Our Story,  Travelling

Mudik paling Dilema, Tiket Pesawat Termahal

Ramadhan cita baru setelah 2 tahun di perantauan, sungguh saya rindu suasana hangatnya ramadhan di Indonesia. Mesjid-mesjid terbuka di mana-mana menyemarakkan kajian, tadarus, maupun kegiatan anak-anak. Anak-anak berlarian salat ke masjid dan kegembiraan mereka terlihat saat menikmati takjil yang disuguhkan masjid. Masya Allah Tabarakallah..

Hingga Idul Fitri pun datang, mudik ke kampung halaman begitu didambakan. Meskipun November tahun lalu kami pulang kampung, maka lebaran ini kami memutuskan untuk kembali mudik.

Mudiknya kemana? Ke Padang. Saya asli Minang, ibu Minang dan bapak Jawa sih tapi memang stay di Padang, tepatnya di taratak kubang, kabupaten 50 kota. Mungkin nama desa ini ga ada yang tahu, maklum di gunung 😁 Alasan utama pulang kampung adalah buat nyenengin orang tua, saya kalau pulkam biasanya bablas 1 bulan an bersama anak-anak, sedangkan ayahnya balik duluan. Kesempatan inilah yang dikejar sebelum Yaqdzan jadi anak sekolahan Juli nanti.

Ada yang mudik via jalur udara juga lebaran ini? Gimana mak, nangis atau nangis histeris 😭 Ga nyangka banget kalau harga tiket pesawat dahsyat sekali. Dari sebelum pemilu saya mulai hunting, harganya lumayan tinggi. Berharap ada kebijakan segar setelah pemilu, rupanya harapan itu kandas dan harga tiket makin melambung tinggi. Mahalnya harga tiket ga cuma rute Jakarta-Padang tetapi seluruh pesawat domestik melambung tinggi.

Lalu apa solusi dari harga tiket yang mahal? Bagi kami ga ada solusi apa-apa. Bismillah, mudik tetap jalur udara. Sebagian besar pemudik tampaknya memilih jalur darat, entah naik bus atau membawa mobil sendiri. Sayang sekali, opsi ini belum tepat saat ini.

Saya yakin pilihan untuk tetap mengunjungi orang tua, walaupun menghabiskan tidak sedikit materi tetapi tidak sebanding dengan kebahagiaan yang hadir. Semoga niat baik menyenangkan orang tua, Allah limpahkan banyak keberkahan selanjutnya.

Tiket domestik semahal apa sih? Teman-teman mungkin ada yang ga percaya, kalau tiket ke negara tetangga masih lebih murah loh. Bahkan tiket domestik setara dengan tiket promo lintas Eropa. Woow banget. Namun saya masih bersyukur kalau harga tiket yang kami dapatkan lebih rendah dibandingkan beberapa hari menjelang keberangkatan, menembus 9 juta one way/orang jelang lebaran. Fiuuh!

Belajar dari pengalaman mudik lebaran sekarang, ke depannya waktu mudik mungkin harus direncanakan jauh-jauh bulan. Hunting tiket lebih awal, cek kalender libur sekolah dan kerja. Dan sisihkan budget mudik dari sekarang.

Anyway saya teringat sebuah hadist;

“Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2067].

Arus balik sudah sepi, orang-orang sudah balik ke perantauan. Selamat mengais rezeki bersama keberkahan. Selamat bermuhasabah. Semoga jejak-jejak ramadhan tidak hilang. Selamat puasa Syawal 🙂

Padang, Juni 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *