Eindhoven

Kisah 6 jam Terperangkap di Ladang Tulip

“Siap kan mau sepedaan lagi?” Lontar suamiku sambil mengecek sebuah website rental sepeda. Tulip, orchid, dan rose terbayang-bayang di pelupuk mataku bersepeda menikmati bunga-bunga nan cantik.

Belahan bumi utara mulai semarak dengan dedauan. Bunga-bunga kuncup mulai bermunculan. Merah merona tulip diburu para pencintanya. Matahari lebih lama menampakkan diri. Musim semi adalah musim yang paling aku nantikan.

Nasi ayam kecap berbungkus aluminium foil, aneka chips, roti dan biskuit memenuhi backpackku. Tiga lembar tiket Nederlandse Spoorwegen (NS), ID card, dan Ov chipkaart tersusun rapi di dompetku. Kereta berlogo biru membawa kami ke stasiun Leiden.

Pagi itu stasiun ramai dipadati pengunjung. Aku mencari-cari bus khusus berwarna hijau. Antrian mengular panjang. Petugas satu persatu mengecek tiket. Pintu bus terbuka lebar, seketika orang-orang berhamburan masuk. Aku tergopoh-gopoh mendorong buggyku. Space buggypun dipenuhi penumpang yang berdiri. “Gapapa ya kita berdiri aja, biar sampainya ga kesiangan” suamiku menegaskan.

Masya Allah..Masya Allah, bagus banget! Wow luas ya” aku tak hentinya berucap sesekali badanku terbawa kelokan bus sambil mencari pegangan.

Pagi itu Lisse cerah sekali. Suhu menunjukkan 10 derajat, rupanya angin berhembus kencang. Selembar coat abuku tidak cukup sebagai pembalut kehangatan. Aku segera melilitkan syall abu di leherku. “Wah masih jam 10 nih, semoga kita kebagian bakfiet” tuturku.

Kami menuju spanduk orange berlambang sepeda yang tersembunyi di tengah hamparan luas parkiran mobil. Kudapati 7 orang sudah antri. “Reservation.. reservation” teriak petugas tiket. “Two bike, 1 bakfiet, and 1 bike bag” kami memesan & menyerahkan 3 lembar kertas euro & 3 koin. Tiga puluh tiga euro, kami bisa menikmati ladang tulip sepuasnya.

“This is okay for you” tanya petugas. Aku mencoba sepeda berukuran sepantaran anak- anak. Aku tertawa geli menggunakan sepeda kecil ini, tapi inilah yang membuatku nyaman. Sepeda yang selayaknya usiaku sangatlah tinggi dan aku tidak terbiasa memakainya.

Sekotak buah anggur dan biskuit aku letakkan di bakfiets, cemilan anak-anak di perjalanan. Anak-anak duduk tenang. Kami siap gowes keliling ladang. Suamiku menggenggam sebuah peta menemani perjalanan kami.

Di sepanjang jalan kami banyak berpapasan dengan pengguna sepeda. Sesekali terhenti melewati lampu merah. Aku terus menelusuri aspal merah jalur sepeda. “Yah anak-anak aman?” Aku berteriak melaju lebih cepat.

Hamparan bunga ungu terbentang luas dari kejauhan. Kami menggowes lebih cepat demi menikmati hamparan bunga lavender. “Hmm..wangi sekali” aroma lavender menyegarkan suasana. Aku segera memasang tripod dan mengatur kamera, mengabadikan ladang lavender.

Rasanya aku sudah lelah berkeliling. Bunga tulip yang kami bayangkan tak kunjung tampak. Rupanya ladang bunga ini terbentang seluas 25 km. Dan tak semua kebun bunga terlihat mekar.

Kami melepas lelah di hamparan bunga berwarna warni. Mengisi perut yang keroncongan. Anak-anak tampak kooperatif, tidak ada yang rewel meskipun berjam-jam di bakfiets. “Capek ya, kita lewat jalan keluar terdekat aja yuk” ajakku pada suami. Aku pegal sekali rasanya. Kakiku tidak sanggup lagi menggowes sepeda. Aku mengganjal bangku sepeda dengan selimut berharap menambah energiku. Angin kencang terus berhembus. Aku mengkhawatirkan anak-anak yang mulai kedinginan. Rupanya kami terperangkap ditengah ladang tulip. Melanjutkan perjalanan atau berbalik arah sama saja. Aku kapok. Khayalanku datang tak merubah keadaan “seandainya ada ojek, aku mau naik ojek saja” khayalan mustahilku. Akhirnya kami memilih berbalik arah, berharap bertemu tulip yang mekar. Melewati jalanan yang agak menanjak, berharap bertemu turunan agar aku berhenti gowes sejenak.

Bagai menemukan mata air di tengah gurun pasir. Hamparan tulip merah yang mekar membentang indah. Mungkin lokasinya agak tersembunyi ini yang membuat kebunnya terlewat. Kami berhenti sejenak. Melewati sela-sela rumpun tulip dengan penuh kehati-hatian. Pengunjung cukup ramai. Beberapa batang bunga rusak terinjak begitu saja. Aku miris melihatnya.

Beberapa anak kecil menjajakan bibit tulipnya. Aku tak melewatkan momen ini, hanya 1 euro 10 batang bibit tulip. Aku memboyong segenggam tulip dengan girangnya. Akan menjadi tulip yang cantik di rumah kami. Dari hamparan bunga aku belajar adab terhadap sesama. Pemilik kebun sudah memberi izin pengunjung datang. Sungguh menyedihkan jika pengunjung tidak menjaga bunga dengan baik.

Jakarta, 27 Desember 2018
* Keliling sepeda di kebun tullip Lisse Belanda yang bikin badan super pegel selama 1 minggu

#day18 #squad1 #30dwc #30dwcjilid16 #storytelling #nonfiksi

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *