Our Story

De Doorstroom, Inspirasi Sebuah Toko Bekas

source: google

“Fiz tau ga ini toko bekas loh, barangnya bagus-bagus murah lagi” aku dengan seorang teman melangkahkan kaki ke sekolah melewati sebuah toko. Toko yang apik terapit oleh stasiun pengisian bahan bakar dan toko furniture.

Pukul 12 siang orang-orang tampak satu persatu memarkirkan sepedanya. Kami menantikan petugas membukakan pintu tokonya. De Doorstroom sebuah toko bekas yang berjarak 200 meter dari sekolah sulungku. Seorang perempuan yang memakai coat hitam melontarkan satu senyuman padaku. Hatiku hangat seketika. Tidak asing lagi ku temui senyuman orang-orang di sini, entah sekedar menyapa atau menghibur anak-anak yang sedang rewel. Keramahan warga Belanda membuatku betapa indahnya dunia, meskipun mereka blak-blakan tidak mengenal basa basi seperti budayaku.

Pintu terbuka otomatis menyambut pengunjung berdatangan. “Hai” sapa seorang kasir. Aku mengambil keranjang belanja berwarna biru. Mataku mulai mengamati pernik- pernik pertokoan. “Hmm..bau khas barang bekas” aku mencium udara yang kedap. Di sepanjang dinding terpampang suvernir unik ala Holland. Berbagai perabot rumah tangga tampak apik dan terawat. Kasur, tempat tidur, meja makan, sofa memenuhi ruangan tengah. Pakaian dan tas tergantung rapih layaknya pertokoan di Centrum. Peralatan memasakpun kudapati tersusun rapih di sepanjang etalase. “Hmm..kayanya asik juga belanja di sini, ternyata barangnya sangat layak pakai” gumam hatiku.

Ku pandangi seorang petugas sedang mendorong troli yang penuh dengan barang-barang. Bak demi bak disinggahinya menambah stok barang yang ada. Sepatu anak, piring, mainan, buku, panci satu persatu terselesaikan. Aku masih bingung dan terpana pertamanya mengunjungi toko ini.

Sebuah pojok mainan kutemui di bagian belakang. Balance bike kayu, dan scooter menarik perhatianku. Sebuah etalase besar tersusun rapih berbagai macam puzzle. Kepingan puzzle sederhana hingga yang rumit tersedia. Ku dapati puzzle 1000 pcs bertema kastil, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rumitnya merangkai puzzle ini. Aku membuka dengan teliti kotak demi kotak, mengecek stiker putih label dari harga barang. “Woow cuma 50 cent? Cuma 8000 perak?” aku yang masih mengubah nilai euro ke rupiah. Sulungku sibuk dan asik sendiri. “Bunda ada puzzle kayu” teriaknya bahagia.

source: google

Seperangkat dokter set, 1 kotak permainan konstruksi, dan puzzle kayu mulai memenuhi keranjang biruku. Aku gelap mata dan lupa waktu berada di toko ini. “Yah tau ga block kayu yang kita beli kemaren disini cuma 1 euro loh” aku mengirimkan pesan singkat pada suami. Hanya berbelanja 5 euro kami memboyong sekantong mainan yang edukatif. “Kalau minggu ini bisa hemat tiket bus, bisa belanja mainan bekas lagi nih” pikir konyolku sambil tertawa girang.

Aku seorang ibu yang tidak pernah sungkan memilih mainan bekas bagi anak-anak. Barang-barang yang terawat dan layak pakai. Partikelnya hampir semua lengkap, mainan yang menggunakan bateraipun berfungsi selayaknya. Membuatku terkagum. Sungguh pemiliknya adalah anak-anak yang apik.

Bagiku toko bekas ini hadir memberi nilai manfaat yang besar. Dari sisi ekonomi, harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibandingkan harga baru. Kondisi barangpun masih sangat baik. Bahkan ketika barang cacat atau tidak lengkap petugas selalu memberitahu.

Toko bekas ini juga menarik perhatianku, bagaimana memperlakukan barang bekas selayaknya sehingga tersusun rapih dan menarik para pengunjung. Dan juga menginspirasiku, mungkin salah satu bentuk dukungan kita akan ramah lingkungan. Memperpanjang usia barang bekas hingga menambah nilai guna dan faedah.

Semoga aku betul-betul bisa mengambil hikmah dari semuanya. Tentang berbagi, memberi nilai manfaat dan faedah. Harapku toko bekas nan apik tidak hanya dinikmati di negeri kincir angin ini, tetapi juga tanah airku bisa mencicipi.

Jakarta, 22 Desember 2018

#30dwc #30dwcjilid16 #squad1 #storytelling #nonfiksi #pejuang30dwc #temaharapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *