Our story

Sepotong Syukur dari Gelombang Panas

“Kardus, lakban dan bubble wrap masih ada yang kurang?” Tanya suamiku. Pagi itu kami sibuk berkemas. Kondisi rumah amat berantakan, lorong-lorong dipenuhi kertas koran dan keringat bercucuran tiada henti. Minggu ini akan jadi waktu-waktu tersibuk, mulai dari mensortir barang, membereskan gudang, dan packing-packing. Aneka suvenir, peralatan dapur, mainan anak, dan buku-buku mendominasi sudut-sudut rumah.

“Yakin piring-piring koleksi akan aman di kargo?” tanya suami. Selembar kain dan bubble wrap membalut piring-piring kaca. Aku membungkus dengan penuh hati-hati. Pintu lorong terbuka lebar, mengharap semilir angin berhembus. Kipas angin yang teronggok 9 bulan di gudang kini kembali berdiri di pojok ruang tamu. Pukul 10 malam matahari kembali keperaduannya dan kembali menampakkan diri lebih awal. Waktu isya dan subuh hanya berselang 4 jam. Musim panas telah datang, musim yang paling dinantikan oleh orang-orang yang tinggal di negara 4 musim. Satu-satunya musim yang terbebas dari pakaian tebal. Dan saat siang lebih panjang dari malam.

Aku bergegas menuju sebuah toko serba ada andalan kami, Action. Membeli 3 gulung bubble wrap yang masih kurang. Rasanya malas sekali. Berjalan kaki atau bersepeda sama saja. Matahari terik sekali, tidak ada angin sepoi yang menemani. Aplikasi cuaca menunjukkan 30 derajat celsius. Hidup di negara yang 2/3 nya bisa dikatakan dingin, ketika musim panas datang rasanya panas begitu menyengat. Bepergian tidak ada senyaman pertengahan musim semi bagiku.

From Tuesday maximums will climb higher and higher, with 35 degrees Celsius expected on Thursday” aku membuka sebuah berita hari itu. “Ah yang benar saja panasnya sampai segini, summer tahun lalu masih agak adem kok” gumam hatiku. Rasanya musim panas tahun lalu di Belanda tidak terlalu panas. Tidak ada peringatan yang berarti dari pemerintah.

Pukul 3 pagi aku membuka jendela kamar. Kipas angin yang berputar sejak semalam tidak cukup menghalau udara panas. Rupanya bueinradar, aplikasi cuaca mengabarkan 3 hari kedepan suhu cukup tinggi. Lembaga pemantau dan peringatan cuaca Eropa, mengeluarkan tanda merah yang menandakan kategori kondisi sangat berbahaya. Gelombang panas menghantam dataran rendah Belanda. Kanal-kanal terancam mengering dan himbauan kepada warga untuk hemat menggunakan air. Tercatat musim panas 2018 adalah panas terlama dan terkering sejak 1979. Peringatanpun berlanjut, bahwa warga dianjurkan untuk tetap berada dalam ruangan, menutup jendela dan pintu dari pukul 10-17 sore. Beberapa kasus extrimpun dikabarkan menyerang negara Portugal, Jerman, Spanyol, Perancis dan Inggris. Eropa bagai terpanggang saat itu.

“Duh geurah” sulungku bolak balik membuka pintu freezer. Kipas angin betul-betul tidak memberi semilir angin yang sepoi. Jendela tertutup rapat, udara pengap terkurung di dalam rumah. Rasanya sesak.

Kalau ada yang bertanya musim apa yang disukai? Musim semi, aku membayangkan bunga-bunga bermekaran dengan indah. Musim gugur suasana syahdu dengan warna warni daun-daun. Musim dingin tiba aku merindukan terik matahari. Musim panaspun menjelang batinku berkata “lebih baik musim dingin saja”. Mengapa syukurku begitu dangkal? Tiap musim selalu ada yang menjadi keluh kesahku. Harusnya menjadi renungan bagiku, ada apa dengan bumi dan Dia Sang Pencipta? Jangan-jangan ini semua teguran bagi kita penghuni bumiNya yang sering berbuat zholim.

Jakarta, 8 Januari 2019

*Foto diambil dari google

#squad1 #30dwcjilid16 #day30 #storytelling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *