Cerita Yaqdzan & Faiha,  Yaqdzan & Faiha

[Sharing] Ikut Kompetisi Lego Jakarta

Yeaay..akhirnya kami mengantarkan Yaqdzan untuk mengikuti sebuah ajang kompetisi lego. Sudah sejak lama ingin mengikuti acara lego entah workshop, komunitas atau kompetisi di Indonesia. Tentu saja semuanya dengan penuh pertimbangan. Karena event lego sendiri tidak murah di tanah air, untuk mendapatkan lego sendiri butuh budget yang lumayan. Akhirnya kompetisi lego ini menjadi pilihan kami.

Memang ada komunitas lego di Indonesia? Apakah Ada event lego? Begitu pertanyaan dari teman-teman. Maka saya akan coba ulas dari pengalaman kami kemaren.

Sebetulnya kalau ingin bermain dan berkreasi lego, di rumah sudah lebih dari cukup buat Yaqdzan. Karena kami memang memutuskan memboyong aneka lego dari rantau, mulai dari lego curah, lego creator, teknik, city, friend dll insya Allah akan bermanfaat sampai anak-anak besar. Mau nyari teman untuk bermain lego? tiap sore rumah kami sudah menjadi club lego bagi Yaqdzan, sepupunya, dan anak-anak tetangga. Bahagia saya bertambah ketika lego curah berlipat-lipat manfaatnya.

Let’s construct with lego for kids, begitu selembaran yang saya baca. Acara ini diadakan oleh ikatan arsitek Indonesia yang bekerja sama dengan komunitas lego Indonesia. Karena lego sendiri merupakan bagian dari kegiatan arsitektur anak-anak, bentuknya seperti bata, jadi menyusun bata/lego merupakan kegiatan dasar membangun yang berhubungan dengan arsitektur.

Acaranya berlangsung dari pukul 13.00-16.00, peserta lomba sekitar 60 orang dibagi 4 bacth, (1 bacth sekitar 15 orang). Lokasinya di mana? Di ruang seminar 2 Jakarta Convention Center (JCC). Begitu masuk ruangan, peserta sudah ramai berdatangan, kami telat 30 menit dari yang dijadwalkan tetapi event lomba belum dimulai.

Event lomba lego ini sendiri ada disisi kanan yang akan dipandu oleh panitia. Sedangkan dibagian kiri ada acara seminar dari arsitektur Indonesia. Di ruangan sebelahnya juga ada seminar, jadi memang agak berisik dan ramai.

Oh iya kemaren Yaqdzan registrasi via online, jadi pas datang tinggal laporan dan dikasih name tag peserta lomba. Anaknya senang bangeeet. Tiketnya Rp100.000/anak. Pendamping tidak dikenakan biaya.

Aturan main lomba

Jadi setiap batch sekitar 15 orang anak akan dipanggil panitia untuk berkumpul mengelilingi lego. Temanya kontruksi, anak bebas membuat bangunan apa saja. Yang menjadi point penilaian utama, bangunannya harus jelas dan warnanya senada gitu. Anak-anak akan dikasih kesempatan 15 menit untuk menyelesaikan ini. Pesertanya usia 5-12 tahun, jadi memang dari usia variatif sekali. Ada beberapa yang seusia Yaqdzan dan kebanyakan usia atas.

Yeaay, perlombaan pun dimulai. Sebelumnya saya sudah kasih tau Yaqdzan aturan main kompetisi ini. Walaupun anaknya ngeyel, “kalau bikin pesawat gimana? mobil boleh ga?” 🤣

Ketika lomba berlangsung rasanya saya gatel buat ngomong, ayo Mas cepetan, cuma 15 menit. Tapi saya tahaan..tahaan 😆 karena 15 menit itu sebentar atau lama, Yaqdzan sendiri ga terlalu paham. Saya berusaha untuk tidak mendistrak anak ketika lomba berlangsung. Walaupun ada aja, ibu yang ga santai nge push anaknya pakai mata dan alis wkwkwk

Bukan..bukan, saya datang ke sini bukan untuk meraih kemenangan ataupun kekalahan. Memutuskan ikut kompetisi ini ingin mengajarkan Yaqdzan untuk semangat dalam berjuang, berkumpul dengan teman-teman yang punya minat yang sama. Bagaimana hebatnya kita kalau bukan karena Allah maka kita bukan siapa-siapa. Begitu juga kalau bukan jadi pemenang, ada kelapangan hati dan semangat yang tak pudar.

Kata-kata mujarab ini keluar setelah Yaqdzan juara 3 lomba kelereng 17 agustus kemaren. Anaknya senang banget, kayanya nagih dapat hadiah. Dan ketika event lego ini kayanya berharap kalau akan dapat hadiah lagi.

Selama lomba berlangsung, panitia memperhatikan karya-karya peserta. Kemudian ada tim photographer yang mengambil gambar. Bagaimana penilaiannya? Dari awal merakit sebetulnya setiap anak sudah mendapat penilaian dan diperhatikan satu per satu. Jadi udah kelihatan karya yang sesuai dengan tema. Setelah waktu habis, beberapa karya anak-anak diambil oleh panitia untuk dipajang dan itulah karya-karya terbaik.

Bagi yang tidak terpilih, disesi terakhir setiap anak dipersilakan untuk memamerkan legonya masing-masing. Karyanya Yaqdzan? Tidak terpilih begitu juga sepupunya. Alhamdulillah pada happy, sebuah bangunan kantor polisi yang belum selesai dibuat Yaqdzan sudah membuat kami bangga. Bagaimana tertib dan fokusnya Yaqdzan ketika mengikuti acara. Padahal ada beberapa anak yang ikut nimbrung (bukan peserta lomba) yang disuruh ibunya, lalu ibunya foto-foto. Saya tidak tau maksudnya apa, tapi sempat ingin menegur dan melapor pada panitia tapi karena berisik ga begitu kedengaran. “Ikut aja..Ayo ikutan”, begitu yang saya dengar dari ibunya. Saya tidak tau apakah mereka bagian keluarga dari Komunitas Lego Indonesia (KLI) atau bukan, yang jelas saya kecewa pada sikap panitia yang kurang tanggap.

Acara pun selesai dan karena anak-anak tidak mendapatkan kategori karya terbaik. Maka kami pulang 30 menit lebih awal karena udah pada kelaparan 😆

Rupanya ekspektasi saya dan suami sama, kami kira ada miniatur lego yang dipajang di ruangan. Rupanya tidak. Lego-lego hanya untuk peserta lomba yang dibentangkan di sepanjang karpet. Dapat goodie bag mini seperti event Lego World Utrecht? (Ekspektasi si sulung) tentu saja tidak hehe..

Setidaknya saya punya bayangan dan punya ekspektasi tidak terlalu tinggi untuk event-event lego di Indonesia. Karena lego masih termasuk barang mahal, maka wajar saja event-eventnya juga tidak murah. Oh iya bagi teman-teman yang ingin tahu event lego bisa bergabung di komunitas Lego Indonesia (KLI) di facebook, atau instagram @kli.id

Dari lego anak-anak belajar tentang kreatifitas, karya, dan imajinasi. Barangkali dari langkah kecil akan menumbuhkan karya besar masa depan. Semangat berkarya anak-anak bangsa 🤗

Jakarta, Agustus 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *