Cerita Yaqdzan & Faiha

Ruang Public Terbuka Ramah Anak Jakarta, Bahagiakan Anak-Anak

Mungkin 4-5 tahun silam saya tidak begitu menghiraukan ruangan bermain terbuka bagi anak. Tidak begitu peduli arena bermain anak tersedia atau tidak. Sebut saja taman bermain anak, saya jarang melihat. Di kota kami tinggal juga langka sekali, kalaupun ada kumuh, ga terawat. Kami sesekali mengantarkan yaqdzan ke mall untuk bermain. Sesekali saja, jangan sampai anak ketagihan karena tiket masuknya kalau keseringan lumayan juga. Mensiasatinya saya membuat permainan ala rumahan saja untuk motorik kasarnya. Lagian tidak begitu penting. Begitu pikir saja.

Hingga 2 tahun lalu kami hijrah ke negeri kincir angin, terdapat taman bermain persis disebelah rumah kontrakan yang selalu jadi singgahan. Lama-lama saya dan Yaqdzan jatuh cinta. Berjalan 1 km ke penjuru yang berbeda, kami temukan taman bermain. Tidak hanya 1, tetapi 2 atau 3 taman bermain bahkan ada. Saya heran, kenapa taman bermain banyak sekali dan hampir semuanya gratis.

Baca juga Bermula Kebiasaan, Kecintaan hingga Budaya Membaca!

Kemudian pemikiran saya makin terbuka ketika Yaqdzan terima raport di sekolah. Ada penilaian yang menarik dari gurunya yaitu motorik kasar. Hasilnya? Motorik kasar Yaqdzan jauh dibawah rata-rata anak Belanda. Di halaman sekolah ada playground yang cukup tinggi, ah menurut saya ini tinggi sekali tetapi sudah biasa diexplore anak 4 tahun. Yaqdzan? Ketika itu banyak diam dan bermain diarena yang aman menurutnya. Sesekali mencoba memanjat, extra hati-hati dan butuh bantuan bundanya.

Kamipun terus melatih motorik kasar Yaqdzan, diantaranya bersepeda, bermain scooter, bermain bola, berenang, memanjat, berlari, meniti dll. Hampir sepulang sekolah saya sempatkan untuk ke taman dahulu. Tak jarang juga kami safari taman bermain dari sekolah hingga rumah yang berjarak 1,3 km. Yaqdzan? Masya Allah senang sekali. Mungkin sekitar 1 tahun pertama di Eindhoven, nilai motorik kasar Yaqdzan terus meningkat namun masih dibawah anak-anak Belanda. Bagi kami hal ini tidak begitu penting, karena progress anak dan semangatnya setiap hari untuk sekolah lebih utama. Hingga akhirnya pada tahun ke 2, motorik kasar Yaqdzan setara anak-anak Belanda begitu penilaian gurunya. Bukan, bukan ini tujuan kami, menggenjot Yaqdzan demi nilai sekolah tentu saja bukan. Namun menjadikannya berani, lincah, sehat yang juga bagian usaha orangtua menjaga anak.

Baca juga Anak-Anak Belanda Paling Bahagia di Dunia

Hingga pulang ke tanah airpun, saya dan anak-anak merindukan taman bermain outdoor. Jika taman bermain tidak ada, minimal motorik kasar anak-anak tetap terasah. Jadilah saya dan suami sepakat memboyong scooter dan balance bike anak-anak ke tanah air.

Di tanah air playground itu banyak di mall-mall. Tempat bermain indoor juga baik untuk anak- anak. Bisa bermain kapan saja terutama disaat cuaca panas, namun untuk dikunjungi setiap hari bagi kami tidak memungkinkan. Dan bayarannya pun tidak murah. Jadilah saya iseng- iseng mencari taman bermain disekitaran sini (Jakarta Timur). Dan kami ternyata “bertetangga” dengan taman bermain. Alhamdulillah senangnya. Konon katanya taman ini adalah taman terbaik. Dan sebetulnya di Jakarta sendiri sudah banyak dibangun taman bermain tetapi hanya sedikit yang layak dikunjungi. Ranah public anak ini dibangun karena anak-anak banyak yang bermain di pemakaman umum, tentunya karena terbatasnya ruang gerak anak. Walah menyedihkan sekali. Dari sinilah pemerintah giat memberi ruang terbuka untuk bermain anak-anak.

Pertama saya rasanya bersyukur sekali, fasilitas ini hadir karena taman bermain ini sama anak-anak seperti magnet. Juga jadi waktu bersantai bagi saya disaat anak asik bermain. Buat piknik keluarga juga jadi.

Saya mau review 2 taman bermain yang dekat dengan rumah. Taman bermain ini adalah program pemerintah dan terbuka bebas secara gratis bagi warga. Lokasinya ga jauh dari rumah, naik angkot sekitar 5-10 menit saja. Kalau di Belanda dengan jarak seperti ini bisa jalan kaki aja, ga jauh kan sebetulnya.

1. Taman bambu

Hari ke 5 menginjakkan kaki di tanah air, taman bambu adalah ranah public anak pertama yang kami kunjungi. Jaraknya tidak jauh dari rumah. Pernah berkunjung di akhir pekan ataupun hari kerja di sore hari. Pengunjungnya ramai. Taman bambu ini hamparan hijau yang cukup luas. Bagian depan tersedia tempat parkir motor, dan satpam yang selalu berjaga-jaga. Arena ini mensupport sekali kegiatan olahraga diantaranya senam, jogging, main bola, sepedaan, batminton dll.

Sebuah danau menyambut pengunjung masuk, ya lumayan untuk rekreasi simple disini. Arena bermain anak juga ada, terdiri dari perosotan bagian tengah dan ayunan bagian belakang. Terdapat juga beberapa gazebo untuk beristirahat.

Kami berkunjung ke taman bambu mencari arena bermain anak, sayangnya perosotan kecil ini ramai sekali antriannya. Sedangkan ayunan dan palang panjat entah kenapa kurang diminati anak-anak, mungkin karena lokasinya terpisah diujung dan ayunannya sudah tidak terawat lagi, lantainya semen dan banyak karatnya.

Meskipun perosotan ini harus antri panjang namun saya senang sekali kalau pemerintah juga memperhatikan aspek safety, lantai perosotan dari rubber tegels yang aman bagi anak-anak. Faiha juga pernah jatuh ke lantai, jadinya ga terlalu khawatir. Dan harapannya sih kedepannya arena bermain anak ditambah gitu biar lebih asik.

Di berbagai tempat di taman ini juga banyak disediakan tong sampah. Jadi ga ada lagi seharusnya kepepet lalu buang sampah suka-suka. Kalau merencanakan piknik ala keluarga taman bambu ini bagus sekali, banyak pohon-pohon rindang, rumputnya bersih. Bawa tikar, bekal dan kamera, asik deh.

Lokasi: Jl. Pagelarang, RT.6/RW.1, Setu, Cipayung, Jakarta Timur.

2. RPTRA (Ruang public terbuka ramah anak)

Kalau menuju taman bambu, kami melewatin RPTRA ini loh. Tapi saya ga begitu ngeuh. Konon katanya RPTRA adalah ruang public anak terbaik diantara 8 taman bermain lainnya di Cipayung. Ikut bangga, kalau ruang bermain anak di tanah air mulai hadir ditengah masyarakat.

RPTRA ini memang tidak seluas taman bambu, konsepnya mungkin berbeda. Diinisiasi oleh pemprov DKI. Usianya pun ternyata baru 1 tahun, diresmikan Oktober 2017. Konsep ruang public berupa taman yang dilengkapi arena permainan menarik anak. Juga RPTRA lokasinya bukan berada di tempat yang strategis tetapi berada ditengah pemukiman masyarakat. Ruang-ruang lainnya juga dihadirkan ditengah komunitas seperti perpustakaan, ruang laktasi, PKK Mart. Semuanya dikelola oleh masyarakat. Betul-betul hadir untuk, dari dan oleh masyarakat sendiri. Sehingga manfaatnya dirasakan oleh warga sekitar terutama lapisan bawah dan padat penduduk.

Taman bermain RPTRA ini lebih variatif, diantaranya ayunan untuk anak seusia Faiha dan seusia Yaqdzan yang sudah bisa mandiri. Kemudian perosotan, kuda-kudaan. Arena ini turut mensupport dan sudah memenuhi standart safety bagi anak-anak, lantainya beralas rubber tegels. Fasilitas bermainnya terawat, Kokoh, nyaman. Atau karena masih baru?

Saya kaget bercampur haru, melihat perpustakaan ini menjadi bagian dari ruang public anak. Di negara maju, memang perpustakaan ramah anak sudah tidak asing lagi. Hadir di tanah air rasanya bangga sekali. Berikut review saya tentang perpustakaan RPTRA. Desain dinding color full dan cukup menarik. Dilengkapi AC, ini yang membuat pengunjung nyaman.

Buku-buku yang tersedia disini menurut saya lumayan banyak untuk standart perpustakaan kelurahan yang belum lama berdiri, banyak tersedia boardbook bagi anak-anak. Walaupun buku yang tersedia masih terbatas. Sedihnya banyak buku-buku yang mulai rusak. Mungkin karena pengunjung yang tidak menjaga dengan baik ataupun kurangnya pengawasan petugas pada anak. Betul saja, saya menyaksikan sendiri anak-anak usia 3-4 tahun, masuk kedalam perpustakaan dan merobek lembar demi lembar buku. Tentu saya gemes, ga diam begitu saja ikut menegur dengan baik-baik. Tapi teguran saya dicuekin aja. Dan saya segera lapor pada petugas, ternyata anak warga tersebut yang tidak diawasi orangtua, berkeliaran disekitar sana meskipun ini sudah ditegur berkali-kali. Spot nyaman untuk berlama-lama dengan buku, saya belum menemukan hal ini. Anak-anak membaca buku dilantai gitu, harapannya kedepannya ada meja ataupun dikarpetin gitu hehe..Kabar baiknya disini juga ada kegiatan extra seperti kelas lukis, pencak silat, futsal.

Lokasi: Jl. Rw. Binong, RT.1/RW.10, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur.

Tips untuk berkunjung ke taman ini, lihatlah kondisi cuaca terlebih dahulu. Bisa berkunjung pagi atau sore hari disaat cuaca tidak begitu panas. Kami biasanya jam 7 pagi sudah berada di lokasi selain cuacanya masih enak juga arena bermain anak masih sepi. Yaqdzan kalau kegeurahan sedikit belum tahan, memilih untuk pulang. Enaknya di RPTRA bisa pindah ke perpustakaan sekalian ngadem.

Kemudian jagalah fasilitas ini sebaik mungkin, taati aturan yang ada. Misalnya saja membuka alas kaki ketika diarena bermain. Menjaga kebersihan lingkungan, membereskan buku-buku kembali, saling mengingatkan jika ada yang melanggar aturan. Semoga dimulai dari hal kecil dari diri sendiri titik awal lebih baiknya generasi bangsa.

Jakarta, November 2018

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *