Kesehatan

Review Gendongan bayi

Dulu ketika Yaqdzan lahir saya tidak terlalu peduli dengan gendongan. Pakai apa aja yang ada, beberapa dari kado modelnya kaya gendongan samping. Yaqdzan usia 1 bulan kok rasanya kurang nyaman. Lalu beralih ke babywrap yang saat itu sedang ngehits. Ga banyak mencari informasi, ga punya ilmu juga. Dan saya juga pasrah aja, namanya juga menggendong kalau pegal ya wajar. Padahal soal gendongan ini penting banget karena akan mempengaruhi kenyamanan ibu dan si kecil. Dan juga intensitas menggunakannya cukup tinggi.

Dengan lahirnya anak kedua, saya jadi lebih aware dengan gendongan. Walaupun frekuensi saya menggendong Faiha 1,5 tahun pertama usianya jarang.
Tinggal di negara yang stroller friendly, negara 4 musim, hidup mandiri dan multitasking ini menggunakan stroller adalah wajib. Di Belanda gendongan biasanya kepakai saat travelling, saat cuaca tidak memungkinkan untuk mendorong stroller misalnya turun salju sedangkan saya harus menjemput Yaqdzan sekolah. Dan sekarang banyak sekali model gendongan yang keluar, baik produk lokal maupun luar. Mulai dari sling ring, baby wrap, Soft Structure Carrier (SSC), Pouch Sling, Stretchy Wrap, Stretchy Hybrids dll.

Meskipun saya menggendong Yaqdzan 5-6 tahun lalu, saya ga akan lupa bagaimana masa-masa menggendong saat itu. Jadi mau coba mereview gendongan yang selama ini dipakai.

1. Gendongan samping, scots sling rider

Source: Google Image

Ini kayanya gendongan yang simple masa itu, dan banyak beredar di pasaran. Saya mendapatkan gendongan ini dari kado. Belum mengenal gendongan samping lainnya yang sekarang banyak beredar.

Plus:
Praktis dan mudah digunakan

Minus:
Saya menggunakan gendongan ini hanya 1 bulan pertama. Karena beban menumpuk pada satu bahu sehingga tidak nyaman. Gendongan ini sepertinya tidak bisa lama digunakan, juga disaat si kecil bertambah berat badannya ga muat lagi. Dan yang paling ga nyaman itu beban menumpuk dalam satu bahu.

2. Baby wrap, Hanaroo

Source: Google Image

Ada tetangga saya yang berkunjung ke rumah, bercerita banyak hal ternyata beliau distributor Hanaroo baby wrap. Sekalian gitu beliau promosi dan peragain cara pakainya. Eh kok lucu dan gemas bayi yang nemplok kaya kanguru. Setelah browsing-browsing jadilah saya memutuskan pakai Hanaroo ini. Dan amazingnya kami jadi sub distributor gendongan ini di Purwakarta. Cita-cita saya pengen buka lapak dipasar gitu hehe..

Hanaroo ini andalan banget, kepakai sampai akhir Yaqdzan udah lepas ga perlu digendong lagi. Ga akan lupa jaman bundanya mengantar paket ke ekspedisi, angkat barang kiri kanan menggendong bayi betul-betul hands free.

Hanaroo baby wrap ini berupa kain panjang sekitar 4 meter. Yang dililitkan ketubuh penggendong agar beban terdistribusi secara merata. Bahannya stretch (gampang melar). Saya beli sekitar 160 ribu tahun 2012/2013. Dilengkapi buku tutorial pemakaian beserta CD.

Plus:

– Bahannya elastis sehingga cukup fleksibel digunakan
– Beban tersebar dibagian pundak karena kainnya yang lebar sehingga nyaman digunakan
– Tangan bisa bebas menyambi pekerjaan lain

Minus:

– Gendongan sedikit ribet saat digunakan, dan perlu mempelajari tutorial penggunaannya

– Makin lama Hanaroo ini melorot saat dipakai, walaupun talinya udah dikencangkan

Walaupun begitu, Hanaroo ini jadi andalan banget buat saya dan suami. Mau pulang ke Padang pakainya tetap ini. Kalau kemana-mana selalu jadi sorotan pandangan orang-orang. Katanya kok unik dan lucu gitu. Dan babywrap ini baru mulai ngetrend di jaman itu, terutama produk lokal. Banyak juga babywrap import, tetapi saya ga pernah membandingkan produk import.

Hanaroo ini sempat saya pakai saat Faiha usia 3 bulan, karena Bahannya sudah melar jadi memang tidak nyaman lagi dipakai. Pilihan gendongan selanjutnya Chico infant baby carrier.

3. Chico infant baby carrier

Mau lahiran Faiha saya cuek aja ga nyiapin gendongan sama sekali. Karena kemana-mana kebayangnya selalu pakai stroller. Kalau dirumah ya digendong manual aja. Kebetulan Faiha baby yang super anteng, jarang banget rewel. Usia 1 bulan perdana ke Denhaag membuat pasport naik kereta, cuma pakai stroller aja. Ga nyiapin gendongan sama sekali. Cuma kalau mau travelling aja harus nyiapin gendongan, karena ada tempat-tempat tertentu seperti istana gitu ga diijinkan membawa stroller. Jadi harus pakai gendongan.

Chico baby carrier ini saya dapatkan dari seseorang kenalan di Belanda (thank you Sofie). Jadi tidak ada pertimbangan kenapa memilih gendongan ini.

Plus:

Gendongan ini praktis dan simple. Ga bulky terutama dibawa-bawa buat travelling. Saya pakai Chico ini pertama kalinya Faiha usia 3 bulan, saat travelling ke Paris (baca juga: Travelling Bersama Bayi dan Balita (Perjalanan Antar Negara/Kota di Eropa). Kepakai banget saat masuk istana Versailles karena tidak diperbolehkan masuk membawa stroller. Kemudian naik turun metro di Paris yang tidak stroller friendly, tidak terhitung lagi entah berapa kali mengangkat stroller. Dan Faiha digendong. Gendongan ini bisa digunakan dengan 3 posisi, berbaring, menghadap ibu dan menghadap depan.

Minus:

Berjam-jam menelusuri istana Versailles saya pegal juga, gendongan ini memang diperuntukkan untuk maximal berat badan 9 kg. Desain talinya ga empuk, tipis gitu jadi bikin pegal bahu. Satu lagi yang agak aneh, Faiha kok melorot banget, padahal udah diadjust maximal. Mungkin gendongan ini desainnya lebih cocok buat para Bule postur tinggi hehe..

Chico ini hanya dipakai saat travelling saat ini saja. Untuk berat badan Faiha yang standard usia 3 bulan saya tidak nyaman berlama-lama menggendongnya.

Buat para ibu yang akan memilih gendongan, banyaklah browsing terlebih dahulu, jangan asal beli gendongan karena lucu, ikut-ikutan. Karena kenyamanan itu penting banget. Dan menggendong itu ada ilmunya.

Padang, Oktober 2018

Selanjutnya saya akan review gendongan yang akan jadi andalan setelah pulang ke tanah air, karena di Indonesia aktivitas menggendong itu cukup tinggi, ga bisa stroller an lagi. So, jangan sampai salah pilih 🙂

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *