Hamil dan Melahirkan

Cerita Persalinan di Penghujung Exam Week

1 Februari 2017

Handuk, piyama, pakaian baby, kaos kaki, diapers, dan sendal memadati koper coklatku. Sebuah carseat merah dan kamera siap dibawa. Aku memasukkan 2 centong nasi dan nugget ayam buatanku pada lunch box hijau.

Ponsel genggamku bergetar, azan zuhur berkumandang. Aku ingin beristirahat sejenak, melepas lelah perjalanan dari rumah sakit. Sulungku sibuk memilih mainan dari box birunya. Aku berbaring di kasur ditemani kontraksi yang semakin sering. Suami terus mengobservasi dan sesekali kembali mengerjakan tugasnya.

Malam semakin sunyi. Pohon-pohon gundul tumbuh bagai tak bernyawa. Dingin semakin pekat. Musim dingin membuat malam lebih panjang. Aku perlahan mengisi perut yang tidak lapar, sebagai cadangan energi bagiku. Kala kontraksi datang aku banyak terdiam dan mengatur nafas. Suami membantu memijit punggungku, sedikit mengurangi rasa sakit. “Bunda kita telepon rumah sakit ya, udah teratur 5 menit sekali” ujarnya. Aku tidak berdaya dan pasrah meringkuk di sofa.

Petugas rumah sakit menanyakan kondisiku, termasuk alasan kenapa kami memilih melahirkan di rumah sakit. Riwayat persalinan sebelumnya yang operasi, mewajibkan aku harus melahirkan di rumah sakit. Memang sistem kesehatan di Belanda menganjurkan para ibu untuk homebirth yang dibantu oleh bidan. Beberapa kondisi yang tidak ada indikasi wajib untuk melahirkan di rumah sakit, akan dikenakan biaya tambahan jika menginginkan di rumah sakit. Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku hanya pasrah.

Suami menelpon seorang teman yang akan membantu kami ke rumah sakit. Seketika beliau datang. Aku tertatih berjalan, mengambil coat hitam dan boots abuku. Rintikan hujan salju menemaniku malam itu. Aku meninggalkan jejak penuh kehati-hatian. Google map mengantarkan kami ke Catharina hospital. Mobil melaju cepat. Aku duduk menahan sakit yang memuncak.

“Mas Ricki titip Yaqdzan ya, maaf sudah merepotkan” ujarku. Suamiku sigap mengambil kursi roda. Aku mulai merintih menahan sakit. Lift mengantarkan kami ke lantai 11. “Halo, goede nacht mevrow” sapa hangat seorang petugas. Tiga orang petugas berseragam biru menyambut kami.

1 Februari 2017 Pukul 20.00 CET

Kami menuju pada sebuah ruangan. Aku segera berbaring di bed. Seorang suster mengecek tekanan darahku. Kabel-kabel banyak menempel pada perutku. Sebuah monitor bergerak memantau denyut jantung janin. Suamiku memegang erat tanganku, mensupport kala kontraksi datang.

Sebuah pesan singkat kami kirimkan pada orangtua. Kami meminta doa tulus dari mereka. Seketika aku merasakan dorongan mengedan dan air membanjiri bed. Rupanya ketubanku pecah. Sesaat 2 orang petugas masuk. Beliau adalah seorang bidan dan dokter umum. Bidan segera memeriksaku dan mengabarkan aku siap untuk mengedan. Masya Allah aku terharu sekali, tidak menyangka pembukaan 10 cm secepat ini.

1 Februari 2017 Pukul 21.00 CET

Bidan Jenni mengatur posisiku, aku hanya mengangguk pasrah. Ini adalah pengalamanku melewati proses persalinan pervaginam. “Push your baby..push your baby, good job” sang bidan dan dokter mensupportku. Aku mulai letih dan tidak semangat. Segelas air putih aku telan perlahan, berharap akan menambah energi. Dikala kontraksi datang, aku kembali mengedan. Rupanya belum ada kemajuan apa-apa. Kakiku kram. Petugas memijat kakiku sejenak.

“Bunda semangat ya, sedikit lagi perjuangannya, bismillah” tutur suamiku. Aku mengerahkan seluruh tenaga dan nafas, kembali semangat dikala kontraksi datang. “Satu kali pushing lagi kamu pasti bisa” bidan menyuntik semangatku. “Good job..good job” suara petugas saling bersahutan. “Allahu akbar..allhuakbar..Bbbbbbrrr” aku membuang nafas tersengal-sengal. Pukul 22.00 CET, seketika tangisan bayi mungil terdengar. Sang bayi ditempelkan di dadaku. Tangis haruku pecah seketika. “Alhamdulillah bunda” suami memelukku.

Wajahku sudah tidak karuan, keringat membanjiri muka dan bergo coklatku sudah berapa kali turun. “Where is your camera?” Tanya seorang dokter. Sang bidan mengulurkan gunting pada suamiku. Beliau menyuruh suamiku memotong tali pusat. Amazing! Hal yang pertama bagi kami. Sang dokter dengan sigap mengabadikan momen ini.

Bidan selanjutnya mengecek plasenta dan luka persalinanku. Kesakitan yang ku alami terbayar sudah. “Congratulations for your baby” ucapan petugas bergantian pada kami. Aku tersenyum bahagia, haru sekaligus letih. Di sesi terakhir sang bidan meminta kami foto bersama. Aku berterimakasih pada kebaikan dan support mereka.

Mereka berpamitan pada kami. Selanjutnya ada nurse yang memantau kondisi postpartumku. Sebelum berpamitan, beliau menjelaskan fasilitas ruangan yang kami gunakan. “Microwave, kulkas, dan lemari pakaian ada dipojok kiri” ujarnya. Selimut, bantal dan sofa bisa diubah menjadi kasur adalah fasilitas untuk suamiku. Aku lega sekali setidaknya kami bisa sama-sama beristirahat dengan nyaman.

“Alhamdulillah satu-persatu urusan kita selesai ya, gimana persiapan ujian lusa yah?” tanyaku. Suamiku kembali membuka lembar demi lembar papernya. “Kalau sudah berusaha biarlah takdir yang menentukan” sahutnya. Rupanya suamiku bertemu seorang koleganya di lantai bawah rumah sakit. Beliau menuju ruang persalinan. Mereka saling terbahak dari kejauhan, kalau tugas yang akan dikumpulkan hari senin belum dikerjakan sama sekali.

Jakarta, 29 Desember 2018
*Bagaimana hasil ujian kuartil ini? Nantinya next story ya 🙂

#squad1 #day20 #30dwc #30dwcjilid16 #storytelling #nonfiksi

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *