Our Story

Khalayan Sebungkus Nasi Padang di Catharina Hospital

“What do you want to eat? You can choose any menu” Tanya petugas gizi rumah sakit. Perutku keroncongan. “Rice!!” Jawabku spontan. Senyum getir petugas mengecewakanku. “Oh no, you can choose bread, cereals, meat, fruit or fish” jawabnya.

Sebuah apel, cereal, susu dan roti yang disuguhkan nutrisionis sebagai sarapan pagi tidak mengenyangkan perutku. “Aku ingin makan nasi” gerutu hatiku. Sudah terbayang gerobak soto dan nasi uduk di pinggiran rumah sakit. Ayam gulai dan sambal ijo di restoran minang. Semua sungguh hanya khayalanku semata. Siang itu, ikan hangat dan roti cukup mengenyangkan perutku daripada segelas susu & cereal lagi.

Petugas sibuk memasuki ruanganku. Ucapan selamat atas kelahiran si kecil tak henti menggema. Dokter anak terus memantau kondisi si baby yang lahir prematur. Ya meskipun si baby terlahir disaat usia kehamilan 36 minggu 5 hari, kurang 2 hari tetap didiagnosa prematur.

“Fiz kami akan bawa Yaqdzan ke rumah sakit ya” aku menerima pesan singkat dari seorang teman. Beberapa orang teman datang bersama sulungku. Antara senang, haru dan sedikit cemas aku bertemu sulungku, maklum saja kami jarang berpisah. “Bunda aku bawa kado buat baby” ujarnya. Masya Allah sulungku tampak ceria dan seolah faham kondisi keluarga. Membuatku lega.

“Ada nasi, sop buntut fiz” sebuah rantang disodorkan temanku. “Ya ampun mba, alhamdulillah. Jadi merepotkan” jawabku girang seketika. Katanya sudah tradisi merebut pahala di keluarga beliau, mengantarkan masakan pada teman-teman yang baru saja melahirkan. Sosoknya yang begitu hangat, murah hati dan beretika memikat hatiku. Kami menyantap sop buntut dengan lahap. Rupanya suamiku juga merindukan nasi. Tenaganya terkuras menemaniku dan belajar.

Sebuah lembar formulir tergeletak di meja. Sesaat petugas walikota mendatangi kami. Beliau adalah petugas yang akan mengeluarkan akte lahir putriku. Bersyukurnya hari itu adalah jadwal walikota berkunjung ke rumah sakit, kami tidak perlu mengurus akte kelahiran di luar.

“Enak juga di rumah sakit ya, disediakan makanan dan bayi ada yang mengurus” ceplosku pada suami. “Katanya besok pagi kita sudah boleh pulang” sahut suamiku. Kondisi bayiku cukup stabil, tidak ada gangguan lainnya meskipun terlahir prematur. Kami 36 jam berada di rumah sakit. Waktu yang cukup lama, dibandingkan peraturan yang ditetapkan negara yaitu para ibu dan bayi dengan kondisi sehat 6 jam postsalin harus pulang ke rumah. Bagiku berada di rumah sakit adalah sebuah keistimewaan sejenak. Bagaimana tidak, jauh dari keluarga membuat aku bingung merawat 2 anak. Sementara kondisiku belum pulih sempurna. Bersyukur banyak uluran tangan kebaikan yang menghampiri kami.

Jakarta, 30 Desember 2018

*Next story cerita tentang kramzorg
#squad1 #day21 #30dwc #30dwcjilid16 #storytelling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *