Our story

Suka Duka Seorang Ibu Mengikuti 30DWC

“Mengapa teman-teman semua harus menyelesaikan target ini? begitu tanya seorang mentor kepada setiap peserta yang hadir di acara ngobrolin nulis di Depok. “Coba tebak, kenapa ada Fighter yang bisa konsisten
menulis tanpa henti tapi ada juga yang bolong-bolong. Kira-kira kenapa? Tentu ada banyak alasan” lanjut sang mentor. Saya sedang kondisi megap-megap mengikuti 30dwc hari ke-8.

Ketika memutuskan untuk mengikuti 30 day challenge writing (30dwc), sebetulnya saya punya motivasi yang biasa-biasa aja, ya sekedar mengisi waktu. Bahkan bisa dikatakan ga punya motivasi yang berarti. Saya ikutan kelas ini juga 1 hari sebelum penutupan. Ya lagi-lagi iseng saja.

“Mba yakin semuanya akan baik-baik saja hingga akhir?” tanya sang mentor yang begitu menohok. Dari sanalah saya harus punya visi misi yang jelas. Tidak hanya sekedar ikut-ikutan. Jika semangat terhenti di tengah jalan, apa yang membuat saya bangkit. Ternyata ini yang disebut strong way, energi yang membuat semangat saya terus membara.

Asal mula kenal 30dwc

Pertama kali tau 30dwc setelah mengikuti kelas online dari komunitas odop dengan tema “mengubah blog menjadi buku” oleh mas Rezky Firmansyah. Siapa beliau? seorang Passion Writer, Inspirational Speaker, dan Creative Solver. Begitu saya mengutip dari blog pribadinya. Dan yang menarik bagi saya beliau berhasil menuntaskan challenge #24BooksOn24Years. Jadi 30dwc siapa penggagasnya? Ya Mas Rezky ini.

Jadi 30dwc itu ngapain aja?

Kelas online menulis selama 30 hari di platform online misalnya instagram, blog, dan facebook. Kita bebas menuangkan tema apa saja. Genre tulisan juga tidak mengikat. Mau fiksi, non fiksi, puisi, dan prosa silahkan saja. Diwaktu tertentu akan ada tulisan bertema. Selain itu kita juga dapat mengikuti kelas online yang diisi oleh para mentor. Dan yang paling seru ketika ada sesi feedback tulisan oleh mentor maupun sesama anggota. Biar tau, tulisan yang kita buat layak dikonsumsi atau ga?, menarik atau tidak?. Iya ga?. Kalau mau info detailnya silakan mampir disini.

Suka duka ikut 30dwc

Jari-jari saya pegal, perih dan sakit. Begitu keluhan minggu pertama menulis. “Ga kebayang deh rasanya ketik-ketik sampai 30 hari, memang teman-teman lain tidak?” ujar saya ketika hadir di acara ngobrolin nulis bareng mentor.

Kepala mumet dan hati tidak tenang sebelum menyelesaikan tulisan hahaha sungguh lebay ya. Ini fakta yang saya rasakan. Maklum ini challenge pertama saya yang paling ekstrim. Biasanya update blog hanya 1x seminggu, terkadang bolos juga santai aja. Tetapi saya bertekad untuk menantang diri sendiri dengan gaya story telling yang baru saya mulai.

Terus tantangan selanjutnya kemampuan menulis saya yang belum bisa cepat. Saya bisa menghabiskan waktu 2-3 jam menulis dan mengedit 3-4 halaman A5/hari. Karena gaya story telling memang tidak bisa pendek ini yang membuat tulisan saya agak panjang dari biasanya. Mungkin ini yang membuat jari-jari pegal. Seiring berjalannya challenge, alhamdulillah perlahan bisa terlewati.

Anak-anak bagaimana? ada yang mempertanyakan, salah satunya mentor. Disaat saya memutuskan ikut 30dwc, saya tidak ingin menjadikan anak-anak sebagai penghalang dan penghambat selama proses. Apalagi sebagai alasan yang “tepat” yang dilemparkan karena saya tidak bisa menyelesaikan tugas hari itu. Tidak, saya tidak berharap demikian. Jadi waktu nulisnya kapan? Idealnya sebelum anak-anak bangun dan setelah mereka tidur. Tetapi aktualnya tidak selalu demikian. Tak jarang juga saya menyicil draft dikala anak-anak asik bermain.

Punya rutinitas yang sama, selalu ada bosan dan jenuh menghampiri. Rasanya ingin berhenti saja. Ada yang mengalami hal serupa? Wajar aja kok. Tips dari saya, cobalah banyak sharing. Entah sesama anggota, mentor ataupun supporter. Atau bisa jadi tubuh butuh refreshing sejenak dari rutinitas. Bersyukurnya partner sharing saya tidak pernah bosan mendengar ocehan dan uneg-uneg saya. Terimakasih ayah duo bocah. Suami adalah orang pertama yang meyakinkan saya untuk bisa mengikuti 30dwc, beliau juga orang pertama yang selalu mensupport saya, menemani ketika ada event sharing tentang literasi, menanyakan progress harian, membaca tulisan serta memberi feedback. Saya merasakan sekali kalau support tim itu sangat penting. Terutama bagi yang sudah berkeluarga, harus ada kerjasama yang baik.

Manfaat yang dirasa

Setidaknya 30 hari menuntaskan challenge ini, mengajarkan saya tentang kesiplinan dan komitmen. Semangat bertumbuh dengan strong way yang jelas. Lega dan bahagia karena bisa menantang diri bekerja hingga tuntas. Semakin menyadari bahwa tidak ada pencapaian yang diperoleh tanpa ikhtiar yang membersamai, proses yang dilalui dan tawakal yang menyertai. Saya bisa menyelesaikan 30dwc semata-mata bukan karena kepandaian saya mengatur waktu, tetapi ada Allah yang selalu memberi kemudahan itu. Dan jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain, tetapi merenunglah sudah seberapa besar tantangan yang terlewati?

Dan ada surprise dari pak suami yang tiba-tiba dihadiahkan kepada saya. “Selamat..selamat..selamat dulu udah lulus” ujarnya hihi..Pak suami dari dulu memang pandai membesarkan hati istrinya. Bukan seberapa besar hadiah yang diberikan tetapi bagaimana cara menghargai antar sesama.

Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih kepada tim 30 DWC, mas Rezky sebagai mentor, kepada para guardian yang sudah memandu kelas ini berjalan.

Dan semangat bertumbuh, mari bumikan dunia literasi!

Jakarta, 9 Januari 2019
#30dwc #30dwcjilid16 #squad1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *