Our Story

Cerita Masa Kecil BJ Habibie, Al Quran Bacaan Pertamanya

Cintanya pada Ilahi begitu menyeluruh
Cintanya pada negeri tak pernah luruh Cintanya pada generasi muda selalu berkayuh
Rendah hati, humble, semangat membara terus bergemuruh

Sosok panutan berbagai zaman, yang karya-karyanya tak pernah redam, menginspirasi berbagai kalangan.

Beliaulah Baharudin Jusuf Habibie.

Kini, bumi pertiwi sedang berduka. Anak muda kehilangan seorang ilmuwan. Generasi kecil kehilangan sosok panutan. Indonesia kehilangan permata indah, bapak teAknologi yang diakui dunia.

Mungkin duka kita tak akan terpulihkan dan sosok BJ Habibie mungkin tak pernah tergantikan.

Selamat berbahagia atas segala amal jariyah yang ditunai selama di Bumi, Eyang. Semoga Allah tempatkan pada Surga tertinggiNya.

Baru Kali ini saya merasakan pilu dan sedih atas kepergian seorang pahlawan, putra terbaik bangsa.

Padahal berpapasan saja tidak pernah, menghadiri acara beliau saja tidak pernah, apalagi berinteraksi. Walaupun ada rasa penyesalan kenapa dulu kami tidak datang ketika Pak Habibie hadir di sebuah acara kemahasiswaan di Denhaag. Tapi kehadiran beliau di tengah-tengah negeri, begitu berkesan dan mendalam.

Mungkin seperti inilah pedihnya kehilangan pemimpin yang dicintai rakyatnya. Tidak terbayang, bagaimana kesedihan para sahabat ketika kehilangan Rasulullah. Bumi seketika kelam, ditinggal orang yang paling mereka cintai. Sosok yang selalu dirindui untuk berjumpa setiap hari. Sosok yang lebih mereka cintai dari ayah, ibu, anak, dan semua manusia.

Entah sejak kapan saya mengagumi BJ Habibie. Saya memang bukan sejak kecil yang bercita-cita ingin jadi engineer atau professor seperti beliau. Tetapi yang paling berkesan mungkin setelah saya berumah tangga. Terlebih ketika kepergian Bu Ainun menghadap Sang Maha. Bagaimana kiprah dalam rumah tangganya, ini yang jadi perenungan bagi saya.

Bagaimana pilu dan gamangnya pak Habibie saat kehilangan bu Ainun. Saya rasa bu Ainun tidak sekedar cinta sejati yang disebut dalam lirik sebuah lagu. Lebih dari itu, pasangan yang bersama-sama berjuang karena Allah.

Bu Ainun pernah mengatakan bahwa pak Habibie adalah manusia tersulit di muka bumi. Tetapi sekiranya saya mati dan sempat hidup kembali, saya akan mencari Habibie lagi,” kenangnya menirukan ucapan Habibie waktu itu.

Pak Habibie kiprahnya bukan hanya sebagai Presiden RI ke-3, beliau seorang jenius asal Indonesia yang berhasil mengabadikan namanya di dunia keilmuwan. Kehebatan beliau tentunya tak lepas dari kehebatan dan kesolihan orangtua. Lantas disiram dan dipupuk oleh wanita hebat disisinya. Bagaimana sang ayah menumbuhkan iman padanya. Sang ayah tak kurang dari 2 juz membaca Alquran dalam sehari. Sedangkan sang ibu adalah seorang ahli ta’lim tak pernah terlewat setiap pekannya kecuali khatam Alquran. Sehingga bacaan pertama pak Habibie ketika usia 3 tahun adalah Alquran. Pak Habibie ditinggalkan sang ayah ketika berusia 14 tahun, meninggal ketika shalat dihadapan Habibie sendiri. Lalu menggantikan peran ayah sebagai imam ketika itu. Lantas kalau bukan karena iman yang tumbuh, karena apalagi?

Habibie dari kecil sudah dibesarkan dengan lingkungan keislaman yang kuat. Ketika berada di lingkungan yang berbeda, Habibie kecil tak pernah goyah dengan keislamannya. Tak heran seorang Habibie yang merantau ke negara minoritas Islam, imannya tak akan goyah. Malam-malam panjangnya beliau habiskan bersama Alquran, lambungnya jauh dari tempat tidur.

Dengan nada khasnya Pak Habibie menjawab, “saya akan habiskan waktu saya membuat pesawat R80 agar Indonesia punya pesawat sendiri. Sebagian waktu lainnya saya gunakan dengan membaca Aquran sebanyak-banyaknya”.

Sehebat apapun ilmu parenting yang kita punya, tak ada yang lebih hebat dari pertolongan Allah semata. Sehebat apapun metode yang kita terapkan untuk mendidik anak-anak, kemudahan itu hanya datang dari Sang Maha. Maka tundukkanlah dirimu, berserah dirilah hanya pada Allah semata dan maksimalkan ikhtiar mendampingi anak-anak harapan bangsa. Kalau doa adalah sebaik-baik senjata orangtua.

Maka, wahai Ayah Ibu nasib anakmu tak hanya ditentukan sekolah tapi guru pertamanya yaitu orangtua.

Wahai Ayah Ibu, sehebat apapun anak tanpa kehadiranmu mereka bukanlah apa-apa

Wahai Ayah Ibu, secanggih apapun media pembelajaran tetapi peranmu tak kan pernah tergantikan.

Pak Habibie dan bu Ainun ditakdirkan hidup bersama, membangun visi rumah tangga, melambung ke udara menuntaskan perkara-kara tak sederhana, tidaklah kita dapat mengambil hikmah kalau keduanya memang pantas bersama.

Habibie muda pernah mengenal gadis Polandia, namun Allah takdirkan bersama Bu Ainun wanita hebat yang mengajinya 2 juz/sehari. Seorang wanita yang mengerahkan segala daya dan ikhtiyarnya mendampingi suami. Hingga dipenghujung usianya, hanya ada karya dan amal jariyah yang tertanam.

Maka, wahai anak muda tak usah risau perkara jodoh. Tugasmu berkaryalah tanpa mengenal lelah, berbuat baiklah tanpa mengenal pamrih. Jodoh itu seperti rumus matematika, ada 2 insan bertemu dengan totalitas kualitas diri yang sama. Maka, pantaskanlah dirimu dihadapanNya, karena perkara jodoh dan kematian itu pasti.

Jakarta, 14 September 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *