Our story

Belajar Mandiri dari Buggy yang Kempes

“Wah benar aja nih? Kan lumayan dapat ayam harga murah” aku mengecek website sebuah toko. Hidup di perantauan dengan barang diskonan, bagaikan perangko bagiku. Mulai dari roti yang dijual murah karena masa konsumsi segera berakhir, ikan diskonan, buah obral, maupun pakaian diskonan diakhir pergantian musim. Maklum saja sebagai keluarga mahasiswa dengan 2 anak kami harus pandai-pandai mengatur keuangan.

Aku bergegas menuju toko berlabel biru. Tanger markt, toko halal pemilik Turki. Menurutku buah-buahan harganya relatif murah dan berbagai macam beras tersedia di toko ini. Santan, kecap, bumbu asia, bihun, dan beras lontong menjadikan toko ini komplit bagiku. Tentu saja ayam diskonan per 10 kg hanya 10 euro yang selalu aku idamkan.

Pintu terbuka otomatis, sulungku mengambil keranjang dorong berwarna biru. Bak sayuran dan buah-buahan berjejer di ruangan ini. Wortel, kol, buncis, bayam, sawi, seledri, daun bawang, paprika, dan cabe merah tampak segar. Wortel adalah sayur yang paling murah yang selalu memenuhi keranjang belanjaku. Satu plastik besar hanya berlabel harga 1 euro. Begitu juga paprika, berkolaborasi dengan cabe rawit 5 biji dan telor cukup memberi kelezatan telor balado bagi kami. Aku berkeliling toko memperhatikan label-label diskonan yang ada.

Assalamualaikum jongen” sapa petugas toko pada sulungku. Dialog singkat membersamai mereka. Keramahan mereka terhadap anak-anak membuat aku terkagum.

Pojok belakang daging-dagingan ramai dikunjungi pembeli. Daging ayam, daging sapi, daging kalkun, ikan, ampela, dan aneka sea food. “Masya Allah, Barakallah”, kalimat itu terdengar bersahutan menyejukkan telingaku. Aku melihat sapaan dan pelukan hangat pengunjung. Entah siapa, aku tidak mengenalnya. Mungkin pengunjung dari rumpun bahasa yang sama yaitu bangsa Turki atau Maroko. Bagiku toko ini bagai tempat bertemunya salam antar sesama muslim.

Kip aanbiding 10 kg?” Tanyaku pada petugas. Petugas toko berwajah Turki menyodorkan
1 kotak ayam. Si bapak Turki aku menyebutnya, seolah mengenali kami karena aku sering berburu ayam diskonan meskipun aku hanya mengenalnya sebatas penjual dan pembeli.

Sepuluh kilogram ayam, santan, apel, sosis, tepung, gula dan telor memadati keranjang belanjaku. Sulungku mulai keberatan mendorong keranjang, sesekali bergantian mendorong buggy sang adik. “Bunda ini biskuitnya halal ga?” Sulungku mengecek makanan di etalase toko. Aku memerhatikan sulungku yang sibuk melihat etalase makanan, mendorong keranjang belanjaan dan sesekali menghibur sang adik yang sedang rewel. Rasanya amazing sekali tanpa bantuannya aku mungkin tak berdaya.

“Bon?” ujar kasir berhijab hitam menawarkan struk belanjaan di tangannya. Aku menata barang belanjaan yang banyak. Mengangkat barang belanjaan sebanyak ini dengan tenaga sendiri tidaklah memungkinkan. Bersyukurnya ada buggy si kecil yang punya space menyimpan barang belanjaan di bagian bawah. Belanjaan memadati buggyku. Dua tas jinjing dipenuhi buah dan tepung. Kami segera bergegas pulang. “Pssssssst” tiba-tiba aku mendengar suara. Seketika buggy ku oleng. Rupanya bannya kempes. “Ya ampun mas kita pulang gimana?” Aku sedikit panik memberitahu sulungku. Aku tidak mungkin menggendong Faiha, lalu barang belanjaan yang berat harus bagaimana? Sementara jarak toko dan rumahku sekitar 800 meter yang aku tempuh dengan berjalan kaki. Sedangkan sulungku menggunakan sepeda.

“Mas kita naik bus aja yuk” aku mengayuhkan kaki menuju halte bus. Semoga pak sopir berbaik hati menampung buggy yang berat dan sepeda yang dipakai sulungku. Bus bravo merah datang. Aku tergopoh-gopoh memasuki pintu bus. “Helpen?” tanya seorang penumpang. Tentu saja aku tidak sungkan menerima tawaran itu. Anak muda itu membantu sulungku dan mengangkat buggyku yang kempes. “Dank u wel” balasku.

Berada di perantauan membuatku harus mandiri, tidak boleh cengeng dan kuat. Aku bersyukur sekali selalu ada uluran tangan disaat kami kerepotan. Fasilitas yang ada sebetulnya cukup memudahkan. Hanya saja harus disandingkan dengan mental yang kuat.

Jakarta, 1 januari 2019

#squad1 #day22 #30dwcjilid16 #storytelling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *