Our story

Dua Cahaya antara Eindhoven & Manchester

“Yah yakin mau sekolah lagi?” tanyaku pagi itu pada suami yang sepertinya sudah nyaman dengan pekerjaannya. “Iya aku ingin penuhi keinginan bapak yang dulu meminta lanjut S2” ujarnya.

Begitu awal mula kami merajut benang cita. Beberapa lembar essai dan persyaratan sudah terpenuhi. “Yang penting ikhtiar tiada batas biarlah takdir yang mengaturnya” tutur suamiku yang makin hari semakin sibuk. Kerja di lapangan, mengikuti kelas IELTS dan berlatih mandiri di rumah menjadi makanan hariannya.

Siang itu bumi Sriwijaya terik benderang. Panas membakar kulit dan keringat bercucuran. Es kacang merah dan pempek adalah dua kuliner yang tak pernah bosan untuk disantap. Sebuah surat elektronik datang dari Britania Raya dan negeri kincir angin. Memberi kabar kalau suamiku diterima sebagai calon mahasiwa di Technische Universiteit Eindhoven
(TU/e) dan Manchester University.

“Jangan bersenang dahulu masih ada sponsor pemberi dana yang harus diperjuangkan” ujar suamiku. Aku sebagai supporter utama tentu tidak diam begitu saja. Paling getir memantau progress. Tentunya seribu asa kami panjatkan, melangitkan doa-doa, dan meminta jalan terbaik padaNya.

Bagai sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Kabar bahagiapun datang dari pihak sponsor pemberi dana sekolah. Alhamdulillah mimpi-mimpi perlahan terwujud.

TU/Eindhoven dan Manchester University. Keduanya sama-sama pilihan yang sulit untuk diputuskan. Setelah melalui berbagai macam pertimbangan, pilihan kami jatuh pada kota Eindhoven, Belanda. Kota yang terkenal dengan kota industrial dan tekniknya. Juga dari kota inilah pabrik philips berasal.

Utamanya Belanda adalah negara non berbahasa inggris yang fasih dengan bahasa inggrisnya. Ya, warga Belanda dengan bahasa nasionalnya berbahasa belanda, tetapi berbahasa inggris di negara ini sangatlah mudah. Selain itu Belanda kaya akan rempah-rempah dan makanan ala Indonesia yang memudahkan bagi kami. Kemudian biaya hidup di Belanda tidaklah semahal hidup di Britania Raya.

Antara senang dan sedih, pada nyatanya hingga detik keberangkatan suami, kami belum mendapat rumah sewaan keluarga. Dan alhamdulillah aku diberi karunia yang besar. Aku hamil anak kedua. Kami jelas tidak berangkat bersama ke negeri kincir angin. Aku menunggu rumah sewaan keluarga ada.

Jakarta, 2 Januari 2019

#day24 #squad1 #30dwcjilid16 #30dwc #storytelling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *