Our story

Mendatangkan Apresiasi dari Kebaikan Kecil

I think the rapport of Yaqdzan is still at your home. Can you bring it to school as soon as possible? I need it to make a new one for next week” aku sejenak membuka notifikasi surat elektronik. Liburan sekolah akan datang, anak-anak akan menerima raport. Tidak terasa Yaqdzan sudah 3 bulan sekolah. Menerima penilaian dari sekolah dan berdiskusi dengan sang guru adalah hal yang amat dinantikan.

Tidak akan hilang dalam benakku bagaimana hari pertama sekolah Yaqdzan yang penuh drama. Juga kekhawatiranku terhadap adaptasi bahasanya. Bagaimana tidak, hanya bahasa Indonesia yang diketahuinya. Bahasa Belanda yang menjadi bahasa sehari-hari di sekolah adalah sesuatu yang baru dikenalnya. Sedangkan bahasa Inggris yang fasih bagi gurunya kamipun tidak pernah mengajarkan. Hanya “plassen” kosakata Belanda yang kami bekali dari rumah. Berharap dengan mengucapkan itu, guru di sekolah bisa mengerti jika si sulung ingin ke toilet.

Kami membuka lembaran demi lembaran raport yang berukuran besar. Tidak ada angka-angka berupa penilaian. Sebuah deskripsi memenuhi lembaran kertas putih yang meliputi kognitif, matematika, bahasa, sikap, dan kemandirian. Di Belanda pembagian raport berlangsung 4x dalam setahun. Dan orangtua punya hak untuk bertemu dengan guru secara privat mendiskusikan perkembangan anak. Tidak ada ruang batas antara orangtua dan guru untuk berdiskusi.

Siang itu kami mendapat jadwal pertama bertemu guru kelas. Juf Rita namanya, wanita paruh baya dari Suriname yang sangat ramah dan perhatian terhadap anak didiknya.
Dua meja kayu rendah dan 4 kursi kayu yang kokoh menjadi titik temu kami dengan Juf Rita di kelas. Suasana kelas sepi. Setiap orangtua sudah punya jadwalnya masing-masing berdiskusi dengan guru. “Hi, how are you?” juf Rita menyalami kami satu persatu. Meskipun beliau bukan muslim yang menjadi pengajar di sekolah Islam ini, namun bagiku sosok Juf Rita memberi kesan tersendiri. Beliau seorang guru yang totalitas pada anak-anak. Guraunya yang ramah dan kocak menjadi guru idaman anak-anak. Hubungan kami orangtua dan beliaupun tidak hanya sekedar senyum sapa belaka disaat pulang sekolah. Beliau selalu menemuiku, mengantarkan Yaqdzan pada pintu kelas dan menceritakan bagaimana perkembangan sulungku hari itu. Tidak hanya sampai di sini, Juf Rita juga sosok pemberi perhatian yang hangat. Ketika keluarga baru kami bertambah, Juf Rita yang pertama mengucapkan selamat dan sebuah kado spesial diperuntukkan untuk sang bayi. Bagi kami Juf Rita adalah cerminan guru teladan.

Kami melanjutkan diskusi. “Ada 2 hal yang akan saya sampaikan, hal baik dan kurang menyenangkan” tutur juf Rita membuat kami berdebar dan penasaran.
“Yaqdzan adalah anak yang pemalu, tertib, senang bermain dengan siapa saja, suka berkompetisi dan menjadi anak yang paling bahagia ketika mendapat apresiasi dari guru. Entah mendapat pujian atau mendapatkan sebuah stiker yang ditempel di tangannya”. Begitulah pemaparan darinya. Mungkin bagi orangtua lain ini adalah hal
biasa, namun bagi kami itu adalah sebuah prestasi besar dan punya nilai kebaikan tersendiri, “Yaqdzan rupanya anak yang pandai beradaptasi di sekolah” gumam hatiku. Meskipun di kelas suaranya jarang terdengar dan terkesan pemalu, Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan baginya untuk mendapat teman baru.

“Dutch languange is very difficult for him” lanjut Juf Rita. Penilaian guru terhadap kemampuan bahasa dan matematika Yaqdzan sangat rendah. “I think Yaqdzan is smart boy” hibur sang guru. Aku paham betul pembelajaran matematika yang disuguhkan sekolah tidak rumit. Bahkan tergolong rendah bagi kami. Pembelajaran matematika hanya berkisar 1-10 dan memperkenalkan konsep yang diterapkan dalam keseharian. Penjumlahan & pengurangan sama sekali belum diajarkan. Menulis pun anak-anak diberi kebebasan. Karena calistung di negeri kincir angin bagi anak usia 4-6 tahun belum menjadi prioritas mereka. Rasanya sulungku kemampuan berhitungnya tidak kurang dibandingkan anak yang lain. Begitu gejolak hatiku. Namun faktor bahasa yang menjadikannya kesulitan dalam mencerna “pelajaran” matematika di kelas. Siapa yang tidak menginginkan anaknya mendapat raport yang cemerlang. Semua orangtua pasti berharap penuh akan hal ini.

“Yaqdzan anak yang punya minat besar dalam segala hal, ini lebih utama” lanjut sang guru. Kami menyadari kalau bahasa Belanda yang digunakan di sekolah adalah hal baru baginya. Namun melihat semangatnya yang tidak pernah pudar untuk datang ke sekolah adalah sebuah kesyukuran bagi kami. Bagi sang guru setiap anak adalah hebat. Setiap anak punya kemampuan unggulan. Tidak ada anak yang lebih pintar daripada yang lain. Yaqdzan memang belum mahir dalam berbahasa dan punya karakter pendiam. Kemampuan logikanya yang lebih, mungkin menjadi kelebihan baginya jika dibandingkan teman-teman sekelasnya. Tidak ada porsi untuk membandingkan antar anak. Ini sisi baik yang aku petik dari sekolah.

Kami juga belajar banyak dari sistem sekolah bahwa kemandirian dan sikap saling menolong adalah hal yang sangat utama untuk diajarkan. Sulungku memperoleh sebuah sertifikat Diploma. Penghargaan dari sang guru karena kemandiriannya membuka dan memakai jaket sendiri. Hal sederhana bukan? Tapi punya makna yang dalam. Diploma ini seakan menjadi pengingat kami untuk selalu mengapresiasi setiap kebaikan yang dilakukan anak-anak kami, sekecil apapun kebaikan itu. Bukankah Allah pun akan membalas setiap kebaikan walaupun hanya sebiji dzarroh?

“Yaqdzan sini, siapa teman yang sering membantumu?” Juf Rita menghampiri. “Beyza” sulungku menjawab singkat lalu melanjutkan bermain balok. The best friend is Beyza, begitu kalimat yang tertera di raport. Betul saja Beyza adalah nama yang sering disebut-sebut sulungku di rumah. Karena gadis Turki ini memang dipasangkan dengan Yaqdzan agar sulungku mudah beradaptasi. Mulai dari berbaris menjelang jam istirahat, jadwal makan siang, mengganti sepatu saat olahraga, hingga cara memakai jaket Beyza selalu membantu Yaqdzan. Anak-anak yang usianya tidak terpaut jauh diberi ruang untuk memecahkan masalah sendiri. Jika tidak ada solusi, guru adalah pihak terakhir yang membantu.

Diskusi hangat berlangsung selama 30 menit, akhirnya kami berpamitan dengan Juf Rita. “Yaqdzan high five” juf mengulurkan tangannya. Mereka tertawa hangat. Aku lega sekali, ternyata parents meeting yang berlangsung tidak sesuram bayanganku. Kami belajar banyak hal, lebih teliti menilik kebaikan anak dan memberinya apresiasi.

Jakarta, 5 Januari 2018
#day27 #squad1 #refleksi #storytelling #30dwcjilid16 #pejuang30dwc #sekolahdibelanda

46 Comments

  • herva yulyanti

    Yaqdzan keren semoga nanti bisa mudah adaptasi bahasa Belandanya, betul sekali segala sesuatu patut diparesiasi biar memberikan motivasi aku juga pernah menulis tentang apresiasi ini ada yang akhirnya berubah sikapnya stelah diapresiasi orang lain

  • Rani R Tyas

    Aku jadi teringat dengan sulungku juga Mbak, di PAUD dia sering dibantu teman satu kelompoknya. Lama-lama dia bisa melakukannya sendiri. Salut untuk Juf Rita, semoga kesehatan selalu bersamanya.

  • Keke Naima

    Setiap mengetahui ada sekolah yang seperti ini, saya rasanya kangen dengan sekolah anak-anak saat masih SD. Guru-gurunya pada ramah terhadap orang tua dan anak. Makanya saya juga rutin berdiskusi dengan guru meskipun bukan saat terima raport. Saya juga setuju kalau anak harus diapresiasi 🙂

  • Yoanna Fayza

    Yaqdzan tetap mau berangkat sekolah dan nggak takut dengan bahasa yg asing banget buat dia itu aja sudah prestasi yg luar biasa hebat ya mba.. Tapi anak2 punya kemampuan alami menyerap bahasa dan adapatasi lingkungan lebih cepat dari orang dewasa, nanti kalau Yaqdzan sudah jago bahasa belanda semua pelajaran itu bakal dibabat habis sama dia 🙂

  • Sekar

    Semoga Allah mudahkan adaptasi dalam semua hal ya dikadiiik solih 🙂 Insyaa Allah buat anak-anak kendala hanya akan terasa di awal, habis itu jago bahkan melebihi orangtuanya haha.

  • Rosanna Simanjuntak

    Memberi apresiasi, skecil apapun itu pada buah hati bagai investasi.
    Membantu mendongkrak kepercayaan diri!
    Begitu literasi yang pernah aku dapatkan saat mengikuti acara parenting di suatu hari.
    Hal itulah yang terus menerus aku afirmasi ke dalam diri putriku Yasmin.
    Iya terus menerus dalam setiap kesempatan.

    Bahkan saat kami melakukan kesalahan, kami juga minta maaf.

    Pernah memperhatikan adegan dalam film terutama film Hollywood, saat orang tua bicara dengan anak balita?
    Mereka akan mensejajarkan diri.
    Aku juga mengadopsi gaya parenting ini.
    Iya pentingnya bahasa tubuh saat berkomunikasi dengan buah hati
    Hal yang jarang aku lihat dalam kehidupan sehari-hari.
    Ternyata itu penting!
    Termasuk kontak mata, jarak yang dekat, hindari menyilangkan lengan di dada serta melibatkan diri.

  • yola widya

    anak-anak selalu memiliki keunikan sendiri mba. Anak bungsuku malah sekarang melesat dalam segala hal, dia lebih dewasa malah dari kakaknya

  • indah nuria

    that’s what I love about the school abroad. They really consider the best interests of the child and they give ample time for the kids and the parents as well to adjust. School should be fun!

  • Nunung Nurlaela

    Assalamualaikum
    Salam kenal, Mbak…saya sepertinya baru pertama berkunjung ke sini. Cerita tentang Ananda Yaqdzan sangat menginspirasi. Senang ya banyak belajar banyak hal dari anak, apalagi hal yang tak kita kira sebelumnya. Meski di negeri orang, tapi tetap semangat untuk belajar. Proud of you, Yaqdzan. Ditunggu cerita berikutnya, Mbak

  • Diah

    Alhamdulillah parents meetingnya lancar ya Mbak. Jadi tahu perkembangan anak di sekolah ya, cara penyampaian gurunya juga baik gak ngejudge ataupun menjatuhkan gitu. Juf Rita ini keren dehh 🙂

  • Hida

    Wahh..Yaqdzan keren ya adaptasinya. Anak-anak biasanya malah cepet beradaotasi dari pada orang dewasa ya mbak. Semoga kedepannya Yaqdzan bisa mencapai hasil dan prestasi lebih..

  • April Hamsa

    Memang di sini belum banyak sekolah yang menghargai kemampuan individual anak, padaha setiap anak unik ya mbak. Krn itu saya sementara ini memutuskan anak2 Homesschooling saja, mumpung msh usia dini, Skrng lg belajar ttg HS usia dasar.
    Di Belanda, guru2nya tampaknya cukup pengertian membantu anak belajar dan beradaptasi ya 😀

  • Noe

    Aku juga suka deg2an kalo pas bagi rapot dan ngadep ke guru wali kelas, secara anakku lemah di nilai akademik. Hehe. Tapi melihat semangatnya setiap hr berangkat ke sekolah bikin aku bersyukur, dia masih punya EQ yg bagus

  • Mama Karla

    Sudah lama dengar kalau di negara2 maju calistus mmg tdk ditekankan ke anak2 dibawah 6 th. Di Indonesia sebaliknya ya. Kadang guru TK malah kewalahan menghadapi tuntutan ortu krn pingin anaknya bisa calistung saat TK. Complicated

  • Uniek Kaswarganti

    Hangat sekali ya suasana meeting antara orang tua dengan guru. Juf Rita sangat baik dalam mengawal proses belajar Yaqdzan. Bahkan ada sistem memberi diploma ataupun memasangkan dengan anak lain agar terbantu proses adaptasinya. Ciri negara maju banget ya sistem pendidikannya.
    Kapan ya di Indonesia bisa berdiskusi hangat dengan guru gitu. Kalau di sekolah publik kok susah amat. Muridnya banyaaakk banget soalnya ya.

  • handriati

    Sering baca banget baca kalau pendidikan diluar memang gurunya seintense itu ya sama murid dan ortunya, tidak cuek kayak kebanyakan yang terjadi disini :(. Semangat Yaqdzan! 🙂

  • Nyi Penengah Dewanti

    Aku ikut berdebar lho mba Fiz, hahahaha karena deg-degan jug apa yang disampaikan oleh bugurunya.
    Alhamdulillah ya mba, aku juga ikutan menjadi hangat bacanya dengan adanya parent metting ini keren. Bisa diajak kerjasama semua oleh perkembangan anak

  • Yati Rachmat

    Anak-anak di manapun berada dengan bhs yg berbeda akan cepat beradaptasi apalg di sekolah, baik dlm bhs maupun dlm kebiasaan- setempat. Guru di LN memang benar2 memberikan perhatian khusus utk murid dr negara berbeda, seperti cucu bunda ketika pindah ke LN ikut ortu baru kl 4 tp testing di sana ternyata dia lulus utk kelas 6. Bayangin gimana besarnya atensi para guru thd dirinya. Kebetulan bhs Inggrisnya bagus, jd lbh mdh dia beradaptasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *