Our story

Kesaksian Bisu Schipol Airport

“Ibu yakin berangkat berdua saja dalam kondisi seperti ini?” tanya sang dokter agak pesimis. Dua buah koper ukuran besar menjadi boyonganku ke negeri tulip. Aku tidak mau melewatkan jatah bagasi kami 5 kg pun. Perbekalan makanan paling dominan memadati bagasi. Cobek kayu ukuran kecil adalah barang sakti bagiku, bawaan yang tidak boleh terlupa. Rasanya ini perjalanan terjauhku tanpa ditemani suami. Tak ada lagi pilihan lain aku harus berangkat berdua saja bersama sulungku.

Ku dapati kursi berjajar 3 baris, jarak antar bangku lebih luas. Kami menelusuri lorong-lorong pesawat mencari nomor kursi yang tertera pada tiket. Rupanya tidak semua kursi berpenghuni. Waktu mengantarkan kami pada kota yang dikenal dengan the lion city. Kami akan transit di kota ini sejenak. Malam semakin larut sulungku masih lincah. Sebuah backpack kecil dan travel neck pillow di punggungnya. Kami melewati tangga demi tangga memasuki terminal Changi Airport.

“Hai mba mau kemana?” Sapa seorang perempuan muda padaku. Beliau berasal dari Jogja. Namanya Anti, beliau akan berlibur 2 minggu ke Amsterdam begitu cerita pendek kami. “Nanti pas turun di Schipol bareng ya mba ke imigrasinya, aku baru pertama soalnya, masih bingung” tutur mba Anti. Aku tertawa hangat seketika kebingunganku hilang.

Sebuah map rute penerbangan terpampang di layar pesawat . “Ah masih lama, pesawat seperti tidak bergerak” gumamku. Sulungku tertidur pulas. Beberapa sajian makanan terlewati olehnya. Sesekali aku meninggalkannya ke toilet menitipkan pada pramugari.
Sebuah novel kecil menemani perjalanan. Aku menghidupkan layar entertainment dihadapan. Mengisi waktu perjalanan yang panjang. Tampaknya kakiku mulai bengkak dan pinggangpun pegal. Layaknya ibu hamil mengalami ketidaknyamanan ditambah perjalanan yang cukup lama.

Suara yang dinantikan datang juga, kami bersiap-siap landing. Aku menoleh ke belakang melambaikan tangan pada mba Anti.

Pukul 09.00 CET, pagi itu dingin sekali hoodie merahku tidak cukup memberi kehangatan. Kami menapaki tangga pesawat satu persatu disambut mobil van pengantar penumpang ke terminal. Seketika mobil van penuh. Aku mulai bingung mengikuti arus para penumpang. “Mba sudah biasa bolak balik Amsterdam ya” sapa laki-laki paruh baya berkacamata. Aku kaget, entah kenapa beliau berasumsi seperti itu.

Kami memasuki ruangan imigrasi. Antrian penuh sesak dan mengular. Aku tidak bisa mengenali penumpang pesawat. Wajah-wajah barat berambut pirang mendominasi. Aku mencari-cari mba Anti. “Ah mungkin belum berjodoh” gumamku. Aku berharap banyak mba Anti akan membantu mengangkat koperku di counter barang.

“Hai” tiba-tiba ada tepokan dari pundakku. “Ya Allah mbaee, kirain udah duluan” sambutku girang. Petugas imigrasi menyapaku dengan tegas. Menanyakan keperluanku berkunjung ke negara tulip ini. Di belakangku mba Anti ikut mengantri. Alhamdulillah kami lolos dari petugas, suatu hal yang melegakan.

Dua koperku masing-masing berbeban 30 kg berputar di counter barang. Siapa lagi kalau bukan mba Anti yang membantu menurunkan. Aku tidak bisa membayangkan seandainya aku terpaksa harus mengangkat koper dalam kondisi hamil. Belum tentu ada petugas yang bisa direpotkan. Kami mencari pintu keluar, menunggu jemputan datang. Tak lama kemudian, temannya datang. “Selamat liburan ya mba” aku menutup perjumpaan ini.

Aku menanti kehadiran suami dengan harap cemas. Ponsel genggamku tidak bisa menangkap wifi airport. Aku tidak bisa memberi kabar apa-apa. Sosok pria Asia berjaket hitam terlihat dari kejauhan. “Ayaaaah” teriak sulungku. Sang ayah merangkul dan menggendong si sulung. Bahagia dan haru pecah seketika. Pagi itu Schipol airport menjadi saksi kebahagiaan berkumpulnya sebuah keluarga. Kadang sebuah skenario datang, membuat kita mengerti arti bersabar. Lalu suatu momen yang hilang hadir kembali, memberi arti kesyukuran.

Jakarta, 4 Januari 2019
#day26 #squad1 #30dwc #30dwcjilid16 #storytelling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *