Travelling

Lembah Harau, Wisata di Minangkabau yang lagi Hits

Ada yang udah berkunjung ke Lembah Harau?

Saya berasal dari Minangkabau, jujur saja kami jarang mengeksplor objek wisata Sumatera Barat sendiri. Ke Lembah Harau sendiri ketika tamat SMP dan 5 tahun lalu. Begitupun objek wisata di tanah air, kami jarang sekali napak tilas. Dua tahun di rantau sekaligus berkunjung ke beberapa negara di Eropa, menyadarkan kami untuk lebih mengenal keanekaragaman dan budaya negeri sendiri termasuk wisatanya.

Lembah Harau adalah salah satu wisata alam Sumatera Barat yang terletak di Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Dari kota Padang kita menempuh jarak sekitar 134 km dengan waktu sekitar 3-4 jam. Sedangkan dari kampung halaman saya, Taratak Kubang sekitar 30 menit- 1 jam karena masih 1 kabupaten.

Konon katanya Lembah Harau kini sudah banyak inovasi dan menjadi central wisata Sumatera Barat. Jadilah hari ke-4 Syawal kami memutuskan untuk berkunjung ke Lembah Harau.

Ahad pagi sekitar pukul 7.30 kami bergegas ke lokasi. Berangkat satu keluarga besar, papa, mama, adik, dan saudara. Yap, penuh padat satu mobil, makin ramai kan makin seru.

Antara percaya dan kurang percaya hari sebelumnya saya mendapat kabar dari saudara kalau mereka ga bisa masuk ke Lembah Harau karena penuh. Dan jalan menuju ke sana macet. Masa sih? Hehe..saya sih udah biasa dengan kemacetan ibukota. Hmm..macetnya Sumatera mau segimana? Hahaha

Sekitar 30 menit perjalanan menuju lokasi lancar jaya. Laju kendaraan mulai mampet ketika mobil pribadi yang didominasi plat BM berjajar panjang. Sekitar 15 menit betul-betul mandek. Majunya ga berarti, olalaaa..rupanya kendaraan bertumpuk di satu jalur menuju Lembah Harau dan Pekanbaru. Tapi memang mobil mendominasi menuju jalur Pekanbaru.

Yeaaay jalan menuju Lembah Harau kembali lancar. Di pintu masuk kami melihat banyak pemuda yang berlarian menuju wisatawan yang masuk. Kaget, saya kira ada kerusuhan atau pemerasan, rupanya memang pemuda setempat sebagai petugas tiket sebelum gerbang pembelian tiket resmi 😅. Maklum emak-emak banyak parnonya. Tiketnya Rp5.000,00/orang.

Di sepanjang kawasan Lembah Harau banyak home stay yang berdiri. Sungguh pemandangan yang berbeda dibandingkan 5 tahun lalu. Juga terdapat Kampung Inggris yang dibina oleh pengajar Kampung Inggris dari Pare. Tidak hanya ini, geliat wisata Lembah Harau semakin berkembang dengan adanya Insan Cendikia Boarding School. Saya turut bangga dengan inovasi ini memberi inspirasi bagi semua di sektor wisata dan pendidikan.

Laju kami terhenti pada spot wisata pertama yang disuguhi oleh hamparan lembah-lembah dan sampan-sampan. Pukul 9.00 berada di lokasi rupanya sudah penuh dipadati pengunjung. Saya pikir, kami pengunjung pertama yang datang 😅

“Bunda ingat ga itu rumah gadang tempat kita foto-foto dulu?” Saya mulai kebingungan, karena di sebelahnya rumah gadang kini jauh berbeda.

Hamparan yang luas ini disulap menjadi kampung Eropa. Di sana terdapat replika icon kota Paris, Menara Eifell. Kincir angin Belanda dan lanmark Inggris. Di kampung Eropa inilah pengunjung ramai sekali. Tiket masuknya seingat saya Rp20.000,00/orang. Spot bagian kanan dekat sungai ada tempat penyewaan baju seperti baju Korea.

Suasana terik Lembah Harau siang itu membuat kami tidak bisa berlama-lama. Wisatawan membludak sedangkan cuaca panas sekali. Akhirnya kami singgah di sebuah warung sekitar karena kebetulan pada keroncongan juga.

Karupuak mie kuah sate, ada yang pernah nyicip? Salah satu makanan khas Minangkabau yaitu kerupuk ubi atau opak yang digoreng kemudian dikasih kuah sate dan mie. Pak suami dengan sigapnya ngambil kerupuk dan disiram kuah sate, kebetulan sekali mienya habis. Beliau baru pertama kali makan ini, enak sekali begitu kata bapak pencinta sate Padang ini 😄 Meskipun di tempat wisata, harga tidak terlalu tinggi menurut saya, kerupuk kuah sate dibandrol seharga Rp3.000,00, nasi goreng telor Rp15.000,00.

Destinasi kami selanjutnya adalah naik sampan. Ini adalah permintaan Yaqdzan naik tank keliling sungai bersama ayah. Tiketnya Rp30.000,00 sedangkan sampan Rp20.000,00. Di sekitar sini saya melihat ada kegiatan painting juga bagi anak-anak dan sepeda gantung di kampung Eropa.

Di tempat lain ada pemandangan air terjun, ternak kelinci, dan balon air. Kami tidak menghabiskan waktu hingga sore di Lembah Harau. Karena berencana akan melanjutkan perjalanan ke jam gadang Bukittinggi.

“Aura Lembah Harau kini tertutup oleh wahana baru. Keindahan alamnya kini tak seindah dulu,” begitu tutur suami yang pernah berkunjung 5 tahun lalu. Iya, saya sepakat. Tebing-tebing tinggi yang menjadi ciri khas Lembah Harau tak utuh dalam pandangan seperti dahulu. Hamparan alam yang betul-betul murni kini bercampur dengan budaya-budaya luar. Mungkin pemerintah bisa menambah wisata khas Minang agar berimbang.

Hilang Minang, tingga kabau. Begitu kiasan orang Minang. Salah satunya yuk kita lestarikan budaya yang ada.

Padang, Juni 2019

*Foto kerupuk diambil dari Google, lainnya dokumentasi pribadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *