Cerita Yaqdzan & Faiha,  DIY Alat Peraga Montessori

9 Bulan jadi Guru Homeschooling

Aiih, ga pede banget kasih judul kaya gini. Ibu-ibu ada yang punya pengalaman serupa? Homeschooling kami sungguh sederhana, ga muluk-muluk. Jauh dari kata sempurna baik dari pengalaman, jam terbang, maupun hasil. Tapi saya ingin berbagi, barangkali ada yang punya niatan serupa memilih homeschooling ketika kembali dari tanah rantau. Terus ngapain aja? Apa tantangannya? Apa suka dukanya?

Menyebut-nyebut kata homeschooling akhir-akhir ini memang banyak dilakoni para orang tua ya.

Yaqdzan ga sekolah? Oh homeschooling ya, begitu sebagian orang memandangnya. Anaknya ga sekolah? Pindahan luar negeri sayang banget, tinggal lanjutin di international school aja, ada juga yang nyeplos demikian. Masukin TK aja tuh, bisa kok ikut tengah semester, bayarannya juga murah. Sayang sekali saran ini belum sesuai dengan idealisme keluarga kami. Apapun sebutannya kami memutuskan memang Yaqdzan ga sekolah.

Jalan homeschooling ini kami pilih, sejak pulang dari tanah rantau September 2018 saat usia si sulung yaitu 6 tahun. Lalu apakah pilihan homeschooling itu pilihan Yaqdzan, Bunda atau Ayahnya? Jawabannya homeschooling adalah jawaban kami semua. Ketika awal tiba di tanah air, saya coba tawarkan Yaqdzan untuk sekolah tapi anaknya menolak. Katanya akan balik lagi ke Belanda dan SD naik ke grup 3 😅. Hingga kami sepakat Yaqdzan sekolah di rumah.

Perjalanan homeschooling ga mulus begitu saja, banyak banget tantangan yang dilewati, diantaranya geger budaya balik, tantangan mengkondisikan anak karena kami tinggal ramai-ramai sama saudara dan mertua bahkan sempat tinggal 1 rumah. Semuanya ga mudah, butuh tekad yang kuat dan semangat untuk terus memulai dan belajar.

Yang saya takutkan bukan karena Yaqdzan tidak bisa mempelajari ini itu. Bukan, toh belajar tidak hanya sebatas itu. Harapan saya, Yaqdzan disiplin dengan waktu. Punya senses sendiri kapan kegiatan mandiri, kegiatan bersama, keluarga, dan bermain. Jadi dalam menjalani proses homeschooling memang ada saat-saat downnya.

Suka Duka Homeschooling

Saya bersyukur sebelum Yaqdzan berusia 4 tahun, pernah menjalankan homeschooling anak usia dini. Ya sebut saja homeschooling karena Yaqdzan memang tidak pernah ikut playgroup atau TK tapi di rumah punya kegiatan sendiri. Kegiatannya ngapain? Apalagi kalau bukan bermain sambil belajar. Jadi ketika memutuskan untuk kembali ke rumah sedikit ada bayangan dan terbekas habit yang dahulu.

Sukanya menjadi guru homeschooling:

1. Ladang pahala orang tua

Sebut saja ketika anak-anak belajar mengaji sang ibu yang mengajarkan, ketika belajar membaca sang ibu yang turun tangan. Jalannya tentu ga selalu mulus, terkadang bosan, terkadang kecewa mungkin ekspektasi yang terlalu tinggi, terkadang harus legowo kembali meluruskan niat, tujuannya untuk apa? Ini yang saya rasakan 3-4 tahun lalu ketika mulai mengajarkan si kecil huruf-huruf Alquran.

Hari ini ketika mendengar alunan bacaan Alquran si kecil tiba-tiba suami nyeplos, “Bunda tau ga, ini amal jariyah Bunda selama ini”. Loh, saya ternyata ga begitu ngeuh, yang dirasa adalah ketika sulit menjalankan. Kini ketika memetik hasil mungkin merasa wajar. Menjadi renungan tersendiri, mendidik anak selama ini merupakan ladang pahala bagi orang tua.

2. Belajar lagi, murajaah lagi

Ada yang ngalamin ga sih, ketika ditagih anak-anak untuk menggambar tapi ibu kok ga bisa. Sekedar membuat animasi sapi saja bingung, gimana mau bikin rantai makanan πŸ˜€ Sepenggal kisah ini saya alami. Mau ga mau kita jadi belajar lagi, murajaah lagi, dan banyak mempelajari hal baru. Ini salah satu positifnya dari homeschooling yang saya alami.

3. Mengetahui proses detail perkembangan dan kebutuhan anak

Sebagai ibu yang membuat program kegiatan anak di rumah dan musyawarah bersama, kita tahu detail proses perkembangan anak. Jadi memahami karakter anak lebih dalam, cara belajar si kecil, minat keseharian, dan metode yang pas untuk si kecil. Misalnya saja, akhir-akhir ini saya menemukan hobi baru Yaqdzan yaitu berjualan. Alhamdulillah bisa tersalurkan ketika pulang ke tanah air. Ketika Yaqdzan memulai untuk menghafal Alquran, rupanya setelah bisa membaca Alquran sendiri, mengulang-ngulang hafalan sendiri dengan membuka Alquran adalah metode yang menarik bagi si sulung. Dibandingkan dengan memperdengarkan murattal ketika sesi bermain.

4. Latihan disiplin

Meskipun anak homeschooling punya waktu flesibel dan tidak terikat tapi kami sepakat di rumah tetap punya waktu-waktu tertentu kapan bermain, kapan turun, dan kapan naik. Istilah turun saya pakai setelah bangun tidur, anak-anak turun ke bawah untuk menyelesaikan kegiatan kemandirian seperti menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, menemani adik bermain agar bunda leluasa dalam mengerjakan. Sekitar jam 9-10 pagi biasanya kami naik ke lantai atas untuk memulai kegiatan belajar homeschooling hingga zuhur. Jadi dalam rentang waktu ini Yaqdzan sudah faham kapan fokus dan kapan bermain. Saya juga mengupayakan anak-anak agar tidak terganggu karena kami tinggal bersama sanak saudara lainnya.

Masya Allah tampak menyenangkan dan menantang sekali ya. Dibalik suka yang ada, tentu ada dukanya. Atau malah banyak dukanya nih? Hehe.. Ya pasti ada, tapi saya menyebutnya tantangan. Semuanya butuh proses, tidak ada yang instan. Bahkan untuk mendisiplinkan semua anggota keluarga butuh berbulan-bulan. Apakah program yang kami jalankan sia-sia? Tidak, sama sekali tidak.

Memang terkadang ada rasa ingin menyerah saja, jenuh, bosan dibuntutin anak-anak 24 jam 😂 Mau kemanapun anak-anak selalu diboyong. Terkadang juga terlintas, apakah program yang dijalankan ini ada hasilnya atau akan sia-sia? Menjadikan saya dan suami untuk terus berdiskusi, mengevaluasi, dan terus berbagi peran.

Jadi homeschooling Yaqdzan ngapain aja?

Sekali lagi programnya ga muluk-muluk, sederhana saja, ada program prioritas dan inilah yang akan jadi tujuan utama kami.

Saya juga sempat berdiskusi dengan ibu-ibu para praktisi homeschooling seperti teh Kiki Barkiyah atau komunitas Homeschooling Nusantara. Dari mereka saya belajar, mendampingi anak-anak ada tarik ulurnya, tak apa sedikit tapi konsisten.

Lebih kurang seperti ini program yang saya ingat:

1. Kegiatan kemandirian
2. Olahraga
3. Bahasa
4. Alquran

Ada juga para praktisi homeschooling yang fokus pada Alquran, Masya Allah Tabarakallah. Programnya bisa diajarkan oleh orang tua atau mendatangkan guru dari luar.

Ini juga alasan utama kami kenapa Yaqdzan tidak sekolah. Ingin fokus pada agama, akidah, dan Alquran nya setelah kami keteteran dan ketinggalan selama di tanah rantau.

Akhir kata, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada para guru yang ikut berperan selama Yaqdzan homeschooling. Guru les renang, guru Alquran dan juga Ayah yaitu guru sepanjang waktu yang berkorban menyerahkan waktunya ketika sudah berada di rumah bagi anak-anak. Dan homeschooling kami akan segera usai, Insya Allah bulan Juli Yaqdzan akan memasuki jenjang pendidikan SD. Semoga habit yang dibentuk di rumah akan menguatkannya untuk bertempur di ranah luar. Barakallah..Maafkan Bunda yang paling banyak khilafnya ❤️

Padang, Juni 2019

28 Comments

  • Kartika

    Keren banget mba.. salut deh.. aku juga punya cita2 sebelum SD nnti anakku homeschooling aja. Sdh sering baca juga suka dukanya. Blm lagi komen orang dan keluarga πŸ˜€ Tp rasanya golden age itu pas banget klo didampingi sm ortu. Mnrt ku pribadi ya…

    Smoga disegerakan ya punya anaknya amin hehehe

  • Arlina Dwi

    Iya yah momen golden age itu memang kudu dijaga bener bener, asupan ilmunya dimaksimalin karena itu sekali seumur hidup.

    Salut deh buat mbk, saya jadi kepikiran pingin full time untuk anak saya kelak

    • admin

      Alhamdulillah mba, masih jauh dari kata sempurna dan harus banyak belajar..

      Semoga tidak Ada yg sia2. Terimakasih udah mampir ya πŸ˜‰

  • Reyne Raea

    Masha Allah, salut banget buat ibu-ibu yang homescholing kan anaknya.
    KArena, meskipun aslinya kangen berat saat anak lagi sekolah di luar, saya merasa waktu itu adalah me time sejenak saya hahaha.

    Dan memang benar ya, semua itu amal jariyah buat orang tuanya.
    Semoga berkah ya πŸ™‚

  • Okti Li

    Saya juga pernah praktik homeschooling terhadap anak selama 2 tahun. Alhamdulillah putra saya Fahmi tidak perlu ke TK. Setelah belajar di rumah bareng saya, saya masukkan Fahmi masuk SD dan Alhamdulillah lolos.
    Saya homeschooling anak menggunakan kurikulum teman yang kenal di sosial media juga. Beliau menerapkan homeschooling untuk angkanya di Jepang. Saya tiru dan menerapkannya untuk Anka di kampung hehehe

  • Rohyati Sofjan

    Terharu bacanya. Semoga apa yang dilakukan Bunda Hafizatul berbuah keberkahan sepanjang masa. Ya, seorang ibu adalah guru pertama bagi anak. Saya sendiri belum tentu bisa. Libur sekolah gini masih saja sulit mendisiplinkan Palung untuk belajar, maunya main mulu dan sayanya tidak tegasan.
    Konsep homeschooling itu tidak mudah tetapi bukan hal yang mustahil dilakukan. Apa yang dilakukan Bunda adalah semacam persiapan agar anak tidak alami semacam gap karena tidak bisa sekolah dulu. Insya Allah, jalan itu yang terbaik karena telah terkonsep dengan baik. Saya bisa membayangkan betapa tidak mudahnya serumah dalam keluarga besar. Tetapi bagus juga anak-anak bisa disiplin dan menghargai konsep waktu untuk belajar dan bermain.

  • Farida Pane

    Masyaallah, homeschooling memang menyenangkan, sih. Dengan berbagai kerepotan dan suka-dukanya. Tetap saja aku akan berkali-kali lebih memilih homeschooling selama masih bisa.

  • Farida Pane

    Masyaallah, homeschooling memang menyenangkan, sih. Dengan berbagai kerepotan dan suka-dukanya. Tetap saja aku akan berkali-kali lebih memilih homeschooling selama masih bisa.

  • Indah Nuria

    Homeschooling is indeed interesting and challenging at the same time. I have seen many of my friends are doing it and they are actually enjoying it. I think it’s good to know that closer

  • cifer

    wow, keren banget mbak! aku tuh selalu salut sama keluarga perantau di luar negeri apalagi yang mendidik anaknya sendiri <3 aku pernah kepikiran, apa anakku homeschooling aja yaa, tapi akhirnya malah aku masukin ke TK tahun ini, hehe.. soalnya aku takut ga bisa disiplin, apalagi aku kadang keras ke anak, hiks πŸ™

  • emanuella aka nyonyamalas

    Saya sepakat banget Mbak dengan poin-poin yang Mbak Hafiza sampaikan. Apalagi yang bagian harus belajar lagi. Betuuuul! Duh, saya senyam senyum sendiri ini kalau ingat bagaimana mendampingi anak (anak saya masih 2 tahun) dan menanggapi celoteh dan pertanyaan-pertanyaannya yang kadang suka ajaib. Mau nggak mau harus belajar lagi. Belajar pengetahuannya, belajar sabarnya. So blessed ya Mbak…. Semoga saya bisa tekun juga belajar bareng anak….

  • Lidya

    Sebenarnya aku tertarik dengan home schooling ini tapi masih kurang ilmunya. Btw mbak untuk sosialisasi dengan anak sebayanya berarti anak home schooling ikutan klub2 gitu atau gimana?

    • admin

      Setau saya untuk sosialisasi anak HS bisa ikut komunitas mba, komunitas HS misalnya. Atau klub lainnya seperti komunitas belajar Alquran, renang, dan bahasa misalnya.

  • Kurnia amelia

    Sebenernya home scoling ini lebih nyaman untuk anak ya karena bisa sesuka dia san tergantung kreatifitas mereka juga tapi yang berat itu ya kita pembimbingnya huhu rasanya ga sanggup kalau home scoling gini soale masih banyak urusan dan kerjaan juga.

  • herva yulyanti

    keren mba, aku ngajarin anakku ngaji aja kesabaran teruji apalagi ada adenya yang masih kecil ga suka kalau ibunya beduaan sama kakaknya suka langsung robekin buku kakaknya hehe..akhirnya aku panggil guru privat aja ntar tinggal aku tes hafalannya

    salut sama ortu yg terapin HS

  • lendyagasshi

    Barakallahu fiik, BUnda…
    Aku selalu yakin kalau Ibu dan Ayahnya lah yang paling mengenal anak-anaknya.
    Dan ketika mengambil jalan HS, maka ini berarti jalan mencari ladang jariyyah terbaik.
    Semoga istiqomah yaa, Bunda..

    **walaupun sebentarlagi sudah bukan HS, tapi madrasah utama dan pertama in syaa Allah tetaplah ummu-nya.

  • rizka edmanda

    mantap ya Mba semoga jadi ladang pahala hehe menginspirasi banget, ak sebenarnya juga kepikiran ingin homeschooling aja sementara sampe nanti SD baru masukin sekolah biasa tapi kami ga ada tetangga, keluarga juga dikit jadi aku khawatir perkembangan sosialnya kurang makanya suami maunya masukin TK aja nanti

  • Diah

    Masya Allah, salut Mbak. Bisa menjalankan homeschooling gini. Bunda dan Ayah berperan aktif untuk pendidikan anak, jadi ladang jariah sepanjang masa. Anak-anak juga pasti senang diajari langsung ma ortunya πŸ™‚

  • Monica Anggen

    Salut banget dengan para ibu yang jadi guru homeschooling untuk anaknya di rumah. Saya setuju banget, pendidikan dasar semuanya dimulai dari rumah. Jika akarnya kuat maka meski nanti keluar rumah dan ada banyak pengaruh sosial lainnya, anak tak akan mudah terpengaruh.

  • Duniaqtoy

    aku mengakui banyak kekuranganku jadi sangat ga pede HS. Apalagi dulu anakku delay speech karena aku sendiri. Dan setelah disekolahkan sangat beda perkembangannya. Makanya salut untuk anak-anak HS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *