Hamil dan Melahirkan

Sepenggal Harapan di Lantai 11 Catharina Ziekenhuis

Sulungku sudah 1 minggu tidak sekolah. Malam hari suhu badannya tinggi. Termometer digitalku tak bergerak turun, selalu menunjukkan angka 39 derajat celcius. Sirup stroberi penurun panas hanya sesekali terminum, itupun setelah beberapa kali aku menegonya. Entah kenapa dari dulu sulungku susah sekali minum obat. Matahari menerangi kegelapan, seketika suhu tubuhnya turun. Namun malam datang demampun kembali datang. Siklus yang kami alami seminggu ini. Virus winter yang menggorogoti sulungku.

Sulungku hampir setiap jam terbangun dan gelisah. Akupun menanggung beban semakin berat kehamilan yang hampir serusia 37 minggu. Rasanya tak ada lagi tidur nyenyak semenjak 1 bulan terakhir. Suamiku tiada malam yang terlewati tanpa paper dan rumus-rumusnya. Minggu ini adalah hari-hari terberatnya. Exam week, 6 mata kuliah yang harus diperjuangkan keras.

Aku menilik jam dindingku, pukul 3 pagi. Aku merasakan kontraksi perut bagian bawah. Selang 30 menit kontraksinya datang, membuat aku susah bergerak. Sesekali aku meringkukkan badan menahan sakit. Aku tidak memberitahu suami, hanya mengatur nafas dan berzikir.

Kudapati suami tertidur pules, wajahnya lelah, dan aku tidak tega membangunkan. “Hmm ayah pasti baru aja tidur” gumamku. Aku membawa selembar selimut ke ruang tamu. Berharap bisa terlelap. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu. Ternyata blood show. Salah satu tanda persalinan yang aku takutkan, karena aku tidak ingin melahirkan disaat exam week ini.

Pagi itu kami bergegas ke rumah sakit, memenuhi jadwal kontrol kehamilanku. Sulungku yang tidak sekolahpun ikut ke rumah sakit. “Semoga tidak ada masalah apa-apa dengan pihak sekolah” gumam hatiku. Karena mengajak anak-anak keluar rumah yang sedang ijin sekolah sangat tidak disarankan. Kalau diketahui pihak pemerintah kami bisa dikenakan denda.

Aku berjalan tertatih menuju halte bus. Aku mengabari kondisiku pada suami yang berjalan lebih dahulu. “Yah gimana kalau lahirannya minggu ini?” tanyaku khawatir. “Gapapa, kita minta yang terbaik aja” suamiku menjawab dengan wajah senyum yang berat.

Kami akhirnya tiba di gedung yang menjulang tinggi. Catharina Ziekenhuis, rumah sakit terbesar di kota Eindhoven menyambut kami. Lobi rumah sakit dipenuhi oleh pengunjung lansia. Sebuah restoran berjajar di kananku. Stand roti mulai mengundang rasa lapar. Beberapa pertokoan siap melayani pengunjung. “Hmm..seperti di mall” aku melirik kiri kanan mengalihkan rasa kontraksiku. Kami mencari-cari ruangan obstetrics & gynecology,
lift mengantarkan pada lantai 11. Satu persatu pengunjung berdatangan. Sebuah troli mondar mandir menawarkan minuman. “Kamu mau kopi atau teh?” tanya perempuan berseragam putih. Segelas kopi aku nikmati perlahan, entah kenapa berada di negeri kincir angin ini membuat aku ketagihan dengan kopi. Apalagi musim dingin datang kopi seperti memberi kehangatan bagiku. Ibu hamil maximal 3 gelas/hari, pesan bidan yang aku pegang erat. Sulungku sibuk membuka buku-buku di pojok rumah sakit. Sedangkan suamiku berkutat dengan lembaran-lembaran kertas dihadapannya. Tak ada sepatah katapun diantara kami.

Mevrow Hafizatul” panggil petugas. Aku memasuki ruangan USG. Pemeriksaan berjalan lebih lama karena jeda yang aku rasakan ketika kontraksi datang. Selembar kertas foto usg aku terima. Tidak ada masalah apa-apa pada diriku. Hanya saja perkiraan berat bayi hanya sekitar 2400 gram.

Selanjutnya aku bertemu dengan bidan. Ini kunjungan keduaku ke rumah sakit. Sebelumnya aku diperiksa oleh seorang dokter obgyn untuk memastikan kondisiku pasca operasi persalinan 4,5 tahun lalu. Alhamdulillah kondisiku baik-baik saja.

Bidan Maria menyambutku ramah. “How are you doing” sapanya. Kami satu persatu menanyakan soal kelengkapan persalinan dan kondisi janin. Aku lagi- lagi menanyakan taksiran berat bayi yang kecil menurutku. Tetapi berkali-kali bidan mengatakan tidak masalah melihat postur badanku yang juga tidak besar. Maria membuat hatiku tenang. Beliau juga meyakinkanku “kamu bisa vaginal birth after caesar“.

Aku tidak bisa membayangkan jika takdir harus kembali caesar, siapakah yang akan mengurus anak-anak. Dan juga menjemput sulungku sekolah. Kami tidak punya siapa-siapa di tanah rantau. Pikiran cemasku mendekati seketika.

Maria hanya mengecek tekanan darah dan janinku. Tidak ada pemeriksaan lanjut walau aku sudah mengalami blood show. Aku tidak tau dengan kontraksi sekarang sudah ada pembukaan mulut rahim atau belum. “Semua perlengkapan persalinan disiapkan dalam 1 tas, termasuk kamera. Jika kontraksi teratur datang setiap 5 menit dalam waktu 1 jam silakan menelepon verlos kamer (VK) rumah sakit” ujarnya. Iya kamera adalah salah satu perlengkapan yang ada di list 2 lembar kertas itu. Aku tidak mengerti kenapa ini begitu penting.

Kami meninggalkan rumah sakit dengan lega. Aku harus menyiapkan mental dan fisik seandainya persalinan tidak lama lagi. Langkahku tertahan di pintu bus, menghalangi penumpang turun. Aku menahan kontraksi yang semakin kuat. Orang-orang satu persatu mendekatiku, “good luck for you and your baby“. Betul-betul jadi suntikan semangat bagiku.

Jakarta, 28 Desember 2018
*Bagaimana kisah selanjutnya? Nantikan esok ya 🙂

#squad1 #30dwc #storytelling #30dwcjilid16 #day19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *