Book Review

BOOK REVIEW: GRONINGEN MOM’S JOURNAL

Judul Buku: Groningen mom’s journal (Jejak mimpi keluarga kecil di ujung utara Belanda)
Penulis: Monika Oktora
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Jumlah halaman: 246
Cetakan/Tahun Terbit: 2017

Awal tahun 2016 saya mencari informasi bagaimana membuat visa MVV ke Belanda, lalu saya menemukan blog mba Monik disini. Banyak cerita dan tips saya dapatkan dari blog. Juga turut deg-deg an saat membaca detik-detik keberangkatan mba Monik dan keluarga ke Belanda, tiket sudah di tangan sementara visa belum keluar. Sungguh mendebarkan. Waktu itu saya juga sempat email-emailan sama mba Monik, karena tahun 2016 kami pun akan merantau ke Belanda. Kami banyak terbantu dari informasi yang dijelaskan beliau. Lalu follow-follow instagram deh, iya ga mba Monik? Hihi

Spring 2017 di acara Kalami (kajian Musim semi) rupanya untuk pertamanya saya bertemu beliau. “Mba monik ya?” sapa saya dengan pede, sepertinya yakin ga bakal salah orang hahaha.. Jadi ketika launching buku ini, saya tentu tidak mau melewatkannya.

Mba Monik adalah saat ini seorang mahasiswa doctoral di Groningan. Sebelumnya telah menyelesaikan S2 nya di kota ini. Buku ini bercerita tentang bagaimana pengalaman studi beliau, pengalaman merantau serta kisah membesarkan dan mendidik anak di negeri kincir angin.

Buku ini diawali dengan bab pertama bagaimana awal mula merajut cita untuk melanjutkan S2 ke Belanda. Seorang ibu rumah tangga yang berdaster bertekad menyingsingkan lengannya untuk kembali sekolah. Sederet pikiran pesimis pun menghampiri penulis. Namun atas dukungan suami, asumsi negatif itu berubah menjadi sebuah perjuangan yang optimis. Penulis juga memberi tips bagaimana mendaftar universitas di luar negeri dan beasiswa.

Bab kedua berisi tentang adaptasi awal mula di Groningen. Ketika penulis melanjutkan untuk sekolah, rupanya ada tantangan lain. Bagaimana dengan Pekerjaan suami. Memang tidak mudah, disaat suami punya karir sedang bagus-bagusnya harus ditinggalkan begitu saja. Rezeki suami sholeh, begitu penulis menyebutnya. Akhirnya pengorbanan itu tergantikan juga, sebuah lowongan pekerjaan datang tak diduga. Buat yang ingin tahu bagaimana mencari kerja di Belanda, ada tips dari penulis yang cukup jelas.

Groningen city of bike, sekitar 57% sepeda digunakan sebagai alat transportasi. Pengguna sepeda ini tidak memandang status, baik tua, muda, pelajar maupun pegawai. Kota Groningen pun sebagai penyandang gelar Best Bike Cities. Dulu saya sempat berpikir, negara maju kok masih pakai sepeda? Hehe..Begitu sampai di Belanda saya bisa merasakan bagaimana sepeda didapati dimana-mana, jalur khusus pengguna sepeda disediakan dan para pengguna sepeda begitu dihormati.

Bab ketiga, berisi tentang warna-warni Groningen. Menjadi seorang student mom, serta jauh dari keluarga tentu episode hidup yang tidak mudah. Tetapi dengan melewati tantangan ini membuat penulis menjadi mandiri dan kuat. Selain itu kita banyak belajar dari budaya baik Belanda seperti disiplin, ramah dan teraturnya warga disana. Namun, sejauh apa kaki melangkah jangan pernah melepas prinsip yang sudah diikrarkan yaitu identitas seorang muslim yang terus dijaga.

Bab keempat, berisi tentang parenting. Bagaimana Belanda mensupport warganya untuk cinta membaca. Komitmen orangtua, sekolah dan pemerintah pada budaya literasi yang dimulai sejak dini. Kemudian dibangunnya taman bermain di tengah perumahan warga, untuk mensupport tumbuh kembang anak. Lalu sebuah konsep pendidikan yang dinamakan dengan kurikulum Jenaplan hadir di sekolah dasar Belanda. Prinsip utamanya kurikulum ini untuk mengarahkan bakat dan minat anak-anak. Dan banyak hal-hal unik yang diterapkan pada bidang pendidikan anak.

Bab ke lima, tentang manis pahit melakoni seorang student mom. Penulis menyebutkan banyak hal yang membedakan menjadi mahasiswa dulu dan sekarang yang membuat dirinya lebih positif. Ada kesulitan yang menyertai dan kegagalan membersamai. Akhirnya kegagalan itulah yang berbuah manis.

Menurut saya buku yang dituliskan mba Monik ini cocok untuk semua kalangan. Memberi semangat bagi seorang ibu, untuk selalu optimis jika ingin melanjutkan pendidikan. Dari buku ini banyak budaya-budaya parenting Belanda yang bisa dipraktekkan oleh orangtua di tanah air.

Kekurangan buku ini di mata saya adalah foto-foto yang dicantumkan pada buku masih hitam putih. Suasana di Groningen akan lebih jelas dan asik jika foto-foto yang ditampilkan berwarna. Tetapi hal ini tidak mengurangi kenikmatan pembaca mengikuti setiap babnya.

Mengutip perkataan Mahatma Gandhi “Kepuasan terletak pada USAHA, bukan pada hasil. Berusaha dengan KERAS adalah kemenangan yang hakiki.

Barakallah ya mba Monik! Ditunggu karya-karya berikutnya 🙂

Mau tau bagaimana kisah-kisah lainnya? Atau tips bertahan hidup di perantauan, bagaimana perjuangan student mom dan bagaimana anak-anak disupport oleh negara tumbuh kembangnya? Silakan baca sendiri bukunya ya 😉

Jakarta, 24 Januari 2019

6 Comments

  • Seftina Qurniawati

    Huaa keren banget ini bukunya, kayaknya mesti beli ini, ku pengen juga nerusin sekolah lagi tapi masih maju mundur karena masih punya balita, semoga setelah baca buku ini jadi punya motivasi untuk memilih

    • admin

      Aamiiin..aamiin..memang buat seorang ibu buat sekolah lagi banyak yang harus dipertimbangkan ya mba. Semoga cita2nya tercapai ya 🙂

      Terimakasih sdh mampir

  • dewi apriliana

    Menarik , mbak, bukunya. Paling ingin membaca bab ke 3, bagaimana ya perjuangan student mom muslim di negeri rantau. Soalnya saya ini orangnya jarang bepergian jauh ,hehe.. Juga tetang Gronigen disebut sebagai city of bike. Saya sangat suka dan mendukung penggunaan sepeda , karena sepeda itu bebas polusi, baik untuk lingkungan. Sehat di badan pula.

    • admin

      Betul sekali mba, saya juga sepakat sepeda transportasi yang banyak membawa manfaat, Terutama lingkungan..

      Banyak deh cerita tentang Belanda di buku ini yang bisa menambah wawasan pembaca 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *