Serba serbi menulis

Sharing Buku Antologi Ke-2, Rona Kota dan Kenangan

Beberapa tahun silam saya memberanikan diri untuk bermimpi ingin jadi penulis. Padahal menggeluti dalam dunia menulis aja masih baru. Masih blogger newbie, yang ingin mengukir memori dan meraup hikmah dalam setiap perjalanan. Eyd saja masih banyak salahnya dan sambungan antar kalimat banyak ga nyambungnya.

Sering loh, tulisan blog saya dikritisi suami hanya tanda bacanya kurang tepat, ga enak dibaca. Jadilah sebelum post di blog saya setor ke beliau untuk mendapat masukan dulu. Saya tau suami bukan seorang penulis atau blogger, update Instagram aja jarang tapi mungkin nilai bahasa Indonesia saya yang kacau😅 Sungguh mimpi untuk menjadi penulis buku masih jauh perjalanannya.

Siapa sangka, ketika itu dari ngeblog saya mendapat ajakan menulis bareng. Temanya dari kisah para ibu-ibu perantauan di 5 negara 3 benua. Kaget? Senang? Deg-deg an? Iya, nano-nano deh. Tapi semangat udah gitu aja, walaupun ga pede juga. Qadarullah rencana ini belum Allah izinkan. Jujur saja saya sedikit kecewa sebetulnya (maaf ya teman-teman 🤗). Maklum saja, sesuatu yang diimpikan datang, sudah dijalani namun belum jalannya. Dari sini saya belajar, sebaik-baik apa ikhtiar kalau belum atas izinNya maka terimalah, ikhlaslah, dan carilah jalanNya yang lain. Barakallah ibu-ibu semua, yang hingga kini selalu disibukkan dalam kebaikan.

Lalu gimana? berhenti menulis? tidak, Alhamdulillah blog masih terus digarap. EYD mulai ada perbaikan. Komentar pak suami tak terlalu sengit 😂 Saya tidak tau dari jalan yang mana dan kapan peluang untuk menulis buku itu datang. Yang terpikir saat itu saya terus menulis aja di blog, tentang apapun itu. 1 week 1 blog, ini yang saya usahakan.

Hingga akhir tahun lalu, ketika pulang ke tanah air peluang menulis itu semakin luas. Informasi kepenulisan dan seminar menulis semakin banyak saya temui. Mulai dari ikut challenge menulis 30 hari tanpa henti, ikut kopdar menulis dll. Alhamdulillah lahirlah buku antologi pertama saya bersama teman-teman 30 DWC yang berjudul Change! The New Me.

Dan tidak disangka, project menulis bersama pejuang literasi bersamaan dengan 30 DWC. Yang sebetulnya karya antologi pertama yang saya rencanakan adalah pejuang literasi ini. Qadarullah karya antologi 30 DWC lebih dahulu terbit. Alhamdulillah tsuma Alhamdulillah..

Jadi karya antologi yang kedua ini gimana? Berbayar?

Sama sekali tidak berbayar, alias free. Siapapun boleh ikut, dengan catatan harus komitmen dengan aturan yang ditetapkan. Salah satunya setiap kontributor wajib berpartisipasi membeli buku 3 pcs saat dicetak. Kontributornya sekitar 19 orang. Setelah naskah setiap peserta rampung maka akan ada proses editing dan revisi dari tim pejuang literasi. Selanjutnya Tim akan mengerjakan layout dan cover. Terakhir hasil penjualan akan didonasikan ke lembaga amal. Masya Allah Tabarakallah..

Dari sini saya belajar, jangan pernah malu untuk bermimpi. Karena impian sering pupus karena prasangka negatif yang terakumulasi. Barangkali dari mimpi-mimpi yang terwujud jadi amal jariyah yang berarti.

Sekali lagi terimakasih banyak kepada tim pejuang literasi yang sudah bersabar dan membantu dengan totalitas hingga buku ini terbit. Semoga setiap gerakan jemari dalam prosesnya, menjadi amal kebaikan. Btw bagi teman-teman yang berminat nantikan project pejuang literasi selanjutnya ya, monggo cek di Instagram @markaspejuangliterasi.

Oh iya buku Rona Kota dan Kenangan masih ada stock ya, monggo yang berminat bisa kontak saya. Buku ini merupakan kisah inspirasi setiap penulis pada image kota yang beredar di masyarakat, peristiwa yang terjadi dikemas dengan apik dan asik serta dibumbui cerita fiksi 🤗

Jakarta, Juli 2019

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *