Our story

Kebiasaan Kecil itu Dimulai dari Rumah

“Gimana, kalian jadi tour museum?” tanya seorang teman. Philips museum, Spoorweg museum, dan Philipsdorp adalah museum yang sering disebut-sebut dan direkomendasikan kepadaku. “Ah tidak usah” aku menepis tawaran itu di hati. “Lagian Yaqdzan juga belum terlalu mengerti” pikirku. Adanya taman-taman gratis yang disediakan pemerintah bagiku sudah lebih dari cukup untuk membantu tumbuh kembang anak. Struktur jalanan yang teratur sudah membuatku bahagia, anak-anak leluasa bersepeda dan berlatih keseimbangan dengan menggunakan scooter. Perpustakaan kotapun terbuka lebar bagi anak-anak. Sungguh nikmat yang besar bagiku fasilitas yang diberikan pemerintah.

Voj adalah playground yang berjarak 200 meter dari rumah kami. Disaat musim dingin, Voj bagai goa yang dihiasi jaring laba-laba. Pagarnya terkunci rapat. Tidak ada satupun pengunjung yang datang di musim ini. Ketika musim semi menjelang, tempat ini mulai diramaikan anak-anak. Bangku-bangku Voj menjadi spot santai bagi orangtua. Playground ini tidak terlalu luas, sehingga anak-anak bebas bermain tanpa perlu pengawasan khusus orangtua.

Sore itu cerah sekali, sepulang sekolah aku mengantarkan si sulung ke VOJ. Semangatnya datang ke playground mengalahkan rasa lelah seharian sekolah. Playground ramai dipadati pengunjung. Hanya membayar 50 cent per orang anak-anak puas bermain.

Aku menemani sang bayi yang sedang belajar merangkak. Rumput-rumput playground menjadi tempat kami bersantai. Ku dapati seorang bapak menemani anaknya bermain.
It’s okay for your baby?” tanya heranku tiba-tiba pada laki-laki berpostur tubuh tinggi itu. Aku menyaksikan anak 1 tahunnya mencongkel sela-sela tanah rumput playground lalu memasukkan ke mulut. Sang bapak tertawa begitu saja padaku sambil mengangkat bahu dan kedua tangannya. “Tidak masalah” jawabnya. “Tentu aku tidak akan melakukan hal seperti itu pada si kecil” gumam hatiku.

Sang bapak berkunjung ke playground hanya berdua dengan anak 1 tahunnya. Sudah tidak heran lagi. Pemandangan yang lumrah di negeri kincir angin ini seorang bapak mendorong stroller bayinya seorang diri. Seorang bapak yang totalitas menemani anaknya bermain tanpa sang ibu yang menyertai. Orangtua punya peran dan tanggungawab yang sama. Begitupun dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seperti ini yang terlihat bagiku. Inipun cukup menarik, bukankah Rasulullah sudah terlebih dahulu memberi contoh? Sosok Rasulullah yang penyabar dan penyayang pada anak-anak dan tidak sungkan membantu Aisyah dalam keseharian.

Selain itu aku melihat pengasuhan mereka cukup santai dan tidak banyak larangan yang diberikan pada anak. Tidak kaku tetapi taat aturan dan disiplin begitu ditegakkan. Terlihat bagaimana sejak kecil anak-anak dibiasakan untuk mandiri. Misalnya saja anak-anak dibiasakan untuk memakai jaket sendiri, mengikat tali sepatu sendiri dan makan tanpa dibantu. Jenjang pendidikan usia dini pun lebih fokus pada kemandirian, empati dan saling menolong hal utama yang diajarkan.

Perhatian pemerintah pada anak-anak tidak henti sampai disini. Budaya membaca yang sudah dahulu mengakar tidak terjadi begitu saja. Perpustakaan kota hadir bagi anak-anak dan setiap anak gratis meminjam buku. Gerakan membaca yang diperingati setiap tahun begitu semarak dimeriahkan baik di sekolah maupun di tempat umum. “Hanya 15 menit saja sebelum tidur membacakan buku pada anak” begitu himbauan petugas perpustakaan kepada orangtua. Kemudian ketika si kecil lahir kami mendapatkan sebuah paket berisi softbook dan hardbook dari perpustakaan. Dan sekaligus bayi yang berusia 2 bulan itu menjadi member perpustakaan.

“Jadi gimana? Kita bikin museum card saja?” tanyaku pada suami. Untuk mengunjungi museum di Belanda harus mengeluarkan lembaran euro yang tidak sedikit dan belum termasuk transportasi. Ini yang membuat aku enggan wisata edukasi museum. Ratusan museum yang menarik ada di Belanda. Sebut saja museum kereta api, museum microba, museum philips, museum naturalis, dan museum kinderbook. Museum yang didesain bagi anak-anak. Jangan bayangkan, museum-museum itu membosankan, berdebu dan tidak terawat. Semua terawat dengan apik, interaktif dan petugas betul-betul totalitas membantu pengunjung. Akhirnya museum card yang kami miliki begitu besar manfaatnya. Berkeliling museum dengan harga yang jauh lebih murah dengan memiliki museum card.

Harapanku suatu saat tanah airku juga bisa menghadirkan ruang-ruang publik ramah anak. Eksekusi pemerintah sudah mulai terlihat, dengan dibangunnya taman bermain dan perpustakaan anak ditengah masyarakat. Yuk kita mulai dari sekarang, membiasakan hal-hal baik yang dimulai dari keluarga dan merawat fasilitas yang diberikan pemerintah demi membahagiakan anak-anak.

Jakarta, 7 Januari 2018
#squad1 #day29 #30dwcjilid16 #30dwc #temaeksekusi #storytelling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *