Eindhoven,  Our story

5 Habit Baik dari Rantau untuk Tanah Air

Aiih kok judulnya berlebihan amat, mau bahas apa sih? Hehe ga kok, ini sebongkah pegangan dan nasehat kami selama di rantau. Pengennya dibawa pulang ke tanah air, dijaga baik- baik. Pelan- pelan kami ingin terapkan di rumah. Jangan patah semangat, meskipun kita berada ditengah buih lautan yang berbeda. Jangan pernah berfikir, kalau hal sepele yang kita lakukan tidak membawa kebaikan apa-apa.

Yang bikin kangen Belanda itu, rupanya jalan santai kami saat antar jemput Yaqdzan ke sekolah. Garam habis, minyak goreng kosong, dan persediaan makanan sedikit tersisa saya musti ke supermarket dulu. Mau naik bus sayang ongkosnya karena jaraknya hanya 800 meter. Ya sudah, kami jalan santai saja. Jalan kaki karena senang atau terpaksa? 😅

Hampir tidak percaya, kalau 2 tahun di rantau, skill saya dalam mengolah makanan keluarga lebih baik. Mau kemanapun yang terpikir pertama perbekalan anak- anak karena jajan diluar tidak selalu ramah dikantong. Ini betul-betul keadaan yang membawa berkah hehe..

So, habit baik apa yang kami temukan dari rantau?

1. Bawa bekal

Terkadang kita bisa karena terpaksa. Tangguh ketika kondisi tidak biasa. Walaupun sesungguhnya fisik tidak bisa diajak kerjasama. Tetapi itulah serunya. Hidup di negara minoritas muslim memang tidak leluasa begitu saja menemukan makanan. Makanan halal adalah konsen utama. Beda makanan pokok juga jadi kendala. Sebut saja warga Belanda makanan utamanya adalah roti dan kentang. Kalau mau jajan diluar ga jauh-jauh dari kedua olahan tersebut. Bagi kami makan roti berhari-hari tentu bukan pilihan. Lagian beras banyak kok di supermarket. Dan kalau ga makan nasi itu ga nampol hehe..Jadi mengolah makanan sendiri adalah suatu keharusan.

Kalau mau travelling perbekalan itu wajib. Ataupun hanya sekedar keluar rumah jika melewati waktu makan, saya selalu bawa bekal. Repot memang ya. Tapi hikmahnya apa? repotnya saya berbuah skill mengolah makanan jadi meningkat. Secara tidak sadar anak-anak melahap makanan rumahan, bikinan ibunya sendiri. Dan tentunya hemat di kantong. Untuk seporsi kebab harganya 6 euro. Kentang goreng 3-5 euro/porsi. Jadi makan diluar itu hanya sesekali saja.

Mahalnya harga makanan, tidak selalu cocok dengan selera dan makanan halal tidak selalu ada, menjadikan saya harus menyiapkan bekal kemana-mana.

Bagaimana dengan realita di tanah air? Makanan halal mudah didapat, kuliner dimana-mana selalu menggoda, menu jajan diluar malah lebih menggiurkan. Tinggal menyiapkan budget. Belum lagi menilai pandangan orang, makanan di restoran lebih bergengsi misalnya. Gimana, masih konsisten ga bawa bekal? Ini masih tantangan buat kami.

2. On time

Tepat waktu adalah ciri khas negara maju, sepakat kan?. Atau karena tepat waktu yang menjadikan mereka maju. Ayo yang mana?

Saya jadi teringat ketika kami punya janji dengan kepala sekolah. Kami terlambat 15 menit karena hujan ketika berjalan kaki ke sekolah. Saya pikir ini alasan yang “tepat” atas keterlambatan kami. Rupanya, kepala sekolah sangat kecewa. Ketika itu rasanya saya malu, malu karena membawa nama baik negara asal dan juga identitas seorang muslim. Betul-betul menjadi pembelajaran bagi kami.

Repotnya di negara serba on time apa? Kalau apa-apa harus bikin janji dulu. Ada keperluan dengan kantor wali kota bikin janji dulu, mau ke imigrasi bikin janji dulu. Mau ketemu dokter ga bisa langsung datang. Kalau sedang sakitpun harus bikin janji dulu. Ini yang paling tidak enak yang saya rasakan.

Tapi manfaatnya banyak kok, ga buang-buang waktu menunggu misalnya. Untuk urusan apapun tidak ada antrian panjang dan bisa memprediksi waktu.

Begitupun public transport di Belanda, bus, tram, dan kereta menuntut kita untuk tepat waktu. Sebut saja bus yang beroperasi di depan rumah kami hanya setiap 30 menit. Jika terlambat maka kami akan menanggung resiko menunggu 30 menit. Kalau musim dingin? juga sepaket menanggung dinginnya cuaca. Kereta atau tram pun sama, sudah terkoneksi pada aplikasi transportasi. Kapan jadwal berangkat dan tiba. Ya ada sih kereta yang telat sekitar 2-3 menit gitu. Setidaknya setiap kegiatan sudah terencana dengan baik.

3. Kebersihan

Saya mau cerita sedikit tentang kuliner dan restoran di Belanda. Bahwa setiap pedagang selalu dipantau oleh petugas kota tentang kebersihan makanannya. Teman saya di Eindhoven yang punya usaha pasar malam kuliner Indonesia, ternyata berjualan sate, rendang, ketupat tidak mudah begitu saja. Untuk usaha kuliner harus punya tempat sendiri yang sudah terstandart. Dapur sering diinspeksi petugas, ya lagi-lagi untuk memastikan kebersihannya. Memastikan setiap makanan yang dijual terjamin kebersihannya, ga bikin sakit perut, dan ga bikin diare. Ribet ya? Bisnis kuliner di Belanda memang ketat dipantau negara.

Kalau kebersihan lingkungan, so far warganya pada taat aturan untuk membuang sampah pada tempatnya. Walaupun di stasiun misalnya ada aja sampah yang tergeletak begitu saja di bangku. Di lingkungan rumah kami, sampah dibagi 2 yaitu sampah rumah tangga dan kertas. Di daerah lain malah sudah diwajibkan untuk memisahkan sampah organik dan non organik.

Penggunaan plastik belanja juga sudah minim di Belanda. Pada umumnya warga membawa tas belanja dari rumah. Jika lupa, supermarket menyediakan plastik belanja yang dibandrol dengan harga yang tidak murah sekitar 50cent-1 euro (8000-17.000 rupiah) per lembar. Sayang kan beli plastik belanja seharga segitu? Ya bagi saya lebih baik ditabung untuk beli mainan anak-anak 😁

“Tapi fiz orang bule itu bukannya jorok ya?” Seloroh seorang teman. “Kan mereka abis bak/bab ga pakai air” lanjutnya. Saya akui toilet di Belanda dan Eropa pada umumnya tidak menyediakan air di toilet. Semuanya menggunakan tissue. Meskipun toilet di Belanda pada umumnya kebersihannya tidak diragukan lagi. Bayaran masuk toilet juga tidak murah sekitar 50-70cent/orang, ya sebanding dengan fasilitas yang diberikan ya. Cukup sulit awal-awal beradaptasi dengan kondisi toilet yang tidak ada airnya. Saya biasanya mensiasati dengan membawa botol kemana-mana.

Lalu konon katanya orang Belanda jarang mandi, sepertinya memang tidak 2x sehari seperti orang Indonesia. Apalagi saat musim dingin, mereka banyak mengandalkan parfum hahaha..Waktu Faiha lahir, kraamzorg juga mengatakan kalau mandinya bayi cukup 2-3x per minggu. Jika sudah bisa jalan sendiri 1x sehari. Begitupun anak-anak biasanya mandi sepulang sekolah. Jadi pagi sebelum sekolah anak-anak pada umumnya ga mandi. Kalau yaqdzan? rasanya ga afdol kalau pagi ga mandi. Ya biar seger gitu mau sekolah hehe..

4. Budaya antri

Antri bagi warga Belanda sepertinya sudah membudaya. Biasanya antri toilet, kasir ataupun event gitu. Ada yang menarik ketika saya mampir di toilet Schipol Amsterdam. Ada 15 pintu toilet berjajar, setiap orang mencari barisan antri. Saya sedang antri dan membawa anak. Lalu ada warga lokal yang antri di barisan sebelah mempersilahkan saya duluan. Ini yang membuat saya terharu, karena belum tentu saya melakukan hal yang sama. Menjadikan saya bagian dari mereka, yaitu warga asing yang diterima oleh warganya.

Di sekolah-sekolah anak-anak juga dibiasakan untuk antri. Misalnya saja ketika sesi istirahat, anak-anak keluar kelas berbaris secara teratur. Saya yakin keteraturan dan kedisiplinan anak-anak usia 4-6 tahun dimulai dari terbiasanya antri.

5. Disiplin aturan

Naik bus diam-diam menyelinap tanpa membayar, walaupun sopir tidak tau jangan coba-coba ya. Melanggar aturan di negeri kincir angin ini menurut saya menakutkan. Sangsi yang diberikan cukup bikin kapok. Misalnya saja bolos sekolah tanpa alasan yang jelas termasuk bolos karena pulang ke negara asal, maka orangtua akan dikenakan denda sekitar 4juta/hari. Ngeri banget!

Saya juga pernah melakukan hal bodoh. Ketika itu musim panas bak sampah rumah kami penuh, saya malas membuang sampah ke belakang. Toh hanya segenggam sisa makanan basah, ya sudah saya buang saja di tempah sampah depan rumah. Keesokan harinya saya melihat ada yang berbeda. Ada label tertulis “dilarang membuang sampah rumah tangga”. Waduh! Saya kaget, seandainya petugas menyelidiki lebih lanjut, tentulah saya tertangkap sebagai pelaku. Satu-satunya orang Asia yang makan nasi di lingkungan kami.

Inilah budaya baik Belanda yang patut dicontoh. Saya bukan ingin mengagung-agungkan negara lain, atau ingin membandingkan dengan tanah air, bukan. Banyak budaya Belanda juga yang saya tidak suka. Misalnya blak-blakan an orang Belanda, individualisme mereka saya tidak cocok. Dan banyak hal-hal lain yang tidak sesuain dengan prinsip kami. Namun dari kebiasaan baik ini kami banyak belajar. Bukankah Islam juga mengajarkan demikian? Jadi siapa yang sesungguhnya lebih islami?

Saya ingin mengajak kita semua, sedari dini membiasakan habit baik ini. Dimulai dari diri sendiri. Dimulai dari lingkup keluarga. Dari diri para orangtua memberi teladan kepada anaknya. Maka tidaklah mustahil suatu saat tanah airpun akan gemilang dimata dunia, karena akhlak masyarakatnya yang mulia.

Jakarta, 18 Januari 2019

22 Comments

  • Reyne Raea (Rey)

    Saya ikutan senang banyak orang zaman sekarang yang membawa good habbit dari negara lain ke Indonesia.
    Tapi, saya juga percaya, Indonesia juga punya kok good habbit, bahkan kita ini orang2 ramah di dunia internasional.
    Namun sayangnya banyak yang melabelin Indonesia seolah semua orangnya punya bad habbit.
    Jadi yang namanya gak tau antri dll itu kebiasaan Indonesia.

    Saya pernah sekali liat iklan apa ya di TV, yang mana salut banget ama iklan tsb, saya rasa mengedukasi masyarakat harusnya seperti itu.

    Misal, ada yang gak mau antri, bilang aja “ih GAK INDONESIA BANGET SIH, masa ngaku orang Indonesia tapi gak mau antri, sono hidup di luar angkasa”
    wkwkwkw..
    Sederhana sih, tapi saya rasa itu lebih mengena dan bikin orang2 jadi malu membiasakan bad habbit seperti itu.

    emang juga sih, kebiasaan buruk dipicu karena di Indonesia kita dimanjakan oleh berbagai kemudahan, namun bukan berarti kita gak bisa mengkampanyekan hal2 baik demi Indonesia jadi lebih baik 🙂

  • Diyanika

    Soal mandi, karena sana iklimnya beda kali ya. Di Indonesia panas abis kok ya. Sehari bisa 3 kali kalau aku. Pagi sebelum kerja, siang pulang ngajar, dan sore hari. Kalau di saudaraku itu yg terkenal jarang mandi orang Jawa Barat, Mbak. Hihi, maaf, mungkin karena di sana itu hawanya lebih dingin dibandingkan di daerah Demak, Jateng ya.

    Ngomongin antre, ehm, aku ngajar kelas 1 SD Mbak, ngerasain banget susahnya membudayakan antre pada anak2. Aku sampai harus teriak2 setiap kali ngajarin antre untuk anak2.

  • Diah

    weew, bolos itu dendanya ngeri banget ya Mbak, ulaalaaa, takut. Hehehh.

    Semoga habit baiknya tetap selalu terjaga ya Mbak. Secara ya kadang lingkungan gak mendukung juga siih ya, jadilah keskip aja tuh kebiasaan2 yg udah tertanam.

  • Christina A. S

    Aku setuju, bukan untuk mengagungkan tetapi belajar kebaikan dari negara lain untuk diterapkan dinegara sendiri itu sama pentingnya apalagi itu adalah hal-hal yang sulit banget diterapkan disini (kayak kebersihan dan budaya antri)

  • Bunda Biya

    Kesan2 di atas juga saya alami saat habis traveling ke negara maju mba. Sangat bermanfaat buat diri ya, dan kadang bikin malu, di indonesia yang apa2 udah nyepak tapi masih males2an aja..

  • Ika Maya Susanti

    Jadi inget, dulu pas ke Singapur sampe nahan segala BAB BAK gegara nggak bisa karena toiletnya nggak ada airnya. Akhirnya nahan semuanya sampai balik lagi ke Batam. Hahaha… Sepakat Mbak sama beberapa kebiasaan baik tersebut. Herannya, kita ni lama dijajah Belanda, tapi kok ya banyak yang nggak meniru budaya itu ya?

  • HM Zwan

    On time banget ya mbk disana, sakitpun harus janjian sama dokter..unyuk urusan bekal, saya termasuk rajin bawa bekal. Ke rumah sakit mau ke dokter abak, bawa bekal. Kalo beli lumayan harganya, mending bekal hehe

  • Ida Tahmidah

    Sebetulnya semua itu nilai2 yg Islam ajarkan yak..hahaha… Cuman kitanya aja ga taat aturan. Disiplin, kebersihan, taat, on time semuanya memang good habit yg hrs kita mulai dr diri.sendiri, mulai.saat ini n dr hal yg kecil.

  • Lidya

    Berawal dari terpaksa tapi jadi habit yang baik gpp mbak, kalau cerita dari teman2 yang tinggal di luar mereka jadi pada jago masak ya. Di sini masih harus diterapkan budaya antri dan on time

  • April Hamsa

    Iya mbak ada baik dan buruknya tingal di negara maju. Yg baik2 kita adopsi dan bawa pulang ya? Meski di Indonesia emang sangat susah menerapkan disiplin dll. Krn kadang kita lakukan, eh lingkungan gak support. Tinggal kuat2 iman aja gak goyah menjalankan prinsip hehe

  • Eni Martini

    Ada sahabatku tinggal di Belanda karena menikah dengan orang Belanda, di sana selain kulinernya enak banget dan sudah familiar ya sama lidah kita, disiplinnya memang ok. Kapan ya bisa ke sana hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *