Cerita Yaqdzan & Faiha,  Yaqdzan & Faiha

Serba-Serbi Hari Pertama Sekolah

Akhirnya hari pertama sekolah si sulung tiba, anak yang mulanya “berlabel” homeschooling tergantikan menjadi anak sekolahan. Senang atau sedih ya ibu-ibu?

Mengikuti wajib sekolah dasar (bassischool) dari usia 4 tahun hingga 6 tahun di Belanda, menjadi pengalaman tersendiri bagi si sulung. Anak yang biasa sehari-hari berkegiatan bersama sang bunda, tiba-tiba harus sekolah full day. Dan ketika pulang ke tanah kembali ke rumah. Hingga setelah 9 bulan kami memutuskan untuk homeschooling, kini Yaqdzan kembali ke sekolah. Terimakasih sudah menjadi murid Bunda selama 9 bulan ini, Mas.

Tapi bukan berarti program homeschooling yang kami jalankan di rumah juga hilang karena sudah diserahkan kepada sekolah. Sebaik-baik program sekolah, waktu kebersamaan orang tua dan anak tidak akan bisa tergantikan oleh sekolah. Ini yang saya dan suami sepakati.

“Kita bikin program lagi yuk buat Yaqdzan,” begitu lontar sang ayah. Saya tidak tau seberapa efektifnya mendampingi Yaqdzan selama ini, sungguh khilaf dan salah banyak saya lakukan. Semoga Allah terus membimbing peran orang tua ini, mengantarkan anak-anak hingga ke JannahNya.

Hari-hari biasa selama keberadaan Yaqdzan di rumah, saya banyak terbantu terutama saat menjaga sang adik. Walaupun anak laki-laki, Yaqdzan sosok yang tidak pernah sungkan untuk membantu memenuhi kebutuhan adiknya, menghibur sang adik, melatih adik naik balance bike, dan mengajak adik bermain. Hingga minggu pertama sekolah pun datang, segala aktivitas harian berubah. Sang adik kesepian selama Masnya sekolah dan saya harus sebaik mungkin membagi waktu dalam menyelesaikan urusan domestik rumah. Pagi hari dimulai dari menyiapkan sarapan, bekal si sulung, beberes rumah, dan menjemput sekolah, tentunya semua kegiatan ini dilakukan bersama sang adik. Sungguh 3 hari ke belakang saya tepar sekali 🤣

Kerempongan itu memuncak ketika sang kakak yang sekolahnya hanya 2,5 jam di minggu pertama ini. Pukul 7 berangkat bersama ayah dan pukul 10 kembali dijemput bunda. Jarak tempuh rumah ke sekolah memang tidak jauh hanya sekitar 500 meter, qadarullah tidak dilalui angkot. Lagi-lagi tidak ada bedanya dengan kondisi di Belanda, Yaqdzan pulang sekolah jalan kaki.

Saya teringat betul suatu ketika suami melontarkan begini “semoga di Jakarta nanti Ayah masih bisa ngantar Yaqdzan sekolah ya”. Rupanya mengantar sekolah suatu kenikmatan bagi sang ayah. Atas izinNya rencana ini terwujud. Barakallah bapak suami 😊 Moment mengantarkan anak sekolah, sungguh meringankan pekerjaan saya seperti halnya moment memandikan anak-anak dan membantu membuang sampah.

“Mas gimana besok jadi sekolah? Berani ga? Nanti bakal nangis ga?” ledek Bunda siang itu. “Jadilaah,” sahut si sulung dengan gembira. Memang saya melihat Yaqdzan sudah siap untuk duduk di sekolah dasar. Di usianya yang hampir menginjak 7 tahun (Agustus), ada kesiapan mental yang terlihat, ada kemandirian yang memahat. Begini toh, sorot mata anak 7 tahun, tajam, sigap. Begitu saya menyebutnya. Saya bukan bermaksud mengatakan kalau Yaqdzan anak serba pandai sudah bisa membaca misalnya. Tidak, sama sekali tidak. Tetapi hasil observasi saya dan mensinkronkan dengan teori psikologi, anak usia 7 tahun memang secara fisik, psikologi, kognitif, dan emosi sudah matang.

Yuk kita bahas apa yang Kemendikbud lontarkan. Ada 4 aspek yang menjadi pertimbangan Kemendikbud dalam menetapkan usia bersekolah yaitu 6,5 tahun – 7 tahun (usia 7 tahun lebih baik).

1. Aspek fisik

Ditinjau dari aspek fisik, anak pada usia 7 tahun memiliki otot dan saraf yang telah terbentuk, juga gerakan motorik yang lebih baik. Oleh karena itu, mereka sudah mampu untuk bertahan di dalam kelas dari pagi hingga siang dan mengikuti pelajaran yang diberikan. Mereka pun bisa menggunakan alat tulis sendiri tanpa dibantu lagi oleh guru atau orang tua.

2. Aspek psikologi

Anak usia 7 tahun memiliki kemampuan konsentrasi yang cukup untuk memerhatikan guru di kelas (lifeskills4kids.com.au). Secara psikologi, rentang konsentrasinya meningkat sekitar 30-45 menit.

3. Aspek kognitif

Ketika sudah masuk SD anak sudah mulai menulis, membaca, dan berhitung. Tak hanya ini, anak diharapkan mampu dan faham dengan instruksi yang ada.

4. Aspek emosi

Aspek ini adalah paling utama. Kenapa? Meskipun anak sudah bisa calistung namun aspek emosi harus diperhatikan, apakah anak sudah mandiri, dan bisa diajak kompromi untuk belajar misalnya. Sedangkan pada usia 7 tahun, emosi anak sudah berada pada tahap yang lebih matang. Dengan begitu, mereka lebih bisa mandiri, membedakan waktu belajar dan bermain, serta mampu mengerjakan tugas yang diberikan.

Dari aspek diatas, kami sepakat ingin menunggu Yaqdzan hingga 7 tahun untuk masuk jenjang sekolah dasar, menunggu ke 4 aspek tersebut lebih matang. Ini yang sudah kami rencanakan sejak dahulu.

Jadi hari pertama sekolah ngapain aja?

Si sulung sudah excited sekali ingin mengenakan sepatu hitam yang dianjurkan sekolah. Kebetulan hari senin lalu, anak-anak berkumpul jam 8.00 di halaman sekolah. Tentunya momen pertama sekolah saya tidak akan melewatkan begitu saja. Terlebih sang ayah menyediakan hari spesial bagi Yaqdzan, ayah cuti bekerja di hari pertama sekolah.

Memang 1 minggu pertama anak-anak masih dalam masa perkenalan, berpakaian bebas muslim dan membawa bekal. Pagi itu dimulai dengan upacara serta perkenalan guru pada anak-anak. Tak lupa lagu Indonesia Raya ikut berkobar. Saya sebagai orang tua yang sudah lama sekali menyaksikan lagu kebangsaan ini turut haru dan syahdu. Sedangkan bagi Yaqdzan sepertinya kali pertama mendengarnya.

Saya melihat banyak orang tua yang hadir saat upacara ini, walaupun bukan diwajibkan. Tetapi terlihat bagaimana kepedulian orang tua terhadap anak-anak. Juga himbauan Bapak Gubernur Jakarta, agar orang tua memberikan waktu yang spesial di hari pertama sekolah anak untuk turut mengantarkan anaknya sekolah. Masya Allah Tabarakallah.

Kegiatan sekolah pun dilanjutkan dengan sebuah game mencari kelas masing-masing. Akhirnya Yaqdzan sudah menempati posisi bangku di kelas. Pembagian kelas ini berdasarkan hasil psikotest anak beberapa bulan lalu, salah satunya gaya belajar. Sampai sekarang saya belum tahu betul bagaimana hasil psikotestnya karena masih menunggu sosialisasi pihak sekolah.

Ya beginilah pengalaman hari pertama sekolah Yaqdzan. Ketika saya mundur mulai meninggalkan lingkungan sekolah, tidak ada kekhawatiran pada raut wajahnya. Memang teman-teman sebaya masih ada yang menangis ditinggal orang tuanya. Yaqdzan anak laki-laki yang tidak banyak bicara, sepertinya pemalu tapi sekarang saya melihat sudah bisa menempatkan malu sesuai kondisi.

Barakallah Mas, selamat thalabul ilmi dan bersenang-senang di sekolah.

Jakarta, Juli 2019

2 Comments

  • Bunga Lompat

    Saya belum punya anak, jadi mungkin masih hanya ‘membayangkan’ bagaimana rasanya mengantar anak sekolah untuk pertama kalinya. Tapi adik saya banyak hehe, jadi sering antar berangkat sekolah. Dan yaa mungkin seperti ayah Yaqdzan, memang ada kepuasan (?) atau mungkin lebih tepatnya ada kebahagiaan mengantar adik ke sekolah.

  • Kartika

    Selamat bersekolah Mas Yaqdzan. Semangat yaa belajarnya

    Aku baru tau mba tentang usia 7 dan kesiapan fisik dan mentalnya. Ternyata itu ya alasan negara punya peraturan tersebut. Tapi kenapa di”lewatkan” yang disebagian besar sekolah swasta? Hmmm…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *