Cerita Yaqdzan & Faiha,  Yaqdzan & Faiha

Mengapa Balance Bike Menjadi Pilihan?

Siang itu langit Eindhoven biru membentang, matahari benderang membakar kulit. Musim panas tampaknya selalu dinantikan penduduk lokal. Lain halnya dengan kami pendatang, di saat musim panas datang berdiam di dalam rumah terasa lebih nyaman.

Kami mengayuhkan kaki menuju Rode Kruislaan. Rumah berbata merah yang tidak jauh dari halte yang kami singgahi. Kami berjanji dengan penduduk lokal sana, untuk mengambil sebuah balance bikenya.

Begitu awal mulanya, saya bertemu balance bike. Ketika itu Faiha berusia 1,5 tahun, kami memang berniat akan memboyong balance bike ini ke tanah air.

Balance bike sering disebut juga dengan push bike, kick bike yaitu sepeda keseimbangan tanpa pedal, tanpa rantai yang didesain untuk anak-anak. Sepeda ini didesain untuk memudahkan anak-anak usia dini belajar sepeda.

“Eh..eh kok sepedanya ga ada pedalnya sih? Anaknya masih kecil kenapa diajarkan sepeda roda 2?” Ibu-ibu jangan heran, kalau banyak yang bertanya demikian. Saya pun mengalami hal yang sama. Mungkin karena balance bike belum familiar di tanah air, sepeda ini sepertinya baru famous di kalangan tertentu. Begitu pengamatan singkat saya. Sedangkan di luar negeri balance bike tidak asing lagi. Di Eindhoven saya sering berpapasan dengan anak-anak yang memakai balance bike. Anak-anak usia 2 tahun sudah sigap meluncurkan sepeda keseimbangan sendiri, kok lucu dan menggemaskan gitu.

Balance bike bisa digunakan mulai usia berapa sih?

Sejak anak sudah bisa berjalan kuat atau berlari. Sekitar usia 18 bulan sudah bisa dengan syarat kedua kaki sudah menapak ke lantai. Karena balance bike sendiri didesain dengan roda 12 inci, frame sepeda rendah, dan ringan. Balance bike ini bisa digunakan sampai usia anak 5-6 tahun.

Kenapa memilih balance bike?

Si sulung ketika usia 4 tahun mulai menggunakan sepeda roda 2, dengan ditambahkan roda kecil sebagai bantuan. Gowesnya sih cepat, tapi dengan menggunakan roda bantu tidak ada keseimbangan yang berarti. Sampai akhirnya roda bantunya patah, nyangkut di trotoar. Waduh, akhirnya roda bantunya saya lepas semua dan Yaqdzan tidak ada pilihan lain yaitu harus menggunakan sepeda dengan keseimbangan sendiri.

Sore itu si sulung ada jadwal Logopedie (les bahasa Belanda), pilihannya berjalan kaki atau membawa sepeda tanpa roda bantu. Yaqdzan memilih naik sepeda dengan jarak 600 meter dari rumah.

“Yuk, sepedanya dikayuh dengan kaki, pedalnya ga usah dipakai, ” begitu saya mengajak si sulung.

Ayuhan sepeda pun berjalan cepat karena gerakan kakinya yang kuat. Siapa duga perjalanan pulang dari les, Yaqdzan sudah mulai mencoba menggowes. Sesekali hilang keseimbangan kemudian terus berlatih untuk menikmati arahan dan menyeimbangkan badan. Akhirnya, Yaqdzan lancar menggunakan sepeda roda dua dalam waktu 1-2 hari.

Semenjak itu saya semakin mantap akan mengajarkan adik F untuk menggunakan balance bike ini.

“…Kita dapat melihat manfaat-manfaat yang diperoleh dari kegiatan olahraga. Aktivitas-aktivitas fisik semacam itu tidak hanya baik bagi kesehatan fisik, tetapi juga mendorong keberanian dan kepercayaan diri…” (Maria Montessori hal 137)

Manfaat balance bike

1. Merangsang motorik kasar

Saya dianugerahi dengan dua anak yang tidak “petakilan”. Anak-anak aktif, tapi tidak panjat sana sini, lari sana sini. Percaya ga? Dibalik pada umumnya anak-anak konon katanya ga bisa diam. Untuk itu saya merasa punya effort lebih untuk mengembangkan motorik kasar anak-anak.

Ketika awal mula datang ke Belanda, Yaqdzan adalah anak yang paling rendah kemampuan motorik kasarnya, begitu penuturan dari gurunya. Oke, ini adalah suatu kewajaran karena memang motorik kasarnya tidak dominan dan arena bermain untuk menstimulasi motorik kasarnya kurang luwes. Solusinya apa? Saya harus merelakan waktu untuk mengantarkan anak ke playground, bersepeda, bermain scooter dll. Enam bulan di Belanda saya merasakan progress yang luar biasa akan motorik kasar Yaqdzan. Kemampuan motorik kasarnya bahkan setara anak-anak Belanda.

Maka balance bike adalah usaha saya untuk menstimulasi motorik kasar adik Faiha.

2. Mengasah konsentrasi

Anak-anak yang mengendarai balance bike akan terasah konsentrasinya karena adanya koordinasi mata, tangan, badan, dan kaki.

3. Terlatih untuk menghadapi tantangan

Ketika bersepeda selain membutuhkan koordinasi mata, badan, tangan dan kaki. Anak juga berhadapan dengan kondisi jalanan, entah belok kanan, kiri, turun, naik.

4. Tak sekedar menstimulasi motorik

Rupanya mengendarai balance bike tidak hanya sekedar menstimulasi motorik. Tetapi juga ada sinergi antara otak kanan dan kiri, rasa ingin tahu anak, serta kreatifitas.

5. Melatih kemandirian

Dengan berlatih terus menerus anak akan mencapai titik keseimbangan yang baik. Mampu mengatur gerak sepeda sendiri bahkan mampu mengangkat balance bike itu sendiri karena desainnya yang ringan.

Bagaimana cara mengendarai balance bike?

Dari namanya balance bike adalah sepeda keseimbangan, jadi diperuntukkan untuk melatih keseimbangan bukan untuk menggowes. Cara mengendarainya, dengan mengayunkan atau mendorong kaki ke tanah seperti berlari atau berjalan. Karena mengandalkan kaki itulah kenapa kaki harus menapak di tanah. Secara perlahan anak akan memiliki insting untuk keseimbangan.

Lalu disaat meluncur anak menaruh kaki dimana? Secara spontan anak biasanya akan mengangkat kakinya dan ketika akan terjatuh anak-anak akan otomatis menurunkan kakinya ke tanah hingga tidak jatuh. Tetapi ada juga balance bike didesain dengan disertai pijakan.

Buat saya balance bike merupakan sepeda yang sangat respect our child. Betul-betul didesain sesuai postur anak. Dan Si kecil Faiha adalah pengendara balance bike yang masih pemula. Kami akan terus berlatih, semoga minggu pagi adalah waktu yang selalu ada untuk berkunjung ke stadion untuk bermain balance bike.

Jakarta, Juli 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *