Our story

Branding Seorang Muslim

“Seandainya kita tidak bertemu lagi di dunia, semoga diakhirat bertetangga seperti ini lagi” aku membuka pesan singkat dari seorang teman. Tidak bisa aku pungkiri, dua butir air mataku tumpah seketika.

Siang itu aku sibuk menyalakan api membuat makanan. Tepung, bawang putih, selai kacang, terasi, dan bumbu kacang tersedia di meja. Cilok, makanan kudapan ala Bandung yang dirindukan bagi perantau sepertiku. Meskipun aku belum ahli membuatnya, tidak ada cara lain selain harus sering mencoba. Terkadang rasanya pas dan terkadang gagal. Trial error sudah menjadi hal biasa bagiku. Tiga piring cilok akan menjadi santap kudapan kami di pengajian malam itu. “Mudah-mudahan ciloknya enak” aku bergumam menatap cilok yang bentuknya tidak bulat sempurna.

“Mbae datang kan?” Aku mengabsen kehadiran teman-teman satu persatu. “Aku bawa klepon nih, aku bawa tahu isi dan somai” sahut mereka.

Senja semakin cepat. Malam kian pekat sempurna. Langkah warga lokal berbalut jaket tebalnya berdatangan memadati warung kentang goreng yang terhits di kota Eindhoven yang berada di sebelah rumahku. Kami menunggu tanda lampu penyeberangan jalan hijau menuju halte. Aku menatap kanan jalan, terlihat kepala bus bravo merah. “Kita harus lari sekarang juga” aku berteriak sesaat berlari mendorong buggy si kecil. Lampu merah pengguna jalan kaki terjeda sebentar. “Waduh kalau ketinggalan bus, kita bisa menunggu 1 jam lagi” ujar suamiku. Nafasku tersengal-sengal, denyut jantung terpompa cepat. Rasanya melebihi oleh kaki yang berlari tidak seberapa kuat. Sopir bus seolah paham, kami adalah penumpang yang berkejaran secepat kilat. Bersyukurnya sang sopir menghentikan laju busnya di halte. “Hai Good night” sapa sopir berkumis tebal itu. Bus tampak sepi, membawa kami ke pemberhentian terakhir yaitu stasiun.

Kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah mesjid mungil yang terapit ditengah pemukiman penduduk. Malam itu pengajian cukup ramai dihadiri jamaah. Didominasi oleh mahasiswa yang belum berkeluarga. Kajian hadist dan sesi tanya jawab berlangsung dengan seorang ustadz yang sudah bermukim lama di sini. “Ibu-ibu monggo dimakan kuenya” sang ustadz yang tak pernah absen membawa suguhan makanan setiap pengajian ada. Berkumpulnya dengan teman-teman Indonesia bagiku bagai hadir di pasar kuliner. Bertukar makanan dan mencicipi aneka makanan khas Indonesia, rasanya mengobati kerinduan pada tanah air.

Sholat berjamaah, tadarus Al Quran dan bersilaturahmi membuat suasana hangat. Menghilangkan keletihan rutinitas harian dan mengisi ulang ruhiyah dengan ilmu yang bergizi. Momen yang selalu dinanti ditengah berada pada negeri dengan minoritas muslim.

Satu-persatu peserta meninggalkan mesjid. Sepeda yang terikat di depan mesjid mulai sepi. Kami akan segera bergegas menuju halte bus. Sulungku mulai mengantuk, sedangkan adiknya sudah tertidur pulas. Malampun semakin larut. “Mobil saya kosong, bareng saya aja” tiba-tiba ada tawaran datang. “Oh tidak usah pak, terimakasih” kami menjawab sungkan. Beberapa kali penolakan yang kami lontarkan, penawaran kembali datang. Alhamdulillah, akhirnya kami pulang ke rumah tanpa menunggu bus yang beroperasi 1 jam sekali.

Malam itu menjadi saksi bahwa pak ustadz adalah sosok yang tidak banyak berbicara namun akhlaknya menjadi teladan. “Aku malah ga enak kita kok malah diantar pulang” ujarku pada suami. Tak jarang juga tiba-tiba di waktu subuh kami menerima pesan singkat kalau sebuah kantong makanan tergantung di depan pintu. Beliau juga orang pertama yang selalu mengulurkan bantuan.

****************************
“Fiz sebentar lagi ada makanan datang” seorang teman memberi kabar padaku. Sepeda pengirim makananpun datang. Satu bungkus ayam goreng menjadi santapan kami siang itu. Aku terkagum pada kebaikan si mba. Terpisah dengan sanak keluarga puluh ribu kilometer dari tanah air, menjadikanku belajar banyak hal. Aku dipertemukan dengan orang-orang yang sangat peka pada kebutuhan orang lain. Juga belajar pada mereka yang memberi dan menolong tanpa batas. Aku bisa merasakan keikhlasan hatinya dalam berbuat, tanpa memandang status sosial dan agama. Bagiku akhlak yang teladan adalah branding seorang muslim untuk menyebarkan Islam di permukaan bumi. Menjadi semangat dan tekad bagiku memulai awal tahun meraup nilai-nilai kebaikan yang didapat dari tanah rantau, agar Islam senantiasa indah bercahaya di mata dunia.

Jakarta, 6 Januari 2019

#day28 #resolusi #30dwcjilid16 #squad1 #storytelling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *