Cerita Yaqdzan & Faiha,  Serba serbi menulis

Lego, Bermula dari Usaha Kayu hingga Mainan yang Mendunia

Ngomong-ngomong soal lego, hampir semua kita mengenalnya. Iya ga sih? Lego tidak hanya primadona dikalangan anak-anak, orang dewasa pun menyukainya.

Kami pun menjadikan lego sebagai bagian kegiatan harian anak-anak. Teringat awal mula saya memperkenalkan lego pada si sulung saat usianya 3 tahun yaitu lego duplo seri pesawat. Namun dibalik mainan keren ini ada yang tau ga, kalau lego didirikan oleh seorang tukang kayu di sebuah desa terpencil di Denmark.

Sejarah Lego

Namanya Ole Kirk Christiansen, hidup di desa Filskov pinggiran Denmark. Beliau dibesarkan dari keluarga tukang kayu. Ketika berusia 14 tahun Ole belajar membuat kerajinan kayu dari kakaknya. Hingga pada tahun 1916 Ole mendirikan perusahaannya sendiri yang diberi nama billund maskinsnedkeri og tømreforretning (toko bahan bangunan dan bengkel kayu kota Billund). Ole menciptakan berbagai kayu olahan yang digunakan untuk bahan bangunan.

Lalu pada 1930 Denmark mengalami krisis ekonomi parah dan membuat penjualan bahan bangunannya terus menurun. Ole pun harus mencari inovasi baru agar produknya bisa terjual. Diawal perjalanannya merintis bisnis Ole pun mendapat ujian lain yaitu tokonya pernah mengalami kebakaran.

Dari kayu bangunan Ole mulai berinovasi memproduksi mainan kayu. Rupanya mainan kayu sangat digemari oleh konsumennya. Hingga pada tahun 1924 Ole mulai menggunakan nama LEGO untuk perusahaannya, yang diambil dari kata bahasa Denmark, leg godt (permainan yang menyenangkan).

Ketika itu perusahaan Lego hanya dikenal sebagai produsen mainan kayu dengan berbagai macam desain yang menarik.

Akhirnya, pada tahun 1940 perusahaan Lego untuk pertama kalinya membuat mainan yang berbahan plastik. Dan perlahan meninggalkan mainan kayu. Inilah asal mulanya mainan lego yang kini mendunia.

Rupanya dari usaha sederhana, kini menjadikan usaha yang mendunia. Rupanya dari kreatifitas keluarga , kini kreatifitas itu dinikmati anak-anak dengan penuh warna. Rupanya dari bisnis yang mendunia, ada kerja keras dan ujian yang tidak biasa.

Kalau Ole berhenti karena berbagai ujian kehidupan saat itu mungkin hari ini kita tidak bisa menikmati mainan lego ini. Jadi intinya, sebuah kesuksesan tidak terlepas dari usaha dan kerja keras. Begitu juga kegagalan, bisa jadi kesabaran yang diajarkan untuk memiliki sesuatu yang lebih baik.

Apa itu Lego?

Lego adalah sejenis alat permainan bongkar pasang dari plastik kecil yang terkenal di kalangan anak-anak maupun dewasa. Kepingan kecil ini bisa disusun menjadi model apa saja, misalnya istana, kereta api, bangunan, playground, kota, patung, kapal, kapal terbang, pesawat luar angkasa, robot dll.

Tema lego pun bervariasi, mengalami inovasi dari waktu ke waktu misalnya saja lego duplo, lego basic, lego city, lego teknik, lego start wars, lego creator, lego friends, lego spiderman, lego model steam, lego castle dll.

Mengenal grade Lego?

Rupanya lego itu selain punya banyak tema, juga ada grade yang disesuaikan dengan usia anak. Lego duplo, lego dengan ukurannya besar dan penggunaannya simple ditujukan bagi anak yang berusia 2 tahun. Sedangkan bagi anak yang berusia 12 tahun, didesain dengan ukuran lego yang kecil dan penyusunannya kompleks.

Jadi jenis lego apa yang tepat ketika pertama kali memutuskan membeli lego?

Kalau pengalaman kami, saat si sulung berusia 3 tahun duplo adalah pilihan kami yang tepat saat itu. Karena ini adalah pengalaman pertama si sulung mengeksplore lego. Jadi ukuran yang besar dan perakitan yang lebih sederhana akan memudahkan anak. Beda lagi dengan sang adik, karena adik mengenal lego lebih awal maka di usia 8 bulan sudah senang mengexplore lego duplo. Kini usianya 2 tahun senang ikut-ikutan merakit lego basic bersama sang kakak. Namun dalam pengawasan orangtua ya.

Jangan salah loh, lego duplo juga masih disenangi Yaqdzan yang kini berusia 6,5 tahun. Untuk duplo kami pilih duplo basic (kotak segiempat) yang mendominasi, jenis karakter orang atau hewan tidak banyak. Dengan demikian anak lebih leluasa berimajinasi. Semakin banyak jumlah duplo, anak-anak pun semakin leluasa berkreasi dan berexplorasi.

Manfaat Bermain Lego Apa?

1. Media meningkatkan kreatifitas dan ajang memecahkan masalah

“Loh kok beda bunda?” tanya si sulung yang sedang merakit lego creator.

“Oh iya pantesan, ini salah,” ujarnya kemudian.

Tak jarang juga si sulung menyerah, bertanya dan berhenti ketika menyelesaikan suatu project lego. Namun, semakin sering mengeksplore Yaqdzan mampu memecahkan instruksi sendiri.

Saya teringat awal mula Yaqdzan (4 tahun) bermain lego curah (campuran teknik, creator, train dll), si sulung kebingungan ga punya ide mau bikin apa. Karena beberapa jenis lego sudah menyatu dan buku tutorial tidak bisa diikuti seutuhnya.
Lego curah ini hanya dikreasikan dengan bentuk-bentuk sederhana.

Kini, di usia 6,5 tahun saya bisa melihat progress yang dilaluinya. Lego curah yang dulu seringnya nganggur, kini berbagai ide dia tuangkan dalam rakitan lego ini. Bahkan anaknya lebih jago daripada ayah bunda 😂

2. Melatih koordinasi mata dan tangan

Dalam merakit lego butuh ketepatan posisi satu sama lain. Anak-anak juga butuh kesabaran dalam mengerjakannya. Misalnya saja Faiha awal mula merakit duplo, ada trial error yang dilewati. Tak jarang anaknya juga kesal karena tidak berhasil. Begitu juga kakaknya, ketika merakit lego basic kesenggol dikit kok roboh. Dalam mengerjakan lego memang perlu ketepatan dan tenaga extra agar berdiri kokoh. Maka dari trial error inilah motorik halus si kecil akan terasah.

3. Meningkatkan kerjasama dan sosialisasi

Efek paling nyata yang saya rasakan ketika pulang ke Indonesia dan Yaqdzan bertemu sepupunya. Hampir setiap hari Yaqdzan dan 3 orang sepupunya mengeksplore lego. Ada saling negosiasi karena karakter lego yang diperebutkan. Ada kerjasama yang tercipta karena project besar yang diselesaikan.

Berkunjung ke Lego World

Ketika Autumn holiday Oktober 2017 kami memutuskan untuk berkunjung ke Lego World Utrecht, Belanda. Ajang pertunjukkan menampilkan lebih dari 300 model lego. Aula Jaarbeurs dipenuhi lego dengan mengerahkan 22 truk mengangkut lego brick, berbagai model lego dan material. Setiap tahunnya ada sekitar 90.000 pengunjung yang datang, didominasi anak usia 2-12 tahun.

Event ini tidak hanya diminati anak-anak, namun juga orang dewasa. Benar saja, berbagai model lego ditampilkan disini. Dalam satu bak besar anak-anak akan mandi lego dan berkreasi didalamnya. Berbagi atraksi juga dihadirkan misalnya saja atraksi kereta api menggunakan lego brick, popstars show, dan lego mini museum.

Sungguh event ini menjadi pengalaman berharga bagi kami sekeluarga.

Di Eindhoven, Belanda setiap hari rabu pukul 15.00 ada event workshop lego yang bisa diikuti oleh anak-anak. Workshop ini gratis yang disponsori oleh perusahaan ASML di Belanda.

Di Eropa sepertinya lego sudah menjadi kegiatan harian anak-anak, begitu juga workshop lego banyak ditemukan.

Di tanah air pun beberapa workshop lego atau robotic sudah mulai dihadirkan, terutama di Jakarta. Walaupun harga yang ditawarkan tidak murah. Mungkin karena harga lego sendiri juga lumayan mahal. Jadi ketika kami back for good ke Indonesia kami memutuskan untuk memboyong lego. Mulai dari lego curah, lego yang ber set, dan duplo. Semuanya hampir didapatkan dengan kondisi bekas namun kondisi sangat layak pakai. Tentunya dengan harga yang miring.

Tidak hanya lego yang dapat meningkatkan kreatifitas anak, barang-barang bekas di sekitar kita juga tidak kalah manfaatnya bagi anak. Misalnya saja mengolah kardus menjadi rumah-rumahan, kamera, atau laptop mainan. Jadi sesuaikanlah dengan lingkungan sekitar, bermain tidak perlu mahal. Bermain adalah jembatan kedekatan antara anak dan orangtua. Jadi apapun media yang dipunya, mulailah dari sekarang.

Jakarta, Maret 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *