Eindhoven,  Our Story

13 Januari, Senja yang Mencekam

Buienradar, aplikasi perkiraan cuaca populer kami mengabarkan bahwa
sore itu suhu 2 derajat celsius. Angin menembus celah-celah pintu rumah kami. Kotak pemanas putih yang berjajar di dinding tak seutuhnya memberi kehangatan.

“Ke Jumbo yuk, nyari buat cemilan malam enaknya apa ya?” Suami mengajak berkunjung ke supermarket berlogo kuning andalan kami. “Ayah benaran mau keluar? Tugasnya masih banyak ga?” Ujarku.

Boschdijk street yang biasa kami tapaki kini terhenti di Halte Minckelersplein. ” Kita naik bus aja gimana? Kakiku sakit” aku berjalan tertatih. Rasanya aku tak mampu berjalan kaki. Angin berhembus tak tentu arah, dingin menggigit tulang, dan bebanku semakin berat menunggu kelahiran si mungil yang tak lama lagi.

Hidup tanpa belaian mentari ternyata tidak mudah di negeri ini. Orang-orang tetap beraktivitas. Pintu supermarket berlogo kuning itu sibuk membuka dan menutup menyapa pengunjung yang berdatangan. Sulungku segera berlari menarik troli kecil di pojok pintu masuk. Roti, selai coklat, kerupuk, chips, keju, dan susu memadati troli. Aku mengambil sekantong patat frites dari freezer, kentang goreng yang akan jadi kudapan kami malam ini.

“Waduh busnya baru aja lewat, nunggu setengah jam lagi deh” suamiku sibuk mengecek situs transportasi 9292 memastikan jadwal bus tujuan kami ke rumah. Tidak ada pilihan lain, menunggu kedatangan bus berikutnya atau berjalan kaki. Aku juga heran, kenapa bus yang melintas di depan rumah kami hanya beroperasi setiap 30 menit. Tidak seperti di tempat lain, bus beroperasi setiap 15 menit.

Di sela-sela tirai putih aku menatap senja, menatap pohon- pohon yang kering kerontang, daun- daunpun entah kemana tak menemani ranting yang tersisa. Tak kutemukan seorangpun berlalu lalang. Eindhoven memang bagai kota yang mati disaat matahari kembali keperaduannya.

“Allahu Akbar Allaaahu Akbar….” Ponselku bergetar meneriakkan kalimat Ilahi. Kami bergegas menunaikan sholat magrib berjamaah. Membuatku semakin rindu suara azan dari sudut- sudut mushalla di desaku.

“Klek!” Pintu rumah kami terbuka perlahan. Bayangan pintu di depanku membuat sholatku tidak khusuk. Ada apakah gerangan? “Mungkin Denny landord rumah kami akan mengganti lampu yang kemaren rusak” aku mencoba berpikir jernih.

Dalam sekejab suamiku menghentikan sholatnya, berlari sekuat tenaga. “Thief..thief..thief..thief” sepanjang senja teriaknya bergema. Menerobos dingin bertelanjang kaki dan mengenakan sarung. Sebuah mobil tua berwarna biru aku saksikan melaju pelan mengikuti. Aku tak bisa berkata apa-apa. Tubuhku lemas seketika, sulungku menangis ketakutan. Aku mencoba menenangkan diri. Ku raih ponsel genggamku “mba..mba tolong” suaraku bergetar mengabarkan seorang teman yang rumahnya tidak jauh. Seketika beliau datang. Lidahku tak hentinya berzikir, menunggu kabar datang.

Aku memandang mobil tua berhenti di depan rumahku. Pria separo baya berwajah Turki menurunkan kaca mobilnya. Aku menatap pucat wajah suami yang duduk tersandar di sebelahnya. Menggenggam erat sebuah blackbox. Laptop hitam yang teronggok di meja belajarnya nyaris saja lenyap digondol maling. Hampir saja dia kehilangan semua file tugas- tugasnya yang sama sekali belum diback up. Tugas- tugas yang minggu depan harus diserahkan. Sungguh aku tak sanggup membayangkan.

Dengan bahasa Inggris terbata-bata pria separo baya itu bercerita, beliau perlahan mengikuti suamiku yang berlari panik di sepanjang jalan Pastoor Van Arslaan. Dia berusaha membaca situasi yang dia tidak dimengerti. Sebuah motor juga mengiringi mereka. Di pertigaan jalan, akhirnya pencuri dengan kilat meninggalkan laptop di trotoar. Mungkin si pencuri gagap mengira mobil & motor juga mengejarnya.

Kami sangat berterimakasih pada pria berwajah Turki itu. Tanpa pamrih dan sosok yang tidak dikenal beliau tidak ragu menolong.

Kejadian kriminal ini juga tak henti sampai disini. Suamiku mengabarkan kepada pihak berwajib. Dua pria berseragam hijau stabilo seketika mendatangi rumah kami. Mencatat kejadian ini. Membuat kami lebih berhati- hati, ternyata pintu rumah kami tidak terkunci saat kejadian. Sedangkan pintu lorong utama terbuka begitu saja karena tetangga bule kami bolak balik menurunkan barangnya.

Kejadian ini meninggalkan ketakutan yang mendalam bagiku. Jika malam datang 2 kursi dan 3 box mainan bertingkat aku utus sebagai penunggu pintu rumah kami. Agak konyol memang, tapi membuat hatiku lega. Melepas lelah, aku berbaring. “Sesuatu yang tidak bisa diatur dan diterka, bersyukurnya kami diselamatkan dari musibah ini” gumamku. Hanya Dialah sebaik-baik Penolong, semoga kejadian ini pengingat diri yang bersungguh-sungguh bertaubat dalam taat.

Jakarta, 14 Desember 2018
*Fakta kejadian 13 Januari silam di kota Philips Eindhoven

#30dwc #30dwcjilid16 #day5 #pejuangdwc #storytelling #faktadalamcerita

41 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *