadia & Bahir, mau hadir saat defense suami. Nadia hadir menjemput Yaqdzan sekolah. Sukses terus buat kalian berdua ya.

Teman-teman senior Eindhoven, berbagi info ilmu parenting, belanja murah meriah, budaya & pendidikan Belanda, serba serbi rumah, anak. Hatur nuhun semuanya 😘😘

Ya rabb kumpulkanlah kami di surgaMu kelak, sebagaimana kami pernah bersama-sama.

Amsterdam, 13 September 2018

#safar schipol airport – bandara soekarno Hatta 14 jam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *