Cerita Yaqdzan & Faiha

Back For good, Belum Sekolah Kegiatan Yaqdzan Ngapain aja?

Pulang ke Indonesia tahun ajaran sekolah sudah lewat, kamipun belum sempat hunting sekolah, mau daftar sekolah juga sudah lewat. Sulung kami usia 6 tahun, di Belanda selama 2 tahun sekolah setingkat basisschool grup 2 (setara TK B). Pulang ketanah air jadi gimana? Siapa yang punya pengalaman serupa?

Memang kami sudah berencana Yaqdzan masuk SD nya saat menginjak usia 7 tahun. Usia 6 tahun masih setara TK. Tapi rupanya Yaqdzan belum bisa mengenyam pendidikan TK ini di tanah air. Pernah sih ikut nimbrung ketika kami pulang kampung ke rumah neneknya, sekitar 1 bulan. Durasi sekolahnya 3 jam an, awal sekolah saya melihat raut wajahnya lelah, bosan. Bukan karena adaptasi bahasa dengan teman-temannya, bukan. “Bunda sekolahnya bosan, mainannya ga kaya di Belanda”. Begitulah respon Yaqdzan saat itu. Sering menyebut-nyebut akan kembali ke Belanda, dia akan sekolah disana aja. Betul saja, perjalanan anak ke sekolah itu akan terkenang lama olehnya. Happy atau tidaknya ketika sekolah, betah ataupun bosannya anak, pun bagaimana teman-teman sekolahnya.

Sibuk membongkar- bongkar mencari mobil remote dan mainannya yang tersimpan di kardus 3 bulan perjalanan Belanda-Indonesia, Yaqdzan menemukan foto bersama teman sekelas dan gurunya. “Bunda foto- fotonya dikeluarin ya”. Si sulung yang pendiam rindu teman- temannya.

“Mas kita daftar sekolah yuk” ajak saya sambil melihat suasana sekolahnya buat tahun depan. “Ga mau sekolah, maunya di Belanda aja” jawabnya. Bundanya faham betul kalau Yaqdzan kangen sekolah di Belanda mungkin saat ini belum menemukan lingkungan yang bikin betah. Di rantau kami punya banyak kesibukan, Yaqdzan punya banyak kegiatan, sekolahnya pun full day. Tempat- tempat edukatif kami usahakan semampunya mengantarkan anak-anak. Event liburan anak-anak banyak bertebaran, sayang kalau dilewatkan. Taman bermain tersedia dimana-mana tanpa berbayar. Perpustakaan hampir setiap pekan kami kunjungi, entah ikut acara story telling ataupun meminjam buku. Semoga kembali ke tanah air, Yaqdzan tidak geger budaya, ga bingung dengan kondisi yang ada. Dan tugas kami orangtua menghadirkan dan menemani hari- harinya.

So, sehari- hari Yaqdzan ngapain aja?

1. Pagi jadwal main ke taman bermain outdoor

Yang membuat saya harus semangat, di pagi hari sedikit repot adalah karena anak-anak. Saya ingin kegiatan paginya Yaqdzan ketika bersiap akan sekolah tidak putus, kenapa? Karena adanya kegiatan dipagi hari, anak-anak akan bangun lebih pagi yang akan jadi habbit baik sedepannya. Juga akan membantu Yaqdzan nanti ketika sudah masuk SD.

Jadi hadirnya taman terbuka yang tidak jauh dari rumah menambah syukur kami. Menjelang matahari menyengat kami bergegas ke taman. Yaqdzan membawa bola, mencari teman baru bermain bersama, aktivitas favorit yang tidak terlewatkan. Faiha berlari- lari naik turun perosotan, ayunan dan kuda-kudaan. Tak lupa bundanya membawa bekal sarapan, buah, roti dan susu.

Setidaknya waktu pagi kami tidak diam begitu saja, aktivitas motorik kasar mereka aktif, kegiatan bersosialisasinya juga terpenuhi. Kegiatan ini free, tidak berbayar.

Baca juga Ruang Public Terbuka Ramah Anak Jakarta, Bahagiakan Anak-Anak

2. Belajar tahsin & tahfizh

Saya rasa anak seusia Yaqdzan sudah punya minat belajar. Punya konsentrasi untuk mendengar dan mengulang. Salah satunya belajar Al Quran. Memang durasinya belum terlalu lama. Berkumpul dengan teman sebaya, bareng- bareng belajar makharajul huruf yang baik harapannya menumbuhkan kecintaan Yaqdzan pada Alquran. Komunitas ini yang kami idamkan.

Belajarnya 3x sepekan, durasinya hanya 1 jam dengan peserta sekitar 5-8 orang anak. Melewati jalanan sepi perumahan sambil mendorong stroller menjadi rutinitas sore kami. Sekitar 15 menit berjalan kaki dari rumah. Akhirnya saya bisa dorong stroller juga, bisa jalan kaki tanpa keramaian.

Meskipun gurunya Yaqdzan agak aneh ngeliat kami berjalan kaki, bawa dua anak dan sambil dorong stroller juga. Saya tidak malu sama sekali, karena moment jalan kaki ini tidak bisa didapat setiap saat. Mau jalan kaki ke supermarket terdekat, akses jalan tidak mendukung. Ya lebih simple naik angkot padahal jaraknya hanya 1 km. Iya, tampaknya saya rindu Eindhoven 😂.

Biayanya cukup terjangkau dibandingkan komunitas Quran lainnya, uang pendaftaran 200ribu dan SPP 100ribu. Pengajarnya sudah tersertifikasi oleh lembaga Quran. Ini konsen utama saya, walaupun semua orang bisa mengajarkan Iqra pada anak tetapi belum tentu makharajul hurufnya benar. Apa yang dipelajari anak sekarang akan tersimpan lama. Jadi saya selektif memilih pengajar.

Baca juga Review Buku-Buku Islam Anak Berbahasa Inggris

3. Les berenang janji lama dari Eindhoven

Yaqdzan meskipun kalau keramas kecipak kecipuk heboh tapi kalau mau berenang paling senang. Selama di Belanda kami beberapa kali mengantarkannya berenang, tentu saja ketika musim panas tiba. Dan Yaqdzan sudah lama menagih ingin les renang seperti halnya anak- anak Belanda kalau berenang itu wajib bagi mereka. Kami memutuskan Yaqdzan tidak ikut les berenang di Eindhoven, pertama belum urgent karena kami tidak berencana menetap disana. Pertimbangan utamanya adalah soal aurat. Berenangnya campur antara laki- laki & perempuan dan pakaian renang anak-anak bule (khususnya perempuan) sangat minim. Ini yang membuat kami berat. Dan kami berjanji pulang ke Indonesia akan menenuhi permintaan Yaqdzan untuk berenang.

Lesnya 1x seminggu, durasi 1 jam. Belajarnya private, kebetulan sekali les renangnya sama teman ayahnya. Beliau guru olahraga jadi kami percaya betul. Lokasi berenangnya kita boleh tentukan, biasanya kami berenang di kolam renang warna warni Setu Cipayung.

Biayanya 100ribu/ datang, tiket masuknya 20ribu/orang. Saya amazing banget pertama kalinya liat Yaqdzan latihan pernafasan diair. Kok berani! Masya Allah.

4. Belajar membaca

Betul- betul melihat dan merasakan kalau anak sudah siap, akan terasa mudah tanpa dipaksa. Saya bisa membedakan bagaimana proses perjalanan Yaqdzan belajar Iqra dan membaca sekarang. Bukan tidak tepat saya mengajarkan Iqra sejak Yaqdzan usia 3 tahun. Namun untuk point ini kami ingin memperkenalkan sejak dini. Tetapi dititik tertentu kami mentok. Kok anaknya ga klik aja sih.

Kegiatan membaca ini juga menjadi bagian aktivitas Yaqdzan tahun ini. 10 menit per hari bahkan 5 menitpun jadi. Biayanya? Gratis! Belajar sama bundanya di rumah.

5. Memilih mainan favorit harian

“Yah, ga sia-sia kan kita boyong mainan dari Belanda, kepake banget loh” seloro saya. Iya, ga sia-sia- sia kami berburu mainan ke kringloop (second hands store) dahulunya. Sekarang bermanfaat luas bagi anak- anak.

Baca juga Mainan Edukatif yang Murah di Belanda, Cari Dimana

Buat yang punya kondisi serupa dengan kami, mungkin kegiatan Yaqdzan tersebut bisa jadi inspirasi. Banyak kok kegiatan lainnya, ide lainnya ikut futsal anak, les bahasa, ikut kelas robotic, belajar jualan juga oke. Rencana kami selanjutnya mungkin mengantarkan Yaqdzan jualan, kok anaknya punya jiwa bisnis gitu hehe..Kelas robotic juga bagian dari rencana kami, penasaran sama kelas programmingnya. Untuk yang basic dan mechanic biar di rumah saja latihan sama ayahnya, karena punya boyongan lego dari Belanda.

Jakarta, November 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *