Our Story

Sebongkah Rindu pada Ukhuwah

Tiada terasa lebih surga bagi dua hati yang saling mencinta yang semisal menikah. Maka di lapis-lapis keberkahan rumah tangga menumbuhkan putra-putri berbakti yang mengenal Rabbnya, mentauhidkan Ilahnya, memesrai kebersamaan dengan-Nya, menikmati ketaatan pada-Nya, bersumsumkan akhlaq mulia dan bersendikan adab jelita.” Salim A. Fillah.

Pagi itu daun daun mulai menampakkan tunasnya. Bunga-bunga bermekaran dengan indah. Merah, kuning, ungu dan biru. Rupanya pohon yang membeku di musim dingin kini kembali bernyawa. Musim semi nan cantik telah datang. Aku mengecek ponsel genggamku, membuka 9292 aplikasi transportasi andalanku. “Eindhoven-Rotterdam, pukul 10.10 di peron 5” aku mengabarkan pada suami. Selimut, matras, perbekalan, dan mainan memenuhi tasku.

Angin berhembus di koridor peron, pertanda sebuah kereta datang. Penumpang seketika berhamburan. Aku berdiri di depan pintu kelas 2, menunggu penumpang turun. “Helpen?” Sapa seorang pria gagah berambut pirang menawarkan bantuan. Kami menggangkat buddy putriku. Sudah tidak heran lagi, tawaran bantuan selalu ada ketika kami repot menggotong anak-anak.
Nederlandse Spoorwegen, kereta api kuning mengantarkan kami menuju kota Rotterdam yang berjarak 120 km dari kotaku.

Dua kursi berhadapan menjadi spot duduk keluarga kami. Kupandangi kursi-kursi di sekitar mulai dipenuhi penumpang. Weekend, Rotterdam memang menjadi rute ramai untuk dikunjungi. Seorang perempuan tua bercoat hitam melontarkan senyumnya pada anak-anak. Aku membalas senyumnya seketika, kupandangi sulungku tersenyum manis.

Di lorong belakang kudapati seorang pria sibuk dengan laptopnya. Perempuan separo baya diam tak bergeming dengan buku digenggamannya. Aku salut pada kemampuan literasi mereka tanpa memandang usia.

Ramadhan akan menjelang, kami berkumpul dengan teman-teman muslim Indonesia untuk mencari sebuah semangat dan ilmu. Menghadiri sebuah kajian dari seorang ustadz. Menyambut meriah ramadhan yang dinanti.

Kubah putih tersusun diatas kumpulan bata putih. Mesjid berbentuk kotak yang tidak begitu tinggi membuat aku tak percaya. Mesjid nan megah. Bagaimana tidak, mesjid-mesjid di Eindhoven gedungnya tampak tidak seistimewa ini bagiku. Halte diseberang mesjid menjadi pemberhentian tersibuk saat itu.

Ratusan orang memadati mesjid. Buddy berjajar mendekati pintu masuk. “Hmm..anak-anak banyak yang hadir” ujarku. Setidaknya aku bukan ibu yang sendiri memboyong bayi 3 bulan dan sulungku.

Mesjid Bait Arrahman, masjid yang dulunya dibangun oleh komunitas muslim Maluku. Cerita seorang temanku. Aku hampir tidak percaya. Karena pada umumnya mesjid-mesjid didirikan oleh pendatang dari Turki dan Maroko. “Assalamualaikum mba Mya ya?” Aku menyapa seorang teman yang selama ini baru sekedar bertemu di medsos. “Mba Rosel, Masya Allah ketemu lagi” kami bersalaman erat. Aku bahagia sekali, kali pertama merasakan ini.

Kajian sesi kedua segera dimulai. Aku menempati shaf kedua dari depan. Putriku Faiha aku geletakkan di karpet, tampak tenang dan anteng. Aku membuka note ponselku, mengimak dan mencatat kajian berlangsung. Perlahan akupun berkenalan dengan para ibu di sekitarnya. Rupanya Faiha mendapat sorotan peserta. Putriku banyak mendapat bonus pangkuan, gendongan dan doa.

Matahari kembali ke peraduannya. Orang-orang berlomba membasuh muka mensucikan diri. Para ibu menggendong dan mengajak anak-anak menunaikan sholat magrib. Di sepanjang karpet dan pojokan ayat- ayat Al Quran menggema syahdu. Sesuatu yang sudah lama ku rindu, terobati juga.

Ah, aku rindu tanah air. Rindu mengunjungi mesjid bersama anak- anak. Rindu mendengar azan berkumandang. Rindu mabit. Rindu suasana ukhuwah yang kini aku rasakan.

Jakarta, 26 Desember 2018

*Kisah kalami 2017 di Mesjid Bait Arrahman Rotterdam

#day17 #30dwc #30dwcjilid16 #squad1 #storytelling #nonfiksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *