Cerita Yaqdzan & Faiha,  Our Story,  Yaqdzan & Faiha

The Power of Rp2.000,00

“Bunda aku pengen punya uang banyak, mau beli sepatu roda dan mobil remote,” ujar si sulung sesaat membuka sebuah kardus.

Rupanya sebuah mobil remote boyongannya dari Eindhoven sudah tidak berfungsi lagi.

“Aku mau jualan aja, kartu-kartunya dijual di Al arif nanti bakal dapat uang,” lagi-lagi si sulung mengoceh dan membundle kartu-kartunya yang biasa dibeli sama abang gerobak akan dijual per Rp1.000,00, Rp2.000,00.

“Kamu kemahalan, ga ada yang beli coba ditambahin lagi kartunya,” sahut sepupunya.

Begitu celoteh anak-anak siang itu.

******************
Sejak kecil kami memang membiasakan anak-anak untuk tidak jajan di luar. Si sulung ga biasa pegang uang, apalagi ketika usia 0-4 tahun memang tidak sekolah dan tidak punya teman bermain yang bebas keluar masuk rumah. Di Belanda? jelas anak-anak jajan sendiri tidak memungkinkan, begitu juga sekolah tidak menyediakan kantin untuk anak.

Well, realita pulang ke tanah air jauh berbeda. Si sulung sudah semakin mandiri, sudah bisa ke warung membantu bunda membeli sesuatu. Dan rupanya ke warung sayur buat dimintain tolong beli sayur sesuatu yang menyenangkan baginya. Di sekitar tempat tinggal kami banyak abang-abang gerobak yang pada nongkrong misalnya saja para penjual cireng, papeda, somai dll. Saya jelaskan pada si sulung untuk tidak jajan sembarangan. Alhamdulillah ajakan ini direspon dengan baik.

Tetapi ada satu hal yang lebih menggoda bagi Yaqdzan yaitu jajan mainan sama abang gerobak. Mainannya murah-murah sih, paling seharga Rp2.000,00-Rp5.000,00. Padahal di rumah mainan sudah lebih dari cukup. Ya namanya juga anak-anak, paling senang melihat sesuatu yang baru akhirnya pengen beli. Akhirnya receh-receh yang berserakan di meja sering dipakai si sulung. Larangan-larangan sang bunda terkadang tidak mempan lagi, terlebih jika ajakan itu kuat datangnya dari luar dan itu sepupu sendiri. Sejak itu robohlah pertahanan saya untuk mengajak anak tidak jajan di luar.

Akhirnya saya dan suami berdiskusi, saya masih menginginkan anak untuk tidak jajan di luar sedangkan suami sedikit berbeda. Akhirnya diskusi alot ini menghasilkan kalau Yaqdzan tiap hari akan dapat jatah uang saku senilai Rp2.000,00. Yeaaaay, anaknya bahagia banget. Biar Yaqdzan bisa manage uang sendiri begitu alasan utama sang ayah.

Maka ketika pagi tiba, tampaknya saat-saat yang ditunggu oleh si sulung. Uang kertas yang bergambar seorang pangeran itu, dia genggam kemana-mana. Sampai ada drama uang hilang, mencarinya heboh bukan main rupanya nyungsep di dalam kulkas 😅

Uang jatah harian ini adalah milik Yaqdzan, boleh digunakan apa saja. Oke, kami sepakat. Dan sejak punya uang sendiri saya melihat Yaqdzan kok ga pernah jajan mainan lagi. Rupanya uangnya dikumpulkan dan ditabung, direncanakan untuk membeli mobil remote dan sepatu roda. Begitu saya mendengar dari ayahnya. Memang dua barang ini sudah sejak lama Yaqdzan inginkan. Untuk sebuah mobil remote, tentu bunda ga akan belikan begitu saja. Yaqdzan pasti tau hehe..

Ibu-ibu gimana reaksinya? “Ah emang bakal kebeli, nabung cuma Rp2.000,00 sehari. Mobil remote kan mahal,” gumam saya ketika itu. Ada yang sama? hahaha… Yang jelas saya udah mulai lega kalau jajan bukan pilihan si sulung lagi.

Uang jatah harian disimpan di dalam kaleng, kadang berpindah tempat masuk ke dalam dompet kertas buatannya. Lalu berganti ke dalam amplop dan dompet. Siklusnya setiap minggu hampir seperti ini. Dan uang kertas perolehannya dihitung setiap hari, kadang 3x sehari sampai bundanya bosan 😂

Dari sini saya belajar sabar, rupanya si sulung sedang mengenal mata uang rupiah. Ingin mengetahui nilai mata uang, belajar penjumlahan dan pengurangan. Dari yang tidak tau apa-apa, sekarang jadi lihai terhadap uang.

Jadi uang jatah harian masih ditabung atau dijajanin? masih ditabung 😅 Alhamdulillah tsuma Alhamdulillah, di bulan Syawal ini mainan idamannya tercapai. Sang bunda yang awalnya menyepelekan kini jadi senyum-senyum sendiri. Si sulung begitu konsisten menabung hanya dengan Rp2.000,00/hari sekitar 4 bulan menabung hingga cita-citanya tercapai.

Maka dari kisah ini saya menyebutnya the power of Rp2.000,00. Jangan pernah sepelekan suatu niat baik dan suatu kebaikan. Iringilah dengan kerja keras yang tak putus. Konsisten, optimis, dan semangat kuncinya. Barakallah Mas, bahagianya tak terhingga. Sekarang gaya benar celengan penuh THR dan uang jualan nabati 😂 maka selanjutnya Bunda akan komporin buat sedekah ya 😆

Padang, Juni 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *