Our Story

Pejuang Terapi Kepala Peyang

“Kalian sebaiknya membawa Faiha ke kinderfysiotherapie” diagnosa sang dokter saat kami mengunjungi posyandu. Aku heran dan terkaget putri kami Faiha terdiagnosa sindrom kepala peyang. “Masa sih kepala peyang aja harus diterapi?” Aku masih terheran-heran meninggalkan langkah pintu posyandu.

Kami tidak begitu mengindahkan anjuran dokter. Tidak begitu penting bagiku, “toh di Indonesia ga ada diterapi segala” gumam hatiku. Selang 1 bulan kami kembali berkunjung ke posyandu untuk memenuhi pengecekan tumbuh kembang si kecil. Dokter kembali menyarankan kami kembali untuk membuat janji pada fisioterapi. Akupun tidak setuju begitu saja. “Apa urgensinya putriku harus dibawa ke fisioterapi? Kami bertanya kepada perempuan berambut cepak itu.

Berkunjung ke fisioterapi bagiku artinya ada sesuatu yang tidak normal, entah penyakit atau kelainan pada putriku. Sedangkan aku merasa putriku sehat-sehat saja. “Kalian bisa ke fisioterapi untuk memperbaiki kepala Faiha yang datar, bukan karena penyakit tetapi hanya untuk estetika” jelas sang dokter. “Usianya yang kini 3 bulan adalah waktu yang tepat untuk segera memulai” lanjut sang dokter.

Aku sedikit lega. Aku akui bagian belakang kepala Faiha datar. Faiha memang anak yang tidak pernah rewel dan banyak tidur. Posisi telentang adalah favoritnya. Ini yang membuat kepala bagian belakangnya datar. Dan seingatku, kraamzorg tenaga ahli yang membantu 7 hari pasca salinku tidak memberi edukasi apa-apa, hanya saja bayi tidak menggunakan bantal saat tidur agar kepala bayi bebas bergerak.

Aku melangkahkan kaki menuju gedung tua yang selalu sepi terlihat. Gedung berbata merah yang diapit pohon- pohon besar. Lima sepeda aku dapati terikat rantai di parkir sepeda. Sebuah sepeda putih bertulang besar dengan keranjang rotannya menarik pandanganku. Aku yakin sepeda ini milik tim dokter keluarga kami. “Betul- betul sepeda menjadi transportasi utama tanpa memandang status sosial” gumamku. Kami meminta sebuah surat rujukan pada dokter keluarga seperti yang dianjurkan dokter posyandu. Sang dokterpun menjelaskan rincian biaya fisioterapi. Semuanya memang dicover oleh asuransi namun jika kami tidak hadir tanpa konfirmasi akan dikenakan denda 46 euro. Angka yang mengerikan bagiku. Jasa memang sangat dihargai dan dibayar tidak murah di sini. Komitmen dan janji begitu ditegakkan.

Aku segera menghubungi kantor fisioterapi. Membuat janji adalah hal utama yang dilakukan. Mengunjungi instansi apapun tanpa membuat janji, sungguh mustahil di negeri ini. Selembar surat rujukan aku boyong menuju fisioterapi. Kinderfysiotherapie yang terletak di jalan Barrierweg yang berjarak sekitar 800 meter dari rumah. Lokasi ini adalah yang terdekat dari rumahku. Lagi-lagi kami tidak bisa memilih petugas dan lokasi. Namun sistem yang ditetapkan sebetulnya memudahkanku. Posyandu, dokter keluarga, maupun instansi fisioterapi hanya kami datangi dengan berjalan kaki.

Owww mooi meisje” Perempuan separuh baya berambut pirang menyapa putriku. Aku dapati berbagai macam alat terapi di ruangan. Mainan berbagai rupa terpajang. Aku menggeletakkan Faiha pada matras merah. Petugas mengukur lingkar kepala putriku, mencetak lingkaran kepalanya. Memang terlihat ada lingkaran yang gepeng.

Posisi tidur miring sempurna ke kiri atau kanan adalah yang pertama diajarkan petugas fisioterapi. Faiha kepalanya kaku karena terbiasa tidur telentang. Meletakkan mainan di kiri atau kanan akan menstimulasinya untuk menoleh. Aku terus mempraktekkan apa yang dianjurkan petugas di rumah.

Setiap minggu dengan pertemuan hanya 30 menit aku mendapat ilmu baru yang harus aku praktekkan di rumah. Hal- hal simple yang ternyata berpengaruh besar terhadap Faiha. Misalnya saja tummy time, berlatih posisi miring, menggangkat bayi agar lehernya fleksibel.

Mengantar Faiha ke fisioterapi membuat waktuku tersita banyak. Di hari yang sama aku punya jadwal mengaji, kemudian menjemput sulungku sekolah. Tetapi aku harus memegang komitmenku. Sedikit saja aku lalai, aku akan mendapat teguran dari petugas. Bahkan kalau malas hadir, aku akan dikenakan denda yang tidak sedikit.

DSCF6104.

Tiga bulan menjalani terapi, petugas kembali melakukan pengukuran lingkar kepala. Aku bersyukur ada kemajuan yang berarti meskipun kepala Faiha belum bulat sempurna. Ikhtiar yang tidak instan dan ada kesabaran yang menyertai. Ada perjuangan yang menuntutku. Perjuangan mengatur kegiatan harian yang kemana-mana diakses dengan jalan kaki, yang sebetulnya membuatku lelah. Namun terbayar sudah melihat progress yang dialami putriku. Dan yang tak terbayar oleh apapun adalah ilmu dan pengalaman aku selama bertemu petugas fisioterapi.

Jakarta, 24 Desember 2018
*Kisah terapi kepala peyang Faiha di Belanda

#day15 #30dwc #30dwcjilid16 #squad1 #storytelling #nonfiksi #temapejuang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *