Eindhoven,  Spiritual Journey

Reverse Culture Shock, dari Rantau kembali ke Tanah Air

Nikmatnya kuliner di tanah air sudah terbayang. Haru & bahagia akan bertemu keluarga tak terkira. Faiha akan bertemu nenek & kakeknya yang sudah lama dinantikan.

Namun, semuanya tidak seindah bayangan. Detik-detik sebelum kembali ke tanah air memang rasanya sibuk luar biasa, “mati rasa”. Iya mati rasa, saya rasanya tidak bisa berfikir apa-apa ataupun baper menikmati hari-hari terakhir, hanya fokus pada urusan yang tiada akhir.

Baca juga Persiapan ke Belanda (Visa MVV, Legalisir Dokumen dll)

Bersiap take off hati saya bergumam, oh iya kami akan pulang ke tanah air. Baru saja sampai di Jakarta dan menuju rumah saya merasakan ketidaknyamanan panasnya ibukota. Seketika diajak makan diluar, hati kecil saya kembali menolak, mempertanyakan kebersihan tempatnya. Terutama menjaga anak-anak. Belum lagi semberaut kemacetan kota Jakarta, melihat pengguna jalanan seenaknya, saya kesal ada yang membuang sampah sembarangan. Saya dan anak-anak bergantian sakit, masalah kulit berdatangan.

Yaqdzan terus menyebut-nyebut ingin kembali ke Belanda karena kegeurahan dan menagih ingin bermain di taman. Ada taman bermain yang tidak jauh dari rumah kami, taman bambu namanya. Areanya luas sekali, aktivitas multifungsi bisa diadakan disini, hamparan hijau yang dikelola pemerintah. Taman ini bisa digunakan untuk piknik, bermain sepeda, bermain bola, senam dll. Lalu saya kecewa ternyata hanya ada perosotan mini yang antrinya cukup panjang bagi anak-anak. Saya sedih melihat palang panjatan dan ayunan yang karatan dan tidak terawat, malah tidak aman & nyaman digunakan. Sementara taman bermain di negeri kincir air, kami temukan dimana-mana, tidak berbayar dan sangat memperhatikan kebutuhan anak-anak.

Saya juga kaget berbelanja ke supermarket kok sudah mahal. Kebutuhan harian, sebut saja ayam, susu harganya cukup tinggi (baca juga Biaya Hidup di Belanda ). Listrik bayarannya terus melonjak naik. Ada yang mengalami hal yang sama?

Ternyata penyebab semuanya adalah reverse culture shock.

Emosi saya teracak-acak, tidak bisa menerima realita. Tentu saja sebelum kembali ke tanah air saya sudah mencoba antisipasi. Toh sebelumnya saya juga sudah biasa dengan kondisi ini. Lalu kenapa adaptasi ini begitu sulit?

Reverse culture shock kebalikan dari culture shock, kejutan budaya sendiri. Seseorang yang sudah terbiasa dengan budaya baru, hingga kembali kepada budaya asalnya perlu penyesuaian. Konon katanya reverse culture shock lebih sulit dari culture shock. Wajar aja sih, tanpa disadari kita sudah punya kebiasaan dan ritme sendiri mengikuti pola budaya setempat. Kembali ke tanah air hal demikian tidak lagi familiar. Tetapi manusia dilatih untuk beradaptasi bukan?, terus berlatih dan berlatih. Hingga apa yang membuat kita bersyukur.

Sebelumnya saya mau cerita dulu beberapa hal tentang bagaimana adaptasi kami sampai di tanah air. Barangkali pengalaman dan sedikit treatment yang kami lakukan ada manfaatnya.

Seminggu pertama saya dan anak-anak bergantian sakit. Faiha kena serangan nyamuk bertubi-tubi dan bintik-bintik merah dibagian badan. Kulitnya merespon tidak biasa, mulai dari bentol besar, merah, gatal hingga meradang. Dibagian mana? Dimana-mana bagian yang tidak tertutup terutama disaat tidur baik malam maupun siang, termasuk matapun bengkak. Berbagai saran dan masukan dari keluarga dan teman-teman saya coba. Faiha kami usahakan tidur diruangan ber AC, biar adem dan pakaian sebisa mungkin tertutup. Siang/malam saya pakaikan baju dan celana panjang plus kaos kaki kalau tidur. Bekas gigitan nyamuk saya oleskan minyak tawon buat mengurangi rasa gatal & merah. Minyak tawon ini andalan banget dan cukup mempan. Kemudian sebelum tidur Faiha dioles cream anti nyamuk khusus wajah dan badan, yang menurut saya ini ga begitu mempan. Solusi terakhir adalah menggunakan kelambu, saya pakai kelambu kecil hanya buat Faiha. Walau terkadang kelambunya kedorong-dorong lalu kebuka sendiri. Kelambu ini membantu banget. Dan saran saya menggunakan kelambu besar (seperti kelambu Japan) lebih oke. Dua minggu di Jakarta persoalan nyamuk belum berhenti, memang nyamuk akan selalu ada hanya saja harapannya bekas gigitan nyamuk, respon kulit Faiha tidak separah awal datang.

Selanjutnya bentol merah dibadan. Antara percaya atau ga sih pernah mendengar cerita teman di Eindhoven kalau pulang ke Indonesia anaknya mandi pakai air galon. Hari ke-2 di Jakarta dengan frekuensi mandi 2x sehari saya kok curiga jangan-jangan bentol merah dibadan Faiha karena faktor air. Jadilah Faiha kalau mandi kami coba pakai air galon. Lucu & kocak rasanya 😁. Atas recomendasi teman saya juga menggunakan lactacid baby, semacam sabun cair gitu buat kulit yang bermasalah dan sensitif. Digunakan disaat mandi. Sekitar 10 hari treatment air galon dan lactacid baby, Alhamdulilah bentol dibadan hilang. Dan saya mau coba Faiha mandi ga pakai air galon lagi dan lactasid baby tetap digunakan, alhamdulilah masalah kulit ini tidak kambuh kembali.

Kasus selanjutnya, saya demam dan disertai diare. Akhirnya saya tumbang juga, mungkin efek dari 1 bulan kerja rodi sebelum BFG. Hal yang diwanti-wanti seorang teman disaat awal pulang ke tanah air adalah tahan dulu untuk tidak kuliner, minimal 2 minggu. Padahal kuliner ini yang paling dinantikan. Bebek kaleo kami santap sesaat setelah sampai di Bandara, dijemput ibu mertua lalu kami diajak makan kesana walau agak was-was. Bersyukurnya tidak ada masalah apa-apa. Hari ke-4 saya ikut mencicipi bakso yang dibelikan ibu di rumah. Ini yang tidak cocok bagi saya, langsung diare selama 5 hari. Setelahnya kami betul-betul menyeleksi makanan, diusahakan makanan rumah dan kalau kuliner betul-betul dilihat kondisi restorannya.

Yaqdzan juga demam dan disertai keluar bintik merah lokal, dikaki dan tangan. Gatal dan perih. Kemungkinan bintik merah keluar setelah makan telur puyuh, alergi. Sempat dibawa ke dokter alhamdulilah 3 hari kemudian sembuh. Ayahnya sempat demam, ikut tumbang juga yang paling sering mobile mengurus semuanya.

Tujuh hari pertama pulang ke tanah air cukup sulit. Terutama mengenai faktor kesehatan. “Belanda negara maju lebih bersih, wajar saja kondisinya di Indonesia seperti ini”, banyak yang menuturkan demikian. Iya sih saya setuju, cuma saya lebih adem aja ketika ada yang bertutur, “imunitas anak-anak sedang terkejut, setelah berhasil menguasai keadaan maka daya tahan tubuh mereka akan membaik”.

Kembali ke Reserve Culture Shock, jadi harus bagaimana?

Bersyukurnya saya kalau kepulangan kami ke Indonesia lengkap sekeluarga. Suami yang paling mengerti keadaan, yang paling banyak mendengar dan menghibur. Kalau apa-apa yang saya rasakan sangat melegakan setelah diungkapkan.

Selain itu saya juga sharing sama teman-teman yang senasib, pernah mengalaminya dahulu ataupun sekarang bersama-sama. Cukup melegakan. Kemudian rencanakan apa kesibukanmu di tanah air. Mulai dari hal kecil ataupun akan mewujudkan cita-cita yang lama tersimpan. Satu hal yang paling mujarab menurut saya menangkis semua ini adalah meluaskan rasa syukur. Bersyukur kalau tidak semua orang Allah sampaikan untuk mengais pengalaman hidup ke negeri tulip ini. Pun kembalinya ke tanah air petiklah dahan-dahan kebaikan yang membuat syukur itu tiada batas. Juga bersabar dengan keadaan.

Pendengaran saya kaget ketika mendengar murattal yang begitu kencang. Ternyata suara murattal dari mesjid. Saya agak aneh mendengar sautan suara azan disebuah mall, ternyata suara azan berkumandang dari mesjid dilantai 11. Betapa terharunya kami melihat Yaqdzan bisa bergegas ke mesjid setiap saat, lantunan azan dan Alquran yang kini mudah didengar. Masya Allah, Tabarakallah. Bawalah bekal baik sebanyak-banyaknya dari perantauan, kalau lingkungan itu tak sesuai harapan. Mulailah perbaiki dari diri sendiri & keluarga. Budaya baik perantauan semoga tidak pudar begitu saja.

Buat yang sedang merantau, timbunlah ilmu seluas-luasnya. Lalu menebar kebaikan kembali ketanah air. Pun yang menetap diperantauan, terutama negara yang minoritas muslim. Bertebaranlah dimuka bumiNya, teruslah berjalan menuai kebaikan. Jangan terlena dengan megahnya duniawi.

Jakarta, Oktober 2019

4 Comments

  • Ade Sulthany

    Di Indonesia, selain karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang makanan yang sehat dan budaya mempersiapkan makanan yang buruk, faktor utama yang membuat expatriat dan repatriat Indonesia menderita sakit pada minggu-minggu awal di Indonesia, adalah karena Indonesia adalah negara tropis dengan kelembaban udara yang tinggi.

    Lingkungan ini cocok untuk tempat berkembang biaknya berbagai macam bakteri, virus, jamur, parasit, dan mikro organisme lainnya. Butuh waktu sekitar 3 bulan agar tubuh (kembali) mengenal mikro organisme yang banyak ini, dan membangun (kembali) kekebalan tubuh terhadap nya.

    Butuh asupan protein yang baik untuk membantu tubuh dalam proses ini.

    Saya sendiri sakit-sakitan sampai 2 bulan setelah repatriasi dari negara subtropis….

  • Turseena

    Urusan gatel2 n nyamuk ini emang kesannya sepele tapi nyebelin ya mbak.. anakku pun ngalamin gatel2 parah pas baru pulang ke Jakarta.

    Sempet salah satu bentolnya digarukin sampe berdarah, trs infeksi dan bernanah.. di muka pula . Segala iktiar yang mbak lakuin pun udah aku jalanin..haha.

    Untung semuanya udah lewat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *