Our Story

Semangkok Kibbeling di Pasar Sabtu

“Jadi kita ga kebagian tiket kereta promo yah? Ya udah Ke Amsterdamnya ditunda dulu” aku menyusun jadwal liburan akhir pekan kami. Hari sabtu adalah yang paling aku nantikan, hari yang paling sibuk dan juga melelahkan tetapi membuatku bahagia Bagaimana tidak, bagiku 6 hari lainnya adalah rutinitas memenuhi kebutuhan dapur dan mempersiapkan sulungku sekolah. Sedangkan bagi suamiku adalah hari-hari yang berkutat dengan tugas, rumus-rumus dan perpustakaan. Menjadi mahasiswa master di negeri van orange, membuatnya belajar sangat keras.

Matahari menyengat di ubun-ubun. Sinarnya yang terik membakar kulit. “Makan kibbeling yuk”, aku mengajak suami ke pasar sabtu. Aku membuka payung hitamku, sedikit mengurangi terik matahari. Meskipun bagi warga lokal adalah pemandangan aneh, aku tidak peduli. Warga lokal memang berlomba-lomba mencari matahari membakar kulit. Sesekali aku menghentikan langkah, menyambut terpaan angin nan sejuk di bawah pohon yang rindang.

Stand-stand berjajar rapat, dikelilingi oleh supermarket disepanjang jalan kiri dan kanan. Lapangan luas yang biasanya digunakan untuk parkiran, seketika berubah menjadi pasar. “Satu euro..satu euro” pedagang sayur menjajakan brokoli, sawi dan tomat. Tumpukan keju yang bundar besar menyorot mataku. Aku menyinggahi stand ini, berbagai jenis keju dan rasa tersedia. Tidak asing lagi, keju adalah produk lokal yang sudah berisi ratusan tahun. Hingga menjadikan Belanda terkenal dengan kejunya.

Aku berkeliling pasar, melewati pedagang wortel, brokoli, tomat, dan paprika. Buah perzak mendominasi pedagang buah di pasar ini, buah yang banyak ditemui ketika musim panas. Buah adalah kebutuhan besar harian kami. Entah kenapa, buah sudah menjadi konsumsi wajib bahkan juga menjadi makanan kudapan kami. Harganya relatif murah sebut saja apel 1 kg sekitar 2-3 euro, anggur 500 gram sekitar 2-4 euro. Pisang 1kg hanya 1 euro. Buah musiman seperti stroberi, perzak juga kami dapatkan dengan harga terjangkau. Terlebih kalau pintar mencari buah diskonan. Bisa memboyong buah dengan harga murah.

Meskipun buah dan sayuran pasar, menurutku harganya tidak murah dibanding supermarket. Memang aneka buah dan sayuran yang ditawarkan lebih fresh. Keliling pasar untuk survey harga antar pedagang adalah hal utama yang aku lakukan. Mencari harga termurah ataupun menanti buah obral menjelang pasar ditutup.

“Ada bawang Bombay 1 kantong besar 1 euro mau ga? Suamiku ikut jeli melihat harga murah. “Kalau ada buah mangga murah, infoin ya yah” aku mengeluarkan kamera andalanku mengabadikan suasana pasar. “Hai..hai..hai dilarang mengambil foto” teriak pedagang paprika membelalakkan matanya. Aku kaget seketika. Mengambil foto di negeri ini memang tidak bisa sembarangan. Misalnya saja di sekolah sulungku, orangtua dilarang memotret anak orang lain.
Aku tidak menyangka, di pasar sekalipun ada orang yang tidak menyukainya walaupun aku hanya mengambil foto tumpukan paprika.

“Bunda lapar, mau makan” sulungku merengek. Aroma sedap ikan goreng menghampiri kami. Aku mengantri di sebuah mobil van dengan etalase ikan mentahnya. Kibbeling, camilan berupa irisan ikan segar yang dicelupkan ke dalam adonan khusus kemudian digoreng langsung ditempat. Jajanan yang tak pernah terlewatkan jika kami berkunjung ke pasar. Kibbeling memang mengundang selera, makannya dicocol dengan saos bawang putih.

Masakan Belanda terbentuk dari kebiasaan memancing dan bertaninya. Mulai dari pengolahan tanah, rumah kaca, pertanian buah, peternakan dan perikanan. Meskipun sektor perikanan Belanda maju, namun kami tidak bisa menyantap ikan setiap hari. Karena harga yang ditawarkan tidaklah murah.

Jakarta, 23 Desember 2018

#day14 #30dwc #30dwcjilid16 #squad1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *