Cerita Yaqdzan & Faiha,  Our Story,  Yaqdzan & Faiha

Itikaf Ramadhan Bersama Anak, ini Tips Jitu agar Ibadah Lancar

“Pak, apakah ada masjid yang mengadakan itikaf buat akhwat?”

Suami saya akhirnya mengirim sebuah pesan singkat pada pak Rosyid, seorang Ustadz dan yang berilmu di kota kediaman kami saat itu.

“Tidak ada Pak, akhwat itikaf di rumah saja” begitu jawaban yang kami terima.

Setidaknya saya lega, mendapatkan informasi yang akurat. Fix kalau ramadhan selama di Eindhoven saya dan anak-anak tidak ada agenda itikaf. Antara kecewa, sedih, dan saya harus bagaimana agar tetap terjaga ingin menjadi bagian orang-orang yang menjemput malam lailatul qadar. Mengingat beribadah sendiri pada malam hari dalam keadaan sendiri butuh perjuangan lebih.

Anyway saya tidak akan membahas, bagaimana hukum wanita untuk itikaf di masjid. Teman-teman silakan googling sendiri hehe..Dari kasus diatas sudah dipastikan bahwa para wanita tidak itikaf di masjid.

Maka ketika kembali ke tanah air, alunan azan selalu berkumandang dan lantunan Alquran lewat speaker seorang syekh ternama terdengar dari masjid, saya seperti kebingungan dan kadang berpikir ulang “oh benar adanya apa yang saya dengar.” Haru saya pecah seketika.

Hingga Ramadhan datang, mempersiapkan diri dan keluarga atas nikmat datangnya bulan mulia adalah sebuah ikhtiar. Salah satunya mempersiapkan diri dan anak-anak untuk itikaf. Sekali lagi bahagia itu bukan berlimpahnya banyak materi, pemandangan saya melihat masjid dipenuhi para ibu memboyong anak-anak sungguh nikmat yang luar biasa.

Saya ingin sharing bagaimana pengalaman kami mengajak anak-anak itikaf. Itikaf kami hanya di malam-malam ganjil, tidak full di masjid selama 10 hari terakhir.

Memilih masjid ramah anak

Bagi saya masjid merupakan indikator utama kenyamanan membawa anak. Karena masjid adalah pengganti rumah ketika itikaf jadi memilih masjid yang ramah anak sesuatu yang kami usahakan.Pilihlah masjid yang tidak terlalu jauh, agar tidak menghabiskan waktu banyak di perjalanan. Tetapi juga children friendly. Berikut tipe masjid yang pernah kami singgahi. Masjid Attin Jakarta Timur jarak tempuh sekitar 10 menit dari rumah. Siapa yang tidak tahu masjid ini? satu di antara dua masjid megah di kawasan TMII.

Masjidnya luas, ikut menghidupkan 10 malam terakhir. Agendanya qiyamul lail dan kajian. Kajiannya bagus-bagus sudah terjadwal dengan baik. Ada spot khusus yang difasilitasi oleh panitia yaitu di dalam mesjid khusus ruangan laki-laki/perempuan tidak diperkenankan istirahat membawa anak-anak di dalam mesjid. Sedangkan teras masjid dikhususkan untuk area keluarga.

Kami yang datang sekeluarga tentu memilih area keluarga. Bawa apa saja? Tikar/selimut sebagai alas tidur karena memang tidak ada karpet, bantal, makanan, minum dll. Speaker imam dari lantai atas cukup jelas dan bagus sampai ke bawah. Kamar Mandi di masjid Attin tersedia cukup banyak, namun karena jamaah yang hadir berlipat-lipat. Harap bersabar untuk antri ke toilet.

Plusnya di arena keluarga, orang tua tidak terlalu khawatir kalau anak-anak sedang rewel karena memang terasnya luas dan anak-anak ramai berlarian. Kekurangannya, di teras cukup geurah karena memang tidak ada kipas angin apalagi AC dan nyamuk cukup banyak ikutan itikaf 😂 lalu karena terasnya sangat luas dan ramai, sepertinya agak mengurangi kekhusyukan dalam beribadah, ini yang saya rasakan. Tapi sama sekali tidak mengurangi rasa untuk beriktikaf.

Untuk berbuka dan sahur di seberang masjid banyak pedagang yang berjualan, ini memudahkan jamaah tentunya.

Masjid selanjutnya yang menjadi tempat itikaf kami adalah masjid Al Falah Bambu Apus, sekitar 15 menit dari rumah. Tampaknya masjid yang tidak seluas masjid Attin ini jadi tempat ternyaman kami ramadhan ini.

Masjidnya tidak terlalu luas, terdiri dari dua lantai yaitu lantai atas khusus untuk ikhwan dan ruangan di bawah khusus akhwat. Selama itikaf berlangsung, ruangan bawah betul-betul menjadi spot bagi para ibu dan anak-anak. Salat, tadarus Alquran dan istirahat memang di ruangan ini. Sedangkan ikhwan, ruang salat dan istirahat berbeda. Ruangan utama adalah tempat salat, sedangkan selasar teras di sulap menjadi tempat istirahat dengan ditutupi kain serta dilengkapi air coller.

Rasanya masjid ini jadi tempat ternyaman bagi anak-anak. Ruangan utama bagi ibu & anak-anak full AC. Peserta itikaf tidak terlalu ramai, walaupun malam ganjil ruangan penuh. Tapi untuk beristirahat masih nyaman.

Di masjid ini saya juga sebagai saksi bagaimana para keluarga full itikaf. Seorang ibu bersama anak-anaknya saling menyimak bacaan Alquran, saling talaqi. Anak-anak banyak menghafal Alquran secara mandiri, para ibu pandangannya tak lepas dari kalamNya. Ada juga ibu yang memboyong anaknya yang masuh berusia 3 bulan loh. Masya Allah Tabarakallah.

Masjid ini juga banyak kajian kece-kece dari penceramah ternama seperti Ajo Bendri, ustadz Oemar Mita dll. Juga terdapat 3 orang imam (Al Hafizh). Agenda lainnya qiyamul lail dimulai jam 1.30 sampai 3.15 sekitar 1 juz. Dilanjutkan kajian bada subuh. Beberapa suguhan makanan juga disajikan bagi peserta itikaf seperti aneka kue dan minuman. Begitu sahur, ada makanan sahur dari donatur walaupun terbatas tapi pada Ramadhan ke-27, konsumsi sangat berlimpah.

Toilet di masjid Al Falah tidak banyak, sesuau dengan jamaah yang hadir. Tapi tidak membludak seperti di Attin, antrinya tidak berarti. Ini yang membuat saya senang, sembari meninggalkan anak-anak di ruangan saya ke toilet sesaat dan tidak menghabiskan banyak waktu. Jarak ruangan masjid dan toilet dekat sehingga si sulung tidak perlu ditemani. Ada beberapa stand UKM di pekarangan masjid. Minusnya, parkir mobil tidak luas.

Alhamdulillah, bahagia sekali dengan keberadaan masjid ini. Semoga para donatur dan pengurus, dilimpahkan banyak keberkahan.

Kondisikan anak-anak sebaik-baiknya

Sejak 4 tahun pertama usia si Sulung, Alhamdulillah saya tidak sungkan mengajaknya untuk itikaf meskipun ketika usia 1 tahun atau usia aktif bergerak. Saya ingin mengenalkan hal ini pada anak laki-laki kami. Begitu juga ketika sang adik hadir, saya memboyong 2 anak (7 tahun & 2 tahun).

Konsekuensinya, saya harus menyiapkan tenaga berlipat-lipat. Ndak apa demikian hehe..Jangan ekspektasi tinggi atau samakan kondisinya ketika single, ketika datang ke masjid bisa full tilawah misalnya. Justru ladang pahala para ibu mengenalkan moment ini pada anak-anak. Saya selalu komunikasikan pada anak-anak untuk bermalam di masjid. Alhamdulillah sang kakak menyambut dengan senang dan selalu menagih untuk itikaf. Sedangkan sang adik hari pertama agak bingung dan bengong dan juga ikut begadang. Namun Hari berikutnya sukses hehe..Persiapan sebelum itikaf, usahakan tempat tidur anak-anak senyaman mungkin. Saya membawa playmate, selimut, dan bantal. Juga persiapkan alat tulis, mainan, dan cemilan si kecil.

Sebaik-baik rencana kita, sebaik-baik mengkondisikan anak mintalah pada Allah yang mengatur semuanya. Bersabarlah menghadapi drama anak-anak.

Padang, Juni 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *